Nestapa Anak Ahmadiyah dalam Surat untuk Jokowi

Beberapa anak Ahmadiyah di pengungsian Wisma Transito, Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengungkapkan kepedihan mereka lewat surat-surat kepada Presiden Joko Widodo karena telah tinggal di tempat penampungan selama sembilan tahun. Karena belum mengetahui alamat tujuan pengiriman surat, anak-anak ini membacakan surat-surat mereka kepada Jokowi di depan para jurnalis dari beberapa organisasi media di halaman depan Wisma Transito pada Kamis. Mereka berharap dapat meneruskan surat-surat ini kepada Jokowi agar pemerintahannya memberi perhatian lebih besar terhadap kondisi mereka. Barahim, siswa SD berusia 8 tahun, membacakan surat singkatnya untuk Jokowi bersama teman-temannya.

Dalam surat itu, ia menyampaikan bahwa anak-anak di Transito ingin pulang dan meminta Jokowi mendengarkan suaranya. Barahim merupakan satu dari 24 anak yang dilahirkan di Wisma Transito sejak kelompok Ahmadiyah mulai mengungsi dan mencari perlindungan di tempat tersebut pada awal 2006. Sebanyak 33 keluarga Ahmadiyah yang berjumlah 118 orang telah memasuki tahun kesembilan tinggal di Wisma Transito. Mereka mengungsi ke tempat tersebut setelah pada Februari 2006 puluhan keluarga Ahmadiyah diusir warga setempat dari rumah mereka di Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Mengekspresikan Perasaan

Sebagian dari 24 anak yang lahir di Transito kini telah duduk di bangku Sekolah Dasar. Mereka sudah mampu membaca dan menulis, lalu mengekspresikan perasaan mereka melalui sebuah buku kecil yang dipajang di dinding Wisma Transito. Abdullah, ayah Barahim yang berusia 45 tahun, mengatakan bahwa tahun ini menjadi tahun kesembilan mereka tinggal di tempat pengungsian. Untuk kesembilan kalinya pula, mereka akan menjalani bulan suci Ramadan di sana. Ia menegaskan bahwa mereka semua ingin pulang dan menjalani kehidupan normal seperti orang lain.

Menurutnya, menjalani kehidupan sebagai pengungsi merupakan hal yang berat, terlebih karena mereka tidak memperoleh bantuan pemerintah meskipun berstatus sebagai pengungsi. “Demi menghidupi keempat anak saya, saya tidak punya pilihan selain bekerja. Sebelumnya saya bekerja di sektor konstruksi, tetapi minimnya proyek saat ini membuat saya harus mencari penghasilan dengan menjadi pemulung,” tuturnya. Munikah, perempuan berusia 40 tahun, juga memiliki pandangan yang sama. “Harapan kami tetap sama, yaitu bisa kembali pulang. Di rumah sendiri, kami bisa lebih leluasa membangun ekonomi keluarga dan membesarkan anak-anak. Namun, untuk saat ini kami harus tetap bersabar, dan kemungkinan besar kembali menjalani ibadah Ramadan di tempat pengungsian,” katanya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *