Konser Salam Dua Jari: Manipulasi Politik

Pada hari terakhir kampanye pilpres 2014, puluhan ribu orang memenuhi Stadion Gelora Bung Karno. Penonton menikmati konser gratis dari artis-artis ternama dan menunjukkan antusiasme. Antusiasme paling besar terlihat terhadap grup Slank. Penonton memberikan sorakan terbesar kepada Joko Widodo. Ia berlari ke panggung untuk menyapa para pendukungnya. Sejumlah penonton yang meneriakkan Salam Dua Jari kemungkinan sudah mendukung Jokowi sebelum konser mulai. Pengamat menilai acara ini penting untuk menarik pemilih muda yang belum menentukan pilihan. Pada pekan-pekan akhir kampanye, Prabowo berhasil mengecilkan jarak dalam survei, dan timnya optimistis dapat membalikkan keadaan. Banyak pihak menyebut keberhasilan konser Salam Dua Jari turut membantu Jokowi mempertahankan keunggulan popularitas dan memenangkan pemilu. Dominasi video musik bergenre pop dalam kampanye Pemilu 2014 menandai perubahan penting dalam praktik kampanye politik di Indonesia. Meskipun kampanye sebelumnya memakai dangdut dan genre lain, musisi menyebarkan beragam genre lewat banyak platform pada Pilpres 2014.

Musisi mengunggah video ke YouTube, resmi maupun tidak, sebagai alat kampanye; lagu, karya orisinal, dan parodi menarik jutaan penonton. Video musik populer Indonesia yang kemungkinan besar pertama kali secara terbuka mengampanyekan seorang kandidat adalah “Jokowi dan Basuki.” Cameo Project, sekelompok seniman amatir dari Jakarta, memproduksi video itu. Mereka membuatnya untuk mendukung pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Mereka memparodikan lagu “What Makes You Beautiful” milik One Direction. Video itu langsung meraih sukses besar dan menjadi lagu tema kampanye; relawan Jokowi, bukan tim kampanye resmi, yang memproduksinya. Setelah keberhasilan video ini, pendukung Jokowi kembali membuat sejumlah video serupa saat ia maju sebagai calon presiden 2014. Grup Slank merilis Salam Dua Jari untuk mendukung Jokowi; rapper Kill the DJ membuat Bersatu Padu Coblos No 2. Kedua lagu memakai unsur pop untuk menciptakan slogan musikal yang mudah pemilih ingat tentang nomor kotak.

Dukungan Musisi

Prabowo Subianto juga menerima dukungan dari kalangan musisi, salah satunya penyanyi dan penulis lagu terkenal Ahmad Dhani. Dhani membawakan ulang lagu hit Queen “We Will Rock You” dalam videonya, mengubah lirik dan menampilkan beberapa kontestan Indonesian Idol tempat ia pernah menjadi juri. Video itu memicu kontroversi karena Dhani tidak meminta izin hak cipta dari pencipta lagu Brian May, dan karena ia serta beberapa musisi yang tampil mengenakan seragam bergaya Nazi. Pemanfaatan pertunjukan musik dalam kampanye pemilu sudah berlangsung lama. Pada masa Orde Baru, ketika hanya ada tiga partai politik, partai-partai sering memakai musik—terutama dangdut—untuk menarik massa menghadiri pidato politik, dan PPP, satu-satunya partai berbasis Islam, juga melakukan hal itu. Popularitas dangdut begitu besar hingga pemerintah Orde Baru melarang penayangan penampilan Rhoma Irama, yang mendukung PPP pada Pemilu 1977 dan 1982, di televisi dan radio.

Di tahun‑tahun berikutnya Rhoma menjalin kerja sama dengan sejumlah partai Islam, termasuk PKB menjelang Pemilu 2014, dan pada Juli 2015 ia mendirikan partainya sendiri, Partai Islam Damai Aman (Idaman). Pada era pasca-Orde Baru, politisi semakin menyadari kekuatan pertunjukan musik. Kampanye kini menggunakan berbagai genre musik, berbeda dari masa Orde Baru. Pada Pilpres 2004, Susilo Bambang Yudhoyono sering membawakan lagu “Pelangi di Matamu” di depan publik, termasuk saat final Indonesian Idol. Pada 2009, SBY dan rivalnya Wiranto kembali tampil bernyanyi di acara final itu, dan pada 2014 Prabowo Subianto juga hadir di episode final Indonesian Idol. RCTI, stasiun televisi swasta milik Hary Tanoesoedibjo yang mendukung Prabowo, memproduksi acara populer ini.

Tidak Menyanyi

Tidak seperti SBY dan Wiranto, Prabowo tidak menyanyi; ia muncul sebagai juri tamu dan menciptakan salah satu momen paling mengesankan selama kampanye ketika berdiri di panggung bersama pemenang Nowela Elizabeth Aupray dari Papua sambil mengenakan hiasan kepala tradisional Papua. Jokowi, yang dikenal sebagai penggemar musik heavy rock, memanfaatkan musik dengan cara berbeda. Sejak kampanye Gubernur DKI Jakarta 2012, ia terus mendapat dukungan dari grup Slank. Slank menginisiasi konser Salam Dua Jari untuk mendukung pencalonan Jokowi sebagai presiden; konser ini dihadiri puluhan ribu pendukung dan dibiayai oleh grup serta sumbangan para relawan.

Yang menarik, sejumlah musisi internasional menunjukkan perhatian pada Pilpres 2014; beberapa di antaranya menyatakan dukungan kepada Jokowi lewat akun media sosial. Nama-nama seperti Sting, Jason Mraz dan grup Arkarna mengimbau pemilih Indonesia untuk mendukung demokrasi dan Jokowi. Dukungan semacam ini kemudian menuai kritik dari pendukung Prabowo yang berpendapat bahwa musisi—baik dari luar negeri maupun dalam negeri—seharusnya bersikap netral atau menjaga jarak dari urusan politik. Dalam salah satu debat pilpres, Jokowi berjanji menjadikan pengembangan ekonomi kreatif, termasuk sektor musik, sebagai prioritas pemerintahannya.

Ekonomi Kreatif

Ia menekankan bahwa ekonomi kreatif berpotensi besar untuk mengembangkan beragam talenta seni Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Janji ini perlu mendapat perhatian publik sama seperti janji-janji kampanye lainnya. Hingga kini janji tersebut belum terealisasi; lembaga baru yang dibentuk untuk menangani hal ini, Badan Ekonomi Kreatif, sejauh ini hanya melakukan seleksi dan penunjukan pejabat serta perekrutan staf tanpa langkah konkret lainnya. Kepala badan ini, pengusaha dan mantan musisi Triawan Munaf, menyatakan bahwa fokus pengembangan akan diarahkan pada fesyen, musik dan kuliner. Peristiwa Pemilu 2014 menunjukkan bahwa peran musik populer sebagai alat kampanye politik akan tetap relevan.

Harapannya, pengaruh musik tidak hanya berhenti pada fungsi hiburan; musik juga berpotensi membangkitkan kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan sosial seperti lingkungan, korupsi, isu gender, kemiskinan dan kekerasan. Selain itu, bila pemerintah sungguh‑sungguh menjadikan musik sebagai salah satu fokus pengembangan ekonomi kreatif, sektor ini seharusnya mampu menyediakan penghasilan yang layak bagi siapa pun yang memiliki minat dan bakat di bidang musik.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *