Pada hari Jumat, Presiden Joko Widodo bertemu Presiden China Xi Jinping untuk kelima kalinya dalam kurang dari dua tahun. Frekuensi pertemuan itu menunjukkan hubungan Indonesia dan China semakin erat. Namun, kedua negara masih menghadapi perbedaan, termasuk soal penangkapan ikan ilegal oleh kapal China. Jokowi berada di China untuk menghadiri KTT G20 yang mulai pada hari Minggu. Dalam pertemuan bilateral, kedua pemimpin menegaskan komitmen memperkuat hubungan Indonesia–China. Mereka menaruh perhatian utama pada peningkatan kerja sama ekonomi. Isu Laut China Selatan tidak menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Jokowi menyatakan keyakinannya bahwa China juga melihat Indonesia sebagai mitra strategis yang memiliki peran penting. Ia juga menegaskan keinginannya untuk memastikan bahwa China tetap memandang Indonesia sebagai mitra utama dalam berbagai bidang, terutama perdagangan, investasi dan pariwisata. Menanggapi pernyataan Jokowi, Xi menegaskan komitmen China untuk terus menjaga dan memperkuat kerja sama bilateral dalam jangka panjang. Ia juga menyebut Indonesia sebagai negara yang memiliki arti penting bagi China. Xi menyatakan bahwa lima kali pertemuan dengan Jokowi dalam kurun waktu kurang dari dua tahun mencerminkan kesungguhan kedua pemimpin dalam memperkuat kepercayaan dan hubungan antara kedua negara. Dalam pertemuan hari Jumat, Jokowi dan Xi membahas langkah-langkah untuk menekan defisit perdagangan Indonesia dengan China. Pada periode Januari hingga Juli, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar 9,74 miliar dolar AS, yang sebagian besar karena tingginya impor produk elektronik dari China.
Pada tahun sebelumnya, nilai ekspor Indonesia ke China mencapai $13,26 miliar, sementara nilai impor dari China tercatat sebesar $29,22 miliar. Pemerintah Indonesia mempertimbangkan perluasan ekspor buah-buahan tropis ke China, yang masih menjadi salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Ekspor Buah
Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan kepada wartawan seusai pertemuan bahwa Xi menyampaikan komitmennya untuk mendorong kemudahan akses bagi impor buah-buahan tropis asal Indonesia ke pasar China. Dalam bidang investasi, Jokowi dan Xi mencapai kesepahaman untuk menitikberatkan perhatian pada peningkatan kualitas investasi, terutama pada sektor manufaktur dan pembangunan infrastruktur. Indonesia dan China juga menyetujui perpanjangan perjanjian pertukaran mata uang bilateral (BCSA) untuk tiga tahun mendatang. Indonesia dan China memperpanjang kesepakatan senilai sekitar 130 miliar dolar AS karena perjanjian sebelumnya akan berakhir pada penghujung tahun ini. Melalui kesepakatan tersebut, kedua negara berupaya mengurangi ketergantungan pada penggunaan dolar AS dalam transaksi. Pada akhir tahun lalu, di sela-sela penyelenggaraan KTT G20 di Turki, kedua pemimpin kembali menggelar pertemuan bilateral. Dari pertemuan tersebut, China menyetujui penyediaan fasilitas pinjaman siaga senilai $5 miliar yang berkaitan dengan perjanjian BCSA.
Meski tidak menjadikan Laut China Selatan fokus utama, Jokowi dan Xi tetap menyinggung isu tersebut dalam pertemuan hari Jumat. Dalam sambutannya, Jokowi menegaskan bahwa kemitraan Indonesia dan China harus berkontribusi pada perdamaian dan kemakmuran dunia. Dalam beberapa bulan terakhir, nelayan China dan Angkatan Laut Indonesia terlibat sejumlah konfrontasi terbuka di perairan Natuna. Sedikitnya tiga insiden konfrontasi terjadi pada awal tahun ini. China juga memasukkan perairan sekitar Kepulauan Natuna ke dalam klaim garis sembilan titiknya untuk menegaskan kedaulatannya atas kawasan tersebut. Jokowi mengunjungi China tidak lama setelah pelantikannya sebagai presiden pada November 2014. Dalam kesempatan tersebut, ia bertemu Xi Jinping di sela-sela pertemuan APEC yang berlangsung di China. Usai pertemuan tersebut, Jokowi menyatakan harapannya agar hubungan bilateral menghasilkan kerja sama yang lebih nyata sehingga masyarakat Indonesia dan China dapat merasakan manfaatnya secara langsung. Di sisi lain, Xi menyebut Indonesia sebagai sahabat lama sekaligus mitra strategis yang selama ini dipercaya oleh China.