Jokowi dan ASEAN: Kemesraan yang Mulai Pudar?

Joko Widodo menimbulkan kekhawatiran

Hanya dua bulan setelah menjabat, Presiden Joko Widodo mulai menimbulkan kekhawatiran melalui kebijakan luar negerinya. Kekhawatiran ini terkait kemungkinan Indonesia mengalihkan fokus dari ASEAN, tepat saat organisasi mempersiapkan integrasi regional pada 2015.

Pernyataan Jokowi dan langkah pemerintah menunjukkan kebijakan luar negeri yang memprioritaskan hubungan bilateral dan kepentingan domestik daripada pendekatan SBY. Meskipun keterlibatan di ASEAN tampak menurun, peran negara ini di dalam organisasi tersebut tetap memiliki arti penting.

“Sebelumnya, kami menyebut ASEAN sebagai pijakan dalam kebijakan luar negeri kami. Kami menjadikannya fondasi utama arah diplomasi luar negeri,” ujar Rizal Sukma, penasihat Presiden Joko Widodo, dalam forum publik di AS.

Rizal menjelaskan bahwa pemerintahan Jokowi tetap menjalankan peran bebas aktif di kancah internasional, tetapi mengubah pendekatan kebijakan luar negeri. Pemerintah memfokuskan upaya pada penguatan hubungan bilateral, termasuk dengan negara di luar Asia-Pasifik. Mereka merancang kebijakan ini untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Rizal mengungkapkan bahwa arah kebijakan luar negeri Presiden Jokowi akan lebih menitikberatkan pada pengembangan hubungan dengan kawasan di luar Asia-Pasifik. Ia menyampaikan bahwa visi maritim Jokowi mencakup Pasifik dan Samudra Hindia, melampaui konsep Indo-Pasifik yang SBY promosikan.

Menyesuaikan visi global Jokowi, pemerintah kemungkinan memprioritaskan hubungan erat dengan India dan negara-negara Teluk.

Dalam konferensi USINDO, Rizal menyatakan bahwa cara negara memetakan dunia memengaruhi tindakan mereka di kancah internasional.

Indikasi menunjukkan kebijakan luar negeri Jokowi lebih fokus pada kepentingan domestik dan hubungan bilateral. Presiden menegaskan tidak akan mencurahkan banyak waktu untuk hubungan diplomatik yang kurang bermanfaat. Pendekatan ini kontras dengan era SBY yang menganut prinsip “seribu teman, nol musuh”.

“Jika tidak memberikan manfaat, saya tidak akan melakukannya. Kita tetap bisa bertemu, tetapi tidak terlalu sering,” ujar Presiden Jokowi usai menyelesaikan kunjungan luar negeri perdananya bulan lalu.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Jokowi memprioritaskan kepentingan rakyat dan memperkuat hubungan bilateral, bukan pendekatan multilateral.

Penguatan Hubungan

Penguatan hubungan bilateral dan fokus kepentingan nasional bukan ciri eksklusif Jokowi, tetapi minimnya kerja sama regional memicu kekhawatiran. Sensitivitas terhadap potensi kebangkitan nasionalisme memicu kekhawatiran, terpengaruh oleh sejarah dan ketegangan regional masa lalu.

Bantarto Bandoro, pakar hubungan internasional Universitas Pertahanan, menyatakan masyarakat menilai kebijakan luar negeri Jokowi mengesampingkan dimensi lain. Ia menegaskan bahwa hal semacam ini tidak boleh terjadi lagi saat ini.

Dalam diskusi AEC bulan lalu, Presiden Jokowi menegaskan perlindungan kepentingan nasional harus menjadi prioritas utama. Menanggapi hal ini, The Jakarta Post meminta Jokowi menjelaskan lebih jelas kepada negara ASEAN, bukan sekadar retorika meredam sentimen nasionalis.

Indonesia berperan penting mendorong kemajuan ASEAN, tetapi pertumbuhan ekonomi lebih cepat jika terintegrasi penuh dalam blok perdagangan kawasan. Karena itu, surat kabar memperingatkan agar Indonesia tidak bersikap seolah memimpin negara ASEAN lainnya.

Fokus Presiden Jokowi terhadap kepentingan dalam negeri turut mendorong munculnya pandangan bahwa sikap proteksionis—yang mewakili sekitar separuh populasi ASEAN dan 40% dari total output ekonomi kawasan—berpotensi menjadi penghalang bagi partisipasi penuh saat blok regional tersebut berusaha mewujudkan pasar tunggal dan pusat produksi di bawah MEA menjelang akhir tahun 2015. Ngurah Swajaya, mantan Duta Besar untuk ASEAN, menyampaikan pada awal tahun bahwa kurangnya pemahaman mengenai MEA di kalangan dunia usaha dan pejabat pemerintah merupakan kendala utama dalam pelaksanaan kebijakan terkait.

Di sektor keamanan, kebijakan tegas Presiden Jokowi terhadap kapal pencuri ikan memicu kekhawatiran luas karena kerugian ekonomi negara melebihi $20 miliar per tahun. Jokowi bersama para penasihatnya memberi sinyal bahwa langkah penenggelaman tiga kapal kosong asal Vietnam pada awal bulan ini bisa menjadi awal dari aksi serupa terhadap kapal-kapal dari negara ASEAN lainnya, bahkan dari China.

Kebijakan Populis

Farish Noor, seorang ahli politik asal Malaysia yang kini menjabat sebagai peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, mengingatkan bahwa meskipun kebijakan populis tersebut dapat memperkuat citra Jokowi di dalam negeri, terdapat risiko bahwa kebijakan tersebut justru dapat mengganggu kesatuan ASEAN.

Seiring integrasi ASEAN semakin erat, kebijakan Indonesia tampak bertentangan dengan semangat kebersamaan dan terkesan populis untuk menarik simpati pemilih. Farish Noor menyampaikan keprihatinan bahwa jika setiap negara ASEAN mengikuti pola serupa, masa depan organisasi ini patut dipertanyakan.

Kebijakan tersebut memunculkan kontroversi. Sebagian kalangan menilai bahwa tindakan penenggelaman kapal merupakan langkah legal dan dibutuhkan, namun ada juga yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap citra di kancah internasional. Frans Hendra Winarta, seorang ahli hukum, mengungkapkan bahwa pendekatan semacam ini dapat menimbulkan gesekan diplomatik dengan negara tetangga, terutama di tengah upaya ASEAN membentuk komunitas yang semakin terpadu.

Frans menyatakan bahwa tindakan menenggelamkan kapal pencuri ikan seharusnya dilakukan sebagai langkah paling akhir, bukan sebagai strategi utama. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap arah kebijakan hukum saat ini yang lebih menonjolkan aspek kekuatan, namun kurang memperhatikan implikasi jangka panjang.

Walau sejumlah pihak mengkhawatirkan berkurangnya komitmen terhadap semangat regionalisme, Duta Besar untuk ASEAN, Rahmat Pramono, membantah anggapan bahwa fokus pemerintahan Jokowi pada urusan domestik akan mengurangi partisipasi di tingkat regional maupun global.

“Keraguan semacam itu tidaklah beralasan. Presiden Joko Widodo telah memberikan komitmen untuk terlibat secara aktif dalam mendorong terciptanya perdamaian dunia,” ujarnya.

Setelah Rizal Sukma, penasihat Presiden Jokowi, memberikan pemaparannya dalam konferensi USINDO minggu lalu, Donald EmmersonDirektur Southeast Asia Forum di Stanford University—menyampaikan bahwa dugaan mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia yang cenderung berorientasi bilateral dan kurang mengindahkan peran ASEAN bisa saja terbukti keliru di masa mendatang.

Menurut Emmerson, seorang pakar yang telah lama menekuni dunia politik, ketidaksepahaman antara Presiden Jokowi dan timnya, ditambah dengan dinamika perubahan situasi global, bisa membuat aspirasi yang saat ini diharapkan oleh Jokowi tidak selalu tercapai, dan bahkan kemungkinan besar keinginan tersebut akan berubah seiring waktu.

Visited 5 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *