Kebakaran Hutan Mempercepat Kepunahan Orangutan

Satu-satunya populasi orangutan

Satu-satunya populasi orangutan liar di dunia kini menghadapi kebakaran hutan berkepanjangan di Kalimantan dan Sumatra. Penduduk lokal dan peneliti berupaya keras melindungi sekitar 50.000 orangutan yang tersisa di kedua pulau itu.

Kebakaran hutan terjadi setiap musim kemarau karena praktik pembakaran lahan oleh petani, pemilik perkebunan, dan pihak lain. Mereka membuka lahan atau menyelesaikan sengketa wilayah dengan membakar. Namun pola cuaca El Nino tahun ini memperparah kondisi. Pengelolaan lahan yang mengeringkan tanah dan merusak hamparan hutan rawa gambut memperburuk situasi. Akibatnya musim kebakaran kali ini menjadi bencana ekologis besar. Lebih dari 2 juta hektare hutan telah musnah, mencakup wilayah Sumatra dan sebagian besar Kalimantan.

Tim peneliti berangkat dari Palangkaraya, Kalimantan, untuk mencari dan memadamkan titik api baru. Sebagian petugas patroli menggunakan jalur sungai, sementara lainnya masuk ke dalam hutan. Di hutan, pemadaman sering memerlukan pengeboran lebih dari 20 meter untuk mencapai sumber air. Tim pemadam melakukan pekerjaan berat dan melelahkan di tengah teriknya cuaca tropis. Kabut jingga yang terus mengancam menambah risiko bagi tim pemadam.

Pada Oktober 2015, Simon Husson, Direktur Orangutan Tropical Peatland Project Inggris, menerbangkan drone di pusat rehabilitasi orangutan dekat Palangkaraya. “Pengamatan dari udara sangat membantu,” ujarnya. “Di darat, kami terjebak dalam asap pekat, dan kabut asap membatasi jarak pandang secara signifikan.”

Saat drone melintas di atas kabut asap, kameranya menangkap titik api baru yang menyala jauh di dalam hutan. Api itu cukup kecil sehingga tidak membahayakan orangutan yatim piatu dan yang terluka. Mereka sedang petugas persiapkan untuk mereka lepasliarkan kembali ke alam. “Namun, Anda tidak bisa berhenti memikirkan orangutan liar yang berada di luar sana,” ujar Husson.

Menghentikan Penelitian

Husson dan timnya untuk sementara menghentikan penelitian rutin di Hutan Sabangau seluas 6.000 km²—habitat orangutan, siamang berjanggut putih Kalimantan yang langka, beruang madu dan trenggiling—untuk membantu tim pemadam kebakaran lokal dengan dukungan dana dan tenaga. Ia mengatakan penelitian saat ini bukan hanya tidak relevan tetapi juga mustahil karena asap menghalangi pengamatan orangutan di kanopi.

Kebakaran lahan gambut menghancurkan populasi orangutan terutama dengan menghancurkan habitat krusialnya, tetapi hewan-hewan ini juga rentan terhadap masalah pernapasan yang sama seperti manusia akibat asap dan kabut asap. Para ilmuwan memperkirakan populasi kera arboreal yang karismatik ini menurun 78% dari lebih 230.000 ekor seabad lalu, sehingga kini terancam punah di seluruh wilayah jelajahnya. “Lebih dari separuh orangutan dunia hidup di hutan rawa gambut, dan setiap lahan gambut di Kalimantan saat ini sedang terbakar, di suatu tempat,” kata Husson.

Menurut Susan Page, seorang ahli geografi dari Universitas Leicester di Inggris yang meneliti ekosistem gambut di Asia Tenggara, hutan gambut yang masih alami sebenarnya memiliki ketahanan tinggi terhadap api karena kondisi rawa yang basah membuatnya sulit terbakar. Sayangnya, sebagian besar lahan gambut di Kalimantan telah mengalami gangguan. Pada tahun 1996, Presiden Soeharto mencanangkan Mega Proyek Beras yang bertujuan mengubah satu juta hektare lahan gambut di Kalimantan menjadi area persawahan. Untuk merealisasikan proyek tersebut, lahan gambut harus dikeringkan. Walaupun proyek tersebut tidak menghasilkan panen padi, kanal-kanal yang dibuat di kawasan hutan terus mengalirkan air keluar dari gambut hingga kini.

Perubahan Iklim

Kebakaran hutan turut memberikan dampak signifikan terhadap perubahan iklim. Secara alami, hutan gambut di Kalimantan berfungsi sebagai penyimpan karbon yang sangat efektif, menampung sejumlah besar bahan organik dalam lapisan tumbuhan yang tertekan hingga kedalaman lebih dari 15 meter. Namun, saat lahan gambut terbakar, karbon yang tersimpan selama bertahun-tahun dilepaskan ke udara. Pada tahun ini saja, kebakaran telah menghasilkan lebih dari 1,5 miliar ton karbon dioksida, melebihi total emisi tahunan Jepang. Sejak bulan September 2015, jumlah karbon yang dilepaskan akibat kebakaran telah melampaui emisi harian Amerika Serikat selama setidaknya 38 hari, sehingga seorang ilmuwan konservasi menyebut peristiwa ini sebagai bencana lingkungan paling besar di abad ke-21.

Kemungkinan besar kondisi ini tidak akan membaik tanpa turunnya hujan dalam jangka waktu lama atau adanya langkah nyata dari pemerintah. Jika kekeringan yang dipicu oleh El Nino terus berlanjut sesuai dengan prediksi sejumlah model iklim, maka musim kebakaran tahun ini bisa berlanjut hingga memasuki tahun 2016.

Page menyatakan bahwa kebakaran besar baru muncul setelah adanya aktivitas pembangunan dan perubahan tata guna lahan secara masif. Ia menekankan bahwa penyelesaian masalah ini memerlukan dukungan politik yang tegas serta investasi yang signifikan.

Visited 9 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *