Seorang pejabat mengatakan pada Minggu Indonesia akan memangkas program makanan bergizi gratis hingga Rp40 triliun. Langkah ini merupakan penghematan awal untuk merespons tekanan harga akibat konflik di Timur Tengah.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Sudaryati Deyang mengatakan mulai 31 Maret. Badan akan membagikan makanan untuk siswa lima hari dalam seminggu. Badan memperkirakan langkah ini akan menghemat sekitar Rp40 triliun.
Ia menyebut kebijakan ini upaya pemerintah melindungi negara dari dampak perang di Timur Tengah. Perang itu mendorong kenaikan harga minyak global.
Dalam pernyataan Minggu, badan pengawas menyatakan akan menyesuaikan jadwal pembagian makanan menjadi lima hari sekolah per minggu. Pemerintah mengarahkan kebijakan ini kepada para siswa di seluruh negeri.
Kepala lembaga Dadan Hindayana mengatakan penerima di wilayah terpencil tetap menerima pengiriman makanan enam hari seminggu. Hal yang sama berlaku untuk daerah dengan tingkat stunting tinggi.
Dadan mengatakan pemberian makanan bergizi gratis pada hari Sabtu di wilayah berisiko stunting adalah langkah strategis. Langkah itu bertujuan menjamin anak-anak menerima asupan nutrisi harian yang memadai.
Dadan menyatakan badan gizi akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah agar program ini mencapai sasaran yang pemerintah tetapkan.
Prasetyo Hadi, juru bicara Presiden Prabowo Subianto, menyatakan sebelumnya bahwa pemerintah berupaya mengalokasikan Rp80 triliun untuk melindungi perekonomian dari dampak krisis Timur Tengah, namun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Prabowo sebelumnya menegaskan bahwa program makanan bergizi gratis, yang pemerintah anggarkan Rp335 triliun tahun ini, tidak akan pemerintah ubah karena pemerintah masih memiliki berbagai langkah penghematan lain untuk menangani tekanan harga.
Pemerintah mempertimbangkan memungkinkan pekerja bekerja dari rumah satu hari setiap minggu untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.
Program makanan bergizi gratis mendapat kecaman setelah serangkaian kasus keracunan sejak diluncurkan tahun lalu; para pengkritik mendesak penghentian sementara program ini karena masalah kebersihan.
Badan ini menyatakan inisiatif tersebut telah menjangkau 61 juta orang, dengan penerima utama berupa anak-anak, balita serta ibu hamil dan menyusui.