Kenaikan BBM Picu Kekhawatiran Inflasi & Ketimpangan Sosial

Pemerintah menaikkan harga bahan bakar lebih dari 30% untuk menghemat anggaran negara Rp100 triliun pada 2015. Harga bahan bakar naik Rp2.000 per liter, sehingga bensin kini pemerintah jual Rp8.500 per liter dan solar Rp7.500 per liter. Harga bahan bakar bersubsidi termasuk salah satu yang paling rendah di dunia. Keputusan yang menuai kontroversi ini memunculkan sejumlah aksi demonstrasi berskala kecil serta menyebabkan antrean panjang di SPBU. Kenaikan harga sebelumnya memicu demonstrasi besar. Sejumlah pemuda bentrok dengan polisi di lokasi unjuk rasa menjelang pengumuman resmi Senin. Presiden Joko Widodo menjabat bulan lalu. Ia mengatakan penyesuaian harga bertujuan memperkuat fiskal negara. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Namun anggaran itu banyak terserap subsidi bahan bakar, katanya kepada media Senin.

Subsidi bahan bakar yang mencapai Rp300 triliun menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya defisit dalam anggaran negara. Selain itu, ketergantungan pada impor bahan bakar turut memperburuk ketidakseimbangan dalam neraca perdagangan nasional. Pada kuartal ketiga, ekonomi tumbuh 5,01% daripada periode sama tahun sebelumnya, menandai pertumbuhan paling lambat dalam lima tahun terakhir. Lonjakan harga bahan bakar akan mendorong inflasi hingga 7,3% tahun ini, dan dampaknya kemungkinan berlanjut hingga tahun depan. Kenaikan harga bahan bakar pada pertengahan tahun 2013 menyebabkan tingkat inflasi melonjak tajam hingga mendekati angka 10%. Sejumlah ekonom memperkirakan bahwa bank sentral kemungkinan akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga bulan ini sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang meningkat. Sejak bulan November tahun lalu, Bank Indonesia belum melakukan penyesuaian terhadap suku bunga acuan. Kenaikan harga bahan bakar tidak mengejutkan karena Presiden Joko Widodo telah beberapa kali menyampaikan wacana tersebut sejak masa kampanye.

Tanggapan Publik

Tanggapan publik terhadap kenaikan harga bahan bakar beragam; sebagian menerima kebijakan karena dianggap mendukung layanan kesehatan dan pendidikan, sementara yang lain meragukan keputusan itu karena dilakukan saat harga minyak dunia menurun. Sejumlah unjuk rasa berlangsung di Jakarta dan kota lain meski skalanya lebih kecil dibanding demonstrasi sebelumnya; kebijakan ini dinilai kurang populer dan sebelumnya pernah memicu gelombang protes besar.

Situasi ini dianggap sebagai ujian bagi kepemimpinan Joko Widodo. Beberapa analis menilai keputusan tersebut menunjukkan bahwa presiden yang populer itu tetap konsisten dengan citranya sebagai pemimpin yang tegas, berani, dan langsung dalam mengambil kebijakan.

Visited 28 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *