Krisis: Minyak Naik, Rupiah Ambruk, Biaya Hidup Melonjak

Kenaikan harga minyak kembali

Kenaikan harga minyak kembali menembus US$100 per barel. Pelemahan rupiah menyertai kondisi ini. Lonjakan biaya industri memperparah beban pada perekonomian di tengah memanasnya ketegangan global.

Josua Pardede adalah kepala ekonom Bank Permata. Dia mengatakan tekanan merambat melalui saluran energi dan keuangan. Transmisi terjadi terutama lewat harga minyak dan nilai tukar. Kembalinya harga minyak di atas $100 per barel menambah ketidakpastian, sementara rupiah baru-baru ini melemah melewati Rp17.300 per dolar.

Ia menegaskan bahwa faktor domestik tidak sepenuhnya menyebabkan pelemahan ini.

Dia mengatakan rupiah tidak melemah karena fundamental. Menurut estimasi, nilai wajarnya masih di bawah Rp17.000. Oleh karena itu, pelemahan saat ini lebih karena sentimen daripada faktor fundamental. Ujarannya dia sampaikan dalam diskusi The Forum yang B Universe selenggarakan pada Selasa.

Perpaduan kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah memicu inflasi impor. Inflasi impor terjadi ketika kenaikan biaya global memengaruhi harga domestik.

Saat harga energi naik bersamaan dengan pelemahan rupiah, terjadi guncangan ganda yang mendorong kenaikan harga barang—khususnya yang bergantung pada bahan impor—ke seluruh perekonomian domestik, ujar Josua.

Dampak sudah mulai dirasakan di sektor industri, di mana energi menyumbang sekitar 15% dari biaya input di banyak pabrik, sehingga sektor-sektor tersebut sangat rentan terhadap kenaikan harga global. Industri petrokimia paling terdampak karena kenaikan harga turunan minyak mentah seperti nafta mendorong biaya plastik dan kemasan—komponen utama bagi berbagai industri konsumen.

Tanda-tanda Kenaikan

Ia mengatakan sudah ada tanda-tanda kenaikan biaya produksi; misalnya, harga plastik naik sehingga memengaruhi biaya kemasan dan mulai mendorong kenaikan harga makanan ringan di toko.

Christina Ruth Elisabeth, ekonom perdagangan internasional di Universitas Indonesia, menyatakan guncangan ini turut mengganggu rantai pasokan global dan mendorong kenaikan harga pada berbagai komoditas. Ia menyoroti lonjakan tajam biaya energi dan input—termasuk minyak, gas dan pupuk—yang berpotensi merambat ke banyak sektor, antara lain pertanian.

Dia memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, dunia berisiko mengalami stagflasi—pertumbuhan melambat sementara inflasi terus naik.

Dalam kebijakan, pemerintah berupaya meredam dampak tersebut, antara lain dengan mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi untuk melindungi konsumsi rumah tangga. Josua menyatakan pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk menyerap kenaikan biaya energi berkat cadangan anggaran yang tersisa.

“Pemerintah menyatakan harga bahan bakar bersubsidi masih bisa dipertahankan berkat adanya penyangga fiskal yang mampu menanggung beban subsidi tambahan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa jika tekanan saat ini berlanjut, risiko berpotensi meningkat.

Josua mengatakan bahwa jika harga minyak tetap tinggi dan rupiah terus melemah, biaya produksi akan naik lagi, menekan margin perusahaan dan berpotensi memengaruhi keputusan investasi.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *