Keterlibatan TNI di Ranah Sipil Picu Kekhawatiran Demokrasi

20 tahun lengsernya Soeharto

Sekitar 20 tahun setelah lengsernya Soeharto yang menyebabkan militer tersingkir dari ranah politik, kini tentara mulai kembali menjalankan fungsi-fungsi sipil. Perkembangan ini berpotensi mengancam kemajuan demokrasi dan bisa berdampak negatif bagi stabilitas kawasan ASEAN yang masih rentan.

Negara kepulauan yang besar ini termasuk dalam jajaran demokrasi dengan populasi terpadat di dunia, meskipun usianya masih tergolong muda. Rezim otoriter Soeharto yang berlangsung 32 tahun berakhir setelah gelombang demonstrasi pada 1998. Banyak warga menyambut positif langkah TNI menarik diri dari ranah politik.

Meski beberapa tahun berlalu, sejumlah analis dan mantan jenderal menilai fungsi militer belum sepenuhnya pemerintah akui. Mereka mengatakan perwira dan prajurit belum sepenuhnya menerima peran militer dalam pertahanan nasional. Mereka mengatakan perwira dan prajurit belum sepenuhnya menerima peran itu.

Saat ini militer mulai terlibat di bidang-bidang di luar urusan pertahanan. Keterlibatan itu menyusul keputusan Presiden Joko Widodo yang kurang berpengalaman. Presiden memilih mengandalkan militer untuk memperkuat posisinya menghadapi kepolisian yang berpengaruh namun tidak selalu patuh. Keterkaitan partai politik dengan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri juga menjadi faktor.

Sebagai putri Soekarno, Megawati menempatkan diri sebagai figur berpengaruh di balik pemerintahan Jokowi. Ia mengerahkan dukungan partainya selama pemilihan umum tahun lalu.

Militer telah menjalin kerja sama dengan sejumlah kementerian dan perusahaan milik negara. Kerja sama itu membuat militer terlibat dalam berbagai sektor. Mereka ikut mengamankan bandara, terminal bus, dan stasiun kereta. Militer juga memberikan bantuan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas panen mereka.

Sejumlah pejabat mengusulkan melibatkan militer dalam lembaga pemberantasan korupsi. Usulan itu muncul sebagai respons terhadap upaya kepolisian dan sekutu politiknya yang melemahkan institusi efektif serta masyarakat segani.

Baru-baru ini presiden mengangkat seorang jenderal Angkatan Darat sebagai pemimpin tertinggi seluruh matra militer. Langkah itu mengabaikan rencana reformasi yang sebelumnya bertujuan merotasi kepemimpinan Angkatan Laut, Udara, dan Darat.

Dukungan Militer

Menurut Vedi Hadiz, ahli Indonesia dari Murdoch University di Perth, keputusan itu tampak menggalang dukungan militer. Hal ini terjadi karena presiden menghadapi berbagai tantangan dari pendukung dan oposisi. Ia menambahkan bahwa hanya militer yang memiliki kemampuan untuk memberi tekanan terhadap kepolisian.

Stabilitas demokrasi menjadi semakin krusial ketika para pemimpin otoriter di China menantang dominasi Amerika Serikat di kawasan. Sementara itu, hubungan AS dan Thailand, sebagai salah satu sekutu utama di wilayah, mengalami penurunan kehangatan.

Kawasan yang sekitar 620 juta orang huni ini memiliki sejarah panjang di bawah kepemimpinan otokrat. Indonesia bukan satu-satunya negara yang berupaya mempertahankan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi yang kompleks. Negara-negara di kawasan juga berusaha memenuhi tuntutan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tahun lalu militer Thailand merebut kekuasaan dari pemerintahan sipil yang sering tidak stabil dan belum menetapkan jadwal pemilu jelas. Di Myanmar, militer terus mendominasi sistem demokrasi yang masih dalam tahap awal. Di Malaysia, kehancuran koalisi oposisi mengurangi kemungkinan pergantian pemerintahan setelah puluhan tahun dikuasai satu partai.

Agus Widjojo, pensiunan jenderal yang turut berperan dalam reformasi militer, menyatakan bahwa meningkatnya peran militer berisiko menghambat kemajuan proses transisi menuju sistem demokrasi.

“Apabila situasi ini merupakan bentuk kemunduran dan reaksi balik, khususnya jika diprakarsai oleh militer, maka dampaknya bisa menjalar secara luas dan berkelanjutan.”

Agus menilai adanya kelemahan di kedua pihak: Presiden Jokowi yang tampak kurang yakin tanpa dukungan militer, serta kalangan militer yang masih mempertahankan pandangan lama mengenai perannya yang luas dalam pemerintahan.

Awal bulan ini, Presiden Jokowi, selaku panglima tertinggi angkatan bersenjata, memicu kontroversi setelah tertangkap kamera di istana kepresidenan mengenakan seragam militer. Pilihan tersebut dianggap tidak mencerminkan sikap netral sebagai pemimpin yang seharusnya mewakili ketiga matra militer secara setara.

Ia menyatakan bahwa penunjukan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai pemimpin angkatan bersenjata didasari oleh pertimbangan kondisi geopolitik dan geostrategis yang sedang berlangsung saat ini.

Mengalami Perbaikan

Walaupun sebelumnya dikenal dengan reputasi keras, citra militer telah mengalami perbaikan sejak era Soeharto berakhir, saat menyerahkan tanggung jawab atas keamanan dalam negeri. Namun, masih terdapat sejumlah aspek yang belum sepenuhnya jelas atau transparan.

Institute for Policy Analysis of Conflict menyebutkan bahwa militer memperoleh keuntungan dari perbandingan yang menguntungkan dengan citra negatif kepolisian, yang semakin merosot tahun ini akibat tindakannya terhadap lembaga antikorupsi. Kondisi ini memberi ruang bagi militer untuk membangun citra sebagai institusi yang jujur, peduli terhadap masyarakat, dan setia kepada presiden.

Sejak dipisahkan dari militer pasca-era Soeharto, kepolisian berkembang menjadi institusi yang berpengaruh, namun juga menjadi salah satu yang paling tidak disukai publik. Rendahnya tingkat gaji mendorong praktik korupsi, sementara minimnya profesionalisme turut memperparah ketegangan dalam konflik antar kelompok masyarakat.

Sidney Jones, direktur lembaga tersebut, menegaskan bahwa militer secara nyata telah mulai memasuki wilayah sipil, dan hal itu tidak bisa disangkal.

Namun, lembaga tersebut meragukan bahwa TNI memiliki niat untuk kembali mendominasi arena politik. Sebaliknya, fokus TNI lebih mengarah pada pengambilalihan tugas-tugas keamanan dalam negeri, seperti penanggulangan terorisme yang sebelumnya menjadi tanggung jawab kepolisian, serta mencari peluang tambahan untuk memperoleh dana di luar alokasi resmi dari anggaran negara.

Menurut Hadiz, potensi untuk memperoleh keuntungan finansial telah merambah ke level lokal, di mana militer dan kepolisian saling bersaing membentuk kemitraan yang menguntungkan dengan kelompok-kelompok kriminal, termasuk dalam aktivitas perdagangan narkotika dan berbagai kegiatan ilegal lainnya.

Ia menyatakan bahwa pengangkatan Gatot sebagai kepala militer oleh Presiden Jokowi mencerminkan adanya dukungan tersirat dari presiden terhadap institusi militer dalam dinamika persaingan yang sedang berlangsung.

Struktur Kekuasaan

Hadiz menyatakan bahwa ketika militer mencoba menguji batas perluasan kekuasaannya—terutama jika mulai terlibat dengan kepolisian dalam isu pemberantasan korupsi—mereka akan berhadapan dengan perlawanan dari para aktivis dan politisi yang selama ini mendapatkan keuntungan dari sistem demokrasi, di mana militer tidak menjadi bagian utama dalam struktur kekuasaan.

“Meski demikian, para politisi tersebut cenderung secara spontan mencari dukungan militer saat menghadapi situasi sulit,” ujarnya.

Visited 11 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *