Berita palsu bukan hal baru di Indonesia. Hoax muncul hampir di setiap masa, dari era Presiden Soekarno hingga pemerintahan Jokowi. Informasi menyesatkan ini sering memperdaya masyarakat dan pejabat. Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI, menyatakan bahwa berbagai motif mendorong penyebaran berita palsu, mulai dari memancing kemarahan hingga mencari keuntungan pribadi. Presiden Joko Widodo juga memperhatikan masalah berita palsu. Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia berencana menyusun dan menerbitkan pedoman etika berperilaku di media sosial. Berikut beberapa hoaks terkenal yang pernah menyesatkan para presiden Indonesia.
Era Presiden Soekarno
Pasangan suami istri Idrus dan Markonah mengaku sebagai Raja dan Ratu Suku Anak Dalam di Sumatra pada 1950‑an. Mereka melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia untuk mendukung perjuangan pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda. Kabar ini sampai ke istana. Seorang pejabat negara mengundang mereka untuk bertemu Presiden Soekarno yang sedang mencari dukungan untuk pembebasan Irian Barat. Idrus dan Markonah kemudian bertemu Soekarno, dan Soekarno memperlakukan mereka sebagai tamu kehormatan. Identitas mereka terkuak saat mereka berkeliling di sebuah pasar di Jakarta. Seorang tukang becak mengenali Idrus karena mereka sama‑sama tukang becak, dan terungkap bahwa Markonah bekerja sebagai pekerja seks. Kejadian ini tercatat sebagai penipuan besar pertama yang berhasil menipu Presiden Indonesia.
Era Presiden Soeharto
Pada 1970‑an beredar kabar bahwa janin dalam kandungan seorang wanita Aceh bernama Cut Zahara Fona bisa berbicara dan melafalkan Al‑Quran. Berita ini mengguncang publik dan menjadi headline surat kabar. Pejabat negara Adam Malik dan Ibu Negara Tien Soeharto mengetahui kabar tersebut dan memanggil Cut Zahara ke Istana Kepresidenan. Adam dan Tien mendengar sendiri janin Cut Zahara melafalkan Al‑Quran, dan kabar ini kian meluas. Namun dokter Herman meragukan klaim tersebut karena janin tidak mungkin bernapas atau mengeluarkan suara; ia bahkan mendapat ancaman pembunuhan dari para pendukung Cut Zahara. Akhirnya terungkap bahwa klaim ini palsu: sebuah perekam suara dipasang di perut sang ibu.
Era Presiden Megawati
Pada 2002, Menteri Agama Said Agil Al Munawar mengaku menerima informasi tentang harta karun Prabu Siliwangi di Batu Tulis, Bogor. Ia menyampaikan kabar ini kepada Megawati, yang kemudian menugaskan Said Agil memimpin penggalian yang diklaim cukup untuk melunasi utang negara. Penggalian akhirnya dihentikan dan tidak ditemukan harta apa pun.
Era Presiden SBY
Pada 2008 muncul kabar tentang penemuan yang mengklaim dapat mengubah air menjadi bahan bakar, disebut energi biru. Penemu Joko Suprapto mempresentasikannya kepada Presiden SBY dan berhasil memperoleh dana Rp10 miliar untuk membangun pembangkit energi biru di Cikeas, Bogor. Klaim ini mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk Universitas Gadjah Mada, yang menyebutnya palsu. Joko kemudian meminta maaf karena gagal mewujudkan klaim tersebut dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Yogyakarta.
Era Presiden Jokowi
Berita tentang kedatangan 10 juta pekerja migran China ke Indonesia beredar di media sosial dan situs online pada akhir 2016. Pemerintah membantah kabar ini, menyatakan Indonesia hanya menampung sekitar 21.000 pekerja migran China dari total 74.000 pekerja asing. Hoaks tersebut mendorong Presiden Joko Widodo untuk menghidupkan kembali rencana pembentukan Badan Siber Nasional.