Penelitian baru memastikan burung yang pertama kali terlihat 15 tahun lalu adalah spesies yang belum pernah tercatat ilmu pengetahuan. Para peneliti resmi menamai burung langka yang pertama terlihat di Sulawesi pada 1997 Muscicapa sodhii. Nama umumnya adalah burung penangkap lalat belang Sulawesi. Ben King, pemandu pengamatan burung, bersama kliennya adalah yang pertama mencatat burung ini. Burung itu menunjukkan tenggorokan bergaris khas dan tampak lebih kecil daripada Muscicapa griseisticta. Beberapa tahun kemudian, penampakan itu mendorong pakar burung Frank Rheindt dari Universitas Nasional Singapura melakukan ekspedisi ke Sulawesi. Rheindt dan timnya pergi pada 2011–2012 untuk mencari hewan misterius tersebut. Burung ini hidup sederhana di kanopi tinggi sehingga sulit peneliti temukan. Tim baru menemukan spesimen pada 2012, menurut studi yang terbit 24 November di PLOS ONE. Rheindt, salah satu penulis studi, mengatakan setelah meninjau lokasi laporan awal tim mencari dengan tekun berhari-hari. Mereka baru menemukan kasus pertama setelah usaha panjang itu.
Rekan penulis Pamela Rasmussen dari Michigan State University menerima dana ekspedisi dari Komite Penelitian dan Eksplorasi National Geographic. Pemeriksaan teliti terhadap burung yang pemburu lokal bawa menunjukkan bahwa Muscicapa sodhii berbeda dari spesies Muscicapa lain pada bulu, morfologi, nyanyiannya dan susunan genetiknya. Spesies baru ini memiliki ciri khas tenggorokan berbintik-bintik, paruh sangat melengkung serta sayap dan ekor yang lebih pendek. Suaranya mirip burung penangkap lalat Asia lain—siulan, kicauan dan getaran—tetapi bernada sedikit lebih tinggi. Meski bulunya paling mirip burung penangkap lalat bergaris abu‑abu, analisis genetik menunjukkan burung penangkap lalat bergaris Sulawesi lebih berkerabat dekat dengan burung penangkap lalat cokelat Asia (M. dauurica siamensis). Spesies baru ini tampak tersebar luas, kemungkinan karena tidak bergantung pada hutan primer dan mampu bertahan di habitat yang terganggu aktivitas manusia. Kondisi ini menunjukkan spesies ini belum terancam saat ini, namun para peneliti memperingatkan bahwa peningkatan deforestasi di pulau tersebut bisa mengubah hal ini.
Penangkap Lalat
Selain penangkap lalat, Sulawesi—sebagai pusat keanekaragaman burung dunia—telah menjadi lokasi penemuan beberapa spesies baru; pulau ini menampung setidaknya 42 spesies yang hanya ada di sana. Walau kaya spesies endemik, burung-burung Sulawesi relatif kurang dipelajari; sekitar 98% spesies burung di dunia sudah dideskripsikan.
Rheindt menyatakan bahwa karena burung merupakan kelompok hewan yang paling dikenal, penemuan spesies baru di Sulawesi—pulau yang banyak dieksplorasi pada abad ke-21—menunjukkan betapa sedikitnya yang sebenarnya kita pahami tentang planet ini.