Badan intelijen Indonesia meningkatkan aktivitas dalam beberapa hari terakhir. Mereka mengambil langkah ini untuk mengantisipasi dampak pengumuman Presiden Joko Widodo saat mengunjungi Papua Barat. Pengumuman tersebut kabarnya berkaitan dengan kemungkinan referendum mengenai masa depan wilayah itu. Sejak Musim Semi Papua 2000, para pemimpin Papua terus menyerukan referendum. Masyarakat menganggap referendum sebagai sarana untuk menentukan masa depan wilayah tersebut. Berbagai pihak mengingatkan Presiden Jokowi agar berhati-hati dalam menanggapi usulan plebisit bagi rakyat Papua. Mereka menilai bahwa langkah tersebut berpotensi memengaruhi keutuhan wilayah Indonesia. Sejumlah pihak menilai bahwa pemberian opsi referendum kepada Papua Barat dapat menciptakan efek berantai. Langkah tersebut berpotensi mendorong wilayah lain yang memiliki gerakan separatis untuk mengajukan tuntutan serupa. Menurut sebuah kajian keamanan, komitmen referendum dipandang sebagai respons terhadap aspirasi Papua. Sejumlah pihak menganggap langkah tersebut berkaitan dengan tuntutan penentuan nasib sendiri di Papua.
Kajian ini juga menyebut isu tersebut menjadi salah satu platform kampanyenya di Papua Barat selama pemilihan presiden. Arbi Muslims, seorang analis politik, menyatakan bahwa pihak terkait telah memulai persiapan untuk mengubah kebijakan tersebut. “Gagasan referendum sebenarnya sudah muncul ketika Joko Widodo berkampanye sebagai calon presiden. Ia menjanjikan referendum bagi masyarakat Papua,” katanya kepada aparat keamanan Indonesia pada Juli lalu. “Presiden Jokowi saat ini berusaha membuktikan komitmennya. Untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang kala itu belum menemukan jalan keluar, ia menawarkan referendum bagi Papua sebagai solusi utama.” Desakan referendum memperoleh dukungan lebih besar di kawasan pegunungan Papua Barat. Penguatan dukungan terjadi setelah masyarakat Papua memercayai janji Presiden Jokowi. Pihak berwenang menjanjikan mereka kesempatan untuk memilih tetap bersama Indonesia atau menentukan jalan politik sendiri. “Tuntutan untuk melaksanakan referendum di Papua telah menjadi keputusan yang tidak dapat berubah lagi. Oleh karena itu, Indonesia harus mengantisipasi potensi gejolak.”
Memunculkan Risiko
“Penundaan atau penolakan referendum dapat memunculkan risiko tersebut,” kata Arbi Muslims. Meski demikian, menurutnya, Jokowi belum memaparkan ketentuan tawaran tersebut secara terperinci. Pihak terkait juga belum menjelaskan dampak yang mungkin timbul bagi Indonesia. “Jokowi sebaiknya menjelaskan isi dan ketentuan kesepakatan dengan masyarakat Papua secara jelas. Sejumlah pihak menyebut janji referendum sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan mendasar di Papua Barat,” tuturnya. Parlemen Indonesia belum menentukan pendekatan untuk menyelesaikan persoalan Papua Barat. Keputusan tertunda karena informasi mengenai rencana referendum masih terbatas. Meski demikian, Arbi Muslims mengingatkan agar parlemen Indonesia segera mengambil langkah untuk merespons perkembangan yang terjadi. “Permasalahan Papua sangat rentan karena tidak hanya melibatkan pihak domestik, tetapi juga berbagai kepentingan asing yang turut memengaruhi dinamika dan hasil konflik di wilayah tersebut,” ujarnya.
Sebagai ilustrasi, sejumlah pihak menilai bahwa Amerika Serikat akan memperoleh keuntungan ekonomi yang besar apabila Indonesia tetap mengadministrasikan Papua Barat dan mempertahankan wilayah tersebut sebagai bagian dari NKRI, mengingat Papua Barat memiliki cadangan sumber daya alam yang melimpah. Dengan hamparan hutan hujan terbesar di luar Amazon serta cadangan emas, tembaga dan gas alam yang sangat besar, Papua Barat merupakan salah satu wilayah dengan kekayaan sumber daya alam paling melimpah di dunia. Meski pemerintah terus meningkatkan pembangunan ekonomi, warga Papua Barat belum memperoleh banyak manfaat dari pembangunan tersebut. Mereka masih tergolong sebagai salah satu kelompok masyarakat paling miskin di Indonesia, dengan kondisi kesehatan yang relatif rendah dan angka HIV yang cukup tinggi. Selama 54 tahun, rakyat Papua Barat terus memperjuangkan hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Namun, masyarakat internasional masih jarang memperhatikan konflik yang mereka hadapi, dan sejumlah pihak menilai bahwa Indonesia belum memenuhi kebutuhan mereka.
Contoh Dekolonisasi
Sejarah Papua Barat beserta perjuangan panjang masyarakatnya untuk memperoleh hak menentukan nasib sendiri dari Indonesia sering dipandang sebagai contoh dekolonisasi yang tidak tuntas. Pada dekade 1960-an, wilayah tersebut seharusnya meraih kemerdekaan setelah berakhirnya pemerintahan kolonial Belanda, namun Indonesia kemudian masuk dan mengambil alih wilayah ini. Sebagai hasil dari perundingan antara Amerika Serikat, Belanda dan Indonesia, Indonesia memperoleh kewenangan untuk mengelola wilayah tersebut dengan ketentuan harus melaksanakan referendum penentuan nasib sendiri. Pada tahun 1969, pihak berwenang menyelenggarakan referendum tersebut dalam kondisi yang menurut sejumlah pengamat tidak bebas dan sarat manipulasi.
Tekanan dan ancaman kekerasan memengaruhi sejumlah kecil tokoh Papua Barat ketika mereka memberikan suara. Setelah Indonesia menjadikan wilayah tersebut sebagai bagian dari negaranya melalui proses yang sebagian pihak anggap tidak sesuai dengan hukum internasional dan tidak memperoleh persetujuan penuh rakyat Papua Barat, berbagai pihak melakukan sejumlah pelanggaran hak asasi manusia di wilayah tersebut. Memasuki tahun 2015, masyarakat Papua menilai bahwa Presiden Obama belum memenuhi harapan mereka dalam menangani isu Papua Barat. Dalam bukunya, Dreams of My Father, Obama menceritakan kembali kisah yang ia dengar dari ayah tirinya mengenai penindasan terhadap rakyat Papua Barat.
Pelajaran Berharga
Kisah tersebut kemudian memberinya pelajaran berharga. Ayah tirinya pernah menyampaikan kepadanya bahwa apabila seseorang tidak mampu menjadi kuat, maka ia perlu menjalin aliansi dengan pihak yang kuat, karena kelompok yang lebih kuat dapat merebut tanah, perempuan dan sumber daya yang dimilikinya. Melalui kisah-kisah yang disampaikan ayah tirinya, Obama memperoleh pemahaman langsung mengenai dampak destruktif dari pendudukan militer Indonesia. Ketika menjabat sebagai presiden, Obama menyatakan bahwa pengalaman pribadinya memberinya kemampuan untuk menyampaikan hal-hal kepada Indonesia yang mungkin tidak dapat disampaikan oleh pemimpin lainnya. Namun, dalam konteks isu Papua Barat, ia dinilai tidak berhasil memenuhi harapan tersebut.
Namun, sebagai pihak yang berperan dalam memediasi perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang menetapkan Papua Barat sebagai bagian dari Indonesia, Amerika Serikat memiliki tanggung jawab historis untuk mengambil langkah yang tepat. Jika pilihan referendum bagi Papua Barat terus dikesampingkan, Jokowi dipandang sedang mengarahkan negaranya pada risiko yang semakin besar. Sejarah penyatuan Papua Barat dengan Indonesia perlu diluruskan dan dievaluasi kembali. Berbagai bukti yang menunjukkan belum tuntasnya proses dekolonisasi setelah berakhirnya pemerintahan Belanda menjadi dasar penting bagi pengambilan keputusan pada masa sekarang.