Sebagai pemimpin baru Indonesia di APEC, Presiden Joko Widodo berhasil menampilkan citra positif Indonesia. Dalam debut diplomatiknya, ia meraih berbagai apresiasi dari komunitas internasional. Meski demikian, sebagian pengkritik di dalam negeri tetap meragukan pengakuan tersebut. Jokowi menarik perhatian luas melalui presentasi selama 13 menit di KTT CEO APEC. Hingga Jumat, lebih dari 517.000 orang telah menonton video presentasinya. Tayangan itu menjadi salah satu video dengan jumlah penonton tertinggi. Mungkin berlebihan jika menyebut Jokowi berhasil mengalihkan perhatian dari para pemimpin dunia lain yang hadir di KTT APEC. Namun, antusiasme sejumlah CEO yang berebut berfoto selfie dengannya menunjukkan bahwa ia menjadi salah satu figur yang paling menarik perhatian.
Tidak ada hal yang benar-benar menonjol dalam pidato utama Jokowi di hadapan sekitar 1.500 CEO dari 21 ekonomi anggota APEC. Dalam forum tersebut, Presiden Joko Widodo mempromosikan peluang investasi dan kemudahan berusaha di Indonesia. Upaya itu bertujuan menarik lebih banyak investasi asing langsung. Pemerintah membutuhkan investasi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Potensi perlambatan ekonomi mendorong pemerintah meningkatkan arus investasi. Bank sentral bahkan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,1 persen. Angka tersebut berada di bawah target APBN 2015 sebesar 5,8 persen. Jokowi memilih pendekatan yang berbeda dari gaya pidato formal yang lazim pemimpin gunakan. Ia menggunakan presentasi PowerPoint yang sederhana dan mudah audiens pahami. Cara tersebut membantu penyampaian pesan kepada para peserta forum. Pendekatan itu juga menarik minat investor China. Mereka menyatakan komitmen investasi senilai 1,25 triliun dolar AS untuk sepuluh tahun mendatang.
Survei Gabungan
Di sisi lain, survei gabungan Lembaga Kebijakan Publik Paramadina, Kamar Dagang Amerika, dan KADIN menunjukkan rencana peningkatan investasi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut berencana menanamkan investasi hingga 65 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan. Belum ada kepastian bahwa seluruh komitmen investasi itu akan terealisasi. Namun, Jokowi dan pemerintahannya berhasil meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Investor, baik dari dalam maupun luar negeri, memiliki sejumlah alasan untuk mempertahankan dan memperluas investasinya di Indonesia, termasuk komitmen pemerintahan Jokowi terhadap reformasi serta reputasinya yang bersih dan transparan. Namun, keberhasilan visi tersebut sangat bergantung pada terjaganya stabilitas dan perdamaian, baik di tingkat nasional maupun global.
Sebagaimana ia sampaikan di China dan KTT Asia Timur di Myanmar, Jokowi memandang Indonesia sebagai kekuatan maritim global. Ia meyakini Indonesia dapat mewujudkan cita-cita tersebut jika kawasan Samudra Hindia dan Pasifik tetap damai dan stabil. Kondisi itu akan menjaga keamanan jalur perdagangan internasional. Ia menekankan pentingnya menghindari konflik terkait sumber daya alam dan sengketa wilayah, meskipun tidak secara langsung menyinggung Laut China Selatan. Kendati Indonesia bukan pihak yang mengklaim wilayah tersebut, meningkatnya ketegangan di kawasan ini tetap berpotensi berdampak langsung terhadap Indonesia. Dalam pidatonya pada KTT Asia Timur, Jokowi menguraikan agenda pemerintahannya untuk memperkuat kapasitas pertahanan maritim sebagai upaya melindungi kekayaan laut nasional serta menjamin keselamatan pelayaran dan keamanan di wilayah perairan. Indonesia sendiri memiliki tiga jalur laut internasional, termasuk Selat Malaka yang merupakan salah satu rute perdagangan paling sibuk di dunia.
Meningkatnya Ketegangan
Dengan mempertimbangkan potensi meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, Indonesia telah lama merancang penguatan pangkalan udara di Kepulauan Natuna yang berada di dekat kawasan sengketa tersebut. Langkah ini ditujukan agar skuadron pesawat tempur Sukhoi dapat ditempatkan lebih dekat ke wilayah operasi. Selain itu, Indonesia juga berencana menempatkan armada jet tempur F-16 di Pekanbaru yang lokasinya berdekatan dengan Natuna. Jokowi memanfaatkan rangkaian kunjungan luar negerinya selama sepekan untuk memperkenalkan arah dan karakter Indonesia di bawah pemerintahannya kepada komunitas internasional. Gaya diplomasinya yang terbuka dan langsung mungkin terkesan tidak lazim bagi seorang pemimpin berlatar belakang budaya Jawa, namun pendekatan tersebut berhasil memberikan gambaran yang jelas kepada dunia mengenai kepentingan, tujuan dan kontribusi yang ingin ditawarkan Indonesia.
Selama Jokowi menjalankan kunjungan ke luar negeri, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat masih belum berhasil mencapai kesepakatan meskipun perundingan antara Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat terus dilakukan. Sejak memulai masa kerjanya pada 1 Oktober, DPR diwarnai konflik politik yang berkepanjangan, sehingga menghambat pelaksanaan fungsi konstitusionalnya, termasuk dalam menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya.
Mengalami Kebuntuan
Setelah tercapai kesepakatan mengenai pembagian posisi pimpinan di komisi-komisi dan alat kelengkapan DPR bagi koalisi minoritas Indonesia Hebat, perundingan kembali mengalami kebuntuan saat membahas tuntutan koalisi tersebut untuk merevisi Undang-Undang MD3. Perdebatan terutama berfokus pada ketentuan yang memberi kewenangan kepada DPR untuk menggunakan hak interpelasi dan hak angket apabila pemerintah dianggap tidak menjalankan kesepakatan yang telah ditetapkan dalam rapat DPR. Di mata koalisi pendukung pemerintah, ketentuan tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi tersembunyi Koalisi Merah Putih untuk menekan dan membatasi ruang gerak pemerintah.
Perseteruan antara kedua koalisi politik ini turut meluas ke tingkat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta. Pada sidang paripurna yang digelar Jumat, anggota dari Koalisi Merah Putih memilih tidak hadir dalam agenda pengesahan pelaksana tugas Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, sebagai gubernur definitif pengganti Joko Widodo. Sementara itu, presiden dijadwalkan melantik Ahok setelah kembali dari rangkaian kunjungan luar negerinya.