Sembuhkan Planet Kita: Bagaimana Kita Melindungi Indonesia

Indonesia merupakan salah satu kawasan paling menakjubkan dari segi ekologi di planet ini. Sekitar 17.000 pulau Indonesia tersebar di wilayah yang kaya keanekaragaman hayati. Kekayaan itu meliputi terumbu karang di Segitiga Karang hingga palung laut dalam di Laut Banda. Karena itu, para ilmuwan masih terus memetakan organisme yang hidup di perairan tersebut. Di perairan yang sebagian besar belum terpetakan, hewan-hewan terbesar di dunia bermigrasi. Hutan hujan yang lebat menjadi rumah bagi kera besar yang terancam punah. Burung cendrawasih memamerkan bulu-bulu mereka yang terkenal di dunia. Meski begitu, Indonesia juga mengalami kehilangan habitat yang cukup besar, sehingga keanekaragaman hayati yang tak tergantikan itu terus mendapat tekanan. Conservation International bersama mitra lokalnya, Konservasi Indonesia, bekerja di berbagai pulau untuk mempelajari, melindungi dan memulihkan lingkungan alam.

Di Teluk Saleh, nelayan malam di anjungan jaring angkat kayu melihat sesuatu aneh di air yang mendapat penerangan lampu. Bentuknya kecil, pucat, dan berbintik-bintik, melayang tepat di atas jaring mereka. Ternyata itu hiu paus, namun ukurannya lebih kecil daripada yang pernah terlihat di teluk ini. Panjang mereka sedikit lebih dari satu meter, sehingga termasuk kategori neonatus. Neonatus berarti hewan baru berusia beberapa bulan. Hanya 33 individu seperti ini yang pernah tercatat dalam catatan ilmiah. Penelitian terbaru oleh Konservasi Indonesia menyatakan temuan ini bukti kuat Teluk Saleh mungkin nursery hiu paus pertama. Konservasi Indonesia menjalankan program sains warga di teluk sejak 2018 yang memungkinkan penemuan ini. Program itu melatih nelayan mendokumentasikan penampakan satwa, memotret hiu untuk identifikasi, dan melepaskan tangkapan sampingan dengan aman. Pengamatan malam hari ternyata paling penting.

Paus Biru

Di perairan lepas pantai timur Indonesia, sebuah tim peneliti kecil menghabiskan beberapa hari mengamati paus biru yang muncul ke permukaan lalu menghilang di cakrawala. Mereka berupaya memasang alat pelacak pada satu ekor paus sebanyak delapan kali, namun delapan kali pula upaya ini tidak berhasil. Pada percobaan kesembilan, ilmuwan kelautan Iqbal Herwata berdiri di dek sambil memegang pengendali drone. Ia melihat lewat siaran langsung saat seekor paus biru kecil muncul di permukaan di bawah, lalu menekan pelatuk; menurut Iqbal, para kru langsung melompat ke laut.

Keberhasilan pemasangan alat pelacak ini menandai pertama kalinya drone dipakai untuk menempelkan pelacak pada paus biru di laut lepas—sebuah teknik yang dikembangkan bersama Center for Whale Research di Australia Barat dan diuji di lapangan oleh Conservation International serta Konservasi Indonesia. Metode penandaan tradisional mengharuskan perahu mengejar hewan dari jarak dekat dan meluncurkan pelacak dengan senapan udara; pendekatan baru menggunakan pelacak LIMPET kecil seukuran kotak korek api yang dipasang dari atas, sehingga mengurangi stres pada hewan dan meningkatkan kualitas data perilaku yang dikumpulkan.

Budidaya Udang

Selama puluhan tahun, praktik budidaya udang mengikuti pola yang sudah akrab dan merusak: pembabatan hutan bakau, penggalian tambak dan pemanenan sumber daya sampai habis. Siklus eksploitasi ini mendorong para petani meninggalkan tambak yang terkuras dan memperluas usaha ke beberapa hutan bakau terakhir yang masih utuh. Di desa pesisir Lalombi, Sulawesi Tengah, cerita ini memasuki babak baru—sebuah fase yang menghadirkan peningkatan produksi udang sekaligus menjaga keberadaan hutan bakau.

Musim kemarau lalu menandai panen pertama dari udang yang dibudidayakan memakai pendekatan Udang Ramah Iklim yang diperkenalkan oleh Conservation International. “Istilahnya sederhana,” ujar Dane Klinger, pemimpin program Udang Ramah Iklim. “Kami mendampingi petani agar bisa menghasilkan lebih banyak udang pada lahan yang lebih kecil, sehingga lahan pertanian yang tersisa bisa dikembalikan menjadi hutan bakau. Perubahan ini berpotensi merombak industri secara keseluruhan, menjadikannya lebih berkelanjutan sekaligus lebih produktif dan menguntungkan.”

Visited 5 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *