Indonesia termasuk di antara negara yang memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi, termasuk ragam amfibi. Sayangnya, publik kurang menyadari keberadaan amfibi tersebut padahal beberapa spesies menghadapi ancaman kepunahan. Mirza Dikari Kusrini, pakar herpetofauna IPB, mengatakan bahwa studi amfibi di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan penelitian tentang orangutan, harimau, dan gajah. Peneliti sangat sedikit melakukan kajian amfibi, dan banyak pihak mengabaikannya. Indonesia menempati posisi lima besar negara dengan populasi amfibi terbesar di dunia. Para ahli menyesalkan kondisi ini. Mirza menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 436 spesies amfibi. Sekitar 20 persen dari spesies tersebut bersifat endemik. Ia menyampaikan pernyataan itu saat membuka pelatihan herpetofauna di Fakultas Biologi UGM, Senin. Mirza menyatakan bahwa sekitar 10 persen amfibi Indonesia berisiko punah akibat perubahan dan hilangnya habitat. Polusi, penyakit, dan faktor lain turut berkontribusi. Daftar Merah IUCN 2014 mencatat setidaknya dua spesies katak Jawa masuk kategori rentan. IUCN mengklasifikasikan katak L. cruentata sebagai terancam punah.
Ia menjelaskan hampir 30% amfibi di Indonesia tergolong spesies yang kurang terdokumentasi atau belum teridentifikasi sepenuhnya. Kondisi serupa terjadi pada reptil di Indonesia; perubahan habitat dan perdagangan ilegal mengancam keberadaannya. Saat ini tercatat 721 spesies reptil di Indonesia, dan banyak di antaranya menghadapi risiko kepunahan. Oleh karena itu, Fakultas Kehutanan IPB, Fakultas Biologi UGM, dan Asosiasi Herpetologi Indonesia menggencarkan program Amfibi dan Reptil Kita (ARK) untuk memperkenalkan dan meningkatkan pemahaman publik tentang amfibi dan reptil. National Geographic mendukung program ini. Mereka menyelenggarakan Pelatihan Pengenalan dan Metode Observasi Herpetofauna yang mengundang 20 peserta dari komunitas pecinta amfibi dan reptil Yogyakarta, mahasiswa, dan masyarakat umum. Panitia melatih peserta mengidentifikasi berbagai spesies amfibi dan reptil—kadal, kura-kura, dan ular—serta teknik menangani gigitan ular. Peserta juga melakukan observasi lapangan di kawasan Menoreh, Kulon Progo untuk mengenal herpetofauna Indonesia secara langsung.
Meningkatkan Pemahaman
Acara Pelatihan Pengenalan dan Metode Observasi Herpetofauna di Fakultas Biologi dihadiri Amir Hamidy dan Evy Arida dari Museum Zoologi LIPI; Tri Maharani, pakar gigitan ular dan toksikologi; Rury Eprilurahman dan Donan Satria, pakar herpetologi Fakultas Biologi; serta pengamat herpetofauna Mila Rahmania.
Dekan Fakultas Biologi, Dr. Budi S. Daryono, berharap kegiatan ini meningkatkan pemahaman dan kesadaran generasi muda terhadap kekayaan hayati Indonesia, termasuk amfibi dan reptil, serta mengajak mahasiswa dan generasi muda berperan aktif dalam pelestarian. “Jangan biarkan keanekaragaman hayati kita lenyap dan hanya menjadi catatan sejarah; mari bersama menjaga serta melestarikan kekayaan hayati Indonesia.”