UNESCO Indonesia Dikritik

Penyelenggara mengadakan forum tujuh hari ini di tiga Situs Warisan Dunia Indonesia—Sangiran, Prambanan, dan Borobudur. Forum bertujuan meningkatkan kesadaran kaum muda tentang pentingnya situs dan perlindungan Warisan Dunia. Forum ingin membuat kaum muda mengenal prinsip dasar pelestarian Warisan Dunia, khususnya Warisan Budaya. Kegiatan ini mendorong keterlibatan pemuda dalam melindungi serta mempromosikan warisan budaya Indonesia. Forum memberikan pemahaman tentang proses implementasi dan tantangan pengelolaan Warisan Dunia di Indonesia. Peserta mengikuti kelas, mengunjungi situs bersama pengelola, berdiskusi, dan merancang program kampanye pelestarian. Mereka juga mempelajari warisan budaya takbenda melalui tarian Kipas Asri dalam Balet Ramayana. Panitia menampilkan pertunjukan itu pada Sabtu, 12 November, di Teater Ramayana, Candi Prambanan.

Para peserta juga mendengarkan sejumlah pembicara tamu dalam sesi kelas, termasuk Daud Aris Tanudirjo (Universitas Gadjah Mada), Andri Purnomo (Universitas Kristen Satya Wacana), Doddy Wiranto (Kantor Konservasi Situs Manusia Purba Sangiran), Gatot Gautama (pakar warisan budaya), Marsis Sutopo (Kepala Kantor Konservasi Borobudur), Diana Setiawati (UNESCO Jakarta), Dananjaya Axioma (Kementerian Pariwisata), Arief Rachman (Ketua Eksekutif Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO), dan Leo Mokodompit (mantan Kepala Desk Pemuda, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO). UNESCO Jakarta secara khusus menyelenggarakan sesi berjudul Kontribusi Pemuda dalam Pelestarian Warisan Budaya Indonesia yang menarik perhatian peserta.

Menumbuhkan Tanggung Jawab

Sebanyak 44 pemuda dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti forum ini, yang difasilitasi oleh Cilik Tripamungkas (UNESCO Jakarta) dan didukung perwakilan pemuda dari Dejavato; Young Guardian Club (YGC); Indonesia International Work Camp (IIWC), di bawah pengawasan Yunus Arbi, Kepala Subdirektorat Urusan Warisan Budaya Dunia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Yunus berharap forum ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama di kalangan pemuda untuk melindungi warisan nasional pada skala global.

Untuk menandai penutupan forum pemuda, para peserta berkumpul di Kompleks Candi Borobudur untuk membacakan Deklarasi WHCI 2016. Dalam deklarasi ini, mereka berkomitmen terus mempromosikan warisan budaya, mendukung pemerintah dalam penyusunan Daftar Sementara Warisan Dunia, membentuk komunitas pemuda yang fokus pada pelestarian warisan, serta mendorong pendidik dan akademisi memasukkan Warisan Dunia ke dalam kurikulum dan kegiatan di sekolah maupun perguruan tinggi.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *