Serangan Jakarta Memicu Bayang-Bayang Jihad di Asia

Serangan teroris Jakarta Asia

Serangan teroris Kamis di Jakarta meningkatkan kekhawatiran Asia. ISIS berusaha membangun kekhalifahan di Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar, menurut dugaan otoritas.

Peristiwa di ibu kota menewaskan dua korban dan lima pelaku. Otoritas menyerukan kerja sama Asia melawan ekstremisme Islam.

Peristiwa itu terjadi setelah penangkapan 13 pria di Jawa pada Desember. Salah satunya seorang Uighur China memakai rompi bom bunuh diri. Menurut pihak berwenang, jumlah warga China yang datang ke Indonesia untuk berjihad semakin bertambah.

Rute bagi Militan

Menurut Biveer Singh dari Rajaratnam School of International Studies, Indonesia berpotensi menjadi jalur transit utama. Militan menggunakan Indonesia sebagai rute untuk bergabung dengan ISIS, menurut dugaan pihak berwenang.

Singh menjelaskan bahwa sebagian besar darinya sebenarnya sedang dalam perjalanan, baik menuju Suriah dan Irak maupun kembali ke Asia Tenggara. Beberapa laporan juga menunjukkan bahwa setelah kembali dari Suriah dan Irak, mereka kembali melakukan perjalanan menuju Asia Tenggara.

Seorang pria Uighur asal China ditangkap pada 23 Desember di sebuah rumah di pinggiran Jakarta. Aparat meyakini ia bersama sejumlah orang lain sedang menanggapi seruan Santoso, yang bersembunyi di hutan-hutan Indonesia timur, untuk bergabung dengan ISIS.

Analis terorisme Concord Consulting, Todd Elliott, mengatakan bahwa propaganda ISIS berpotensi membuat warga Uighur keluar dari provinsi Xinjiang di barat China.

Elliott mengatakan bahwa penyebaran propaganda ISIS juga menjangkau Xinjiang, dan ia menilai hal ini mendorong sejumlah warga Uighur dari wilayah tersebut mencari negara lain untuk berjihad.

Tindakan Keras China

Dalam beberapa tahun terakhir, protes dan kekerasan di Xinjiang menelan ratusan korban jiwa. Banyak yang berpendapat penindasan agama dan genosida budaya telah mendorong warga Uighur meninggalkan China. Pemerintah China mengklaim penindakan di wilayah ini sebagai langkah memerangi terorisme.

Beberapa kalangan mengatakan tindakan ini merupakan strategi tersembunyi guna menekan serta memaksakan asimilasi terhadap etnis minoritas Uighur.

Peristiwa serangan di Jakarta minggu ini, ditambah penangkapan seorang Uighur dari China bulan lalu, diyakini akan memperkuat klaim pemerintah China mengenai meningkatnya ancaman terorisme di dalam dan luar negeri.

Wang Dong, profesor Hubungan Internasional di Universitas Peking, menyatakan bahwa ancaman bersama ini dapat mempererat hubungan Indonesia dan China.

Menurut Wang, situasi ini mencerminkan adanya kolaborasi nyata antara Indonesia dan China dalam melawan terorisme, karena kedua negara memiliki kepedulian yang sama terhadap ancaman ini.

Beberapa serangan teror pernah terjadi di Indonesia, termasuk tragedi bom Bali tahun 2002 yang menelan 202 korban jiwa, sebagian besar wisatawan mancanegara.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *