Pada hari Minggu, pihak berwenang mencari ratusan orang yang hilang setelah beberapa hari hujan lebat tak biasa. Banjir itu menewaskan ratusan orang dan mengungsikan jutaan penduduk di seluruh Asia Tenggara.
Upaya penyelamatan berlangsung di Pulau Sumatra, kata Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Hujan lebat menggenangi desa, menutup jalan, dan merusak banyak jembatan. Situs resmi badan itu melaporkan petugas telah mengevakuasi hampir 300.000 orang hingga Sabtu, dan mereka memperkirakan hujan akan berlanjut.
Tim penyelamat memakai ekskavator untuk menggali reruntuhan dan mengirim bantuan dengan helikopter ke daerah yang tak terjangkau. Video menunjukkan tim penyelamat mengevakuasi korban selamat dari air banjir keruh di Sumatra, sementara angin merobohkan pepohonan.
Beberapa minggu terakhir, Indonesia termasuk negara Asia Tenggara yang terdampak curah hujan terberat dalam beberapa tahun. Angka resmi korban tewas melampaui 400 di Indonesia, 160 di Thailand dan 90 di Vietnam. Malaysia melaporkan tiga kematian serta kerusakan luas.
Belakangan ini banjir di selatan Thailand memaksa lebih dari dua juta orang mengungsi. Beberapa orang terpaksa bertahan di atap rumah sambil berpegangan pada kabel listrik untuk tetap hidup. Kondisi ini mendorong militer Thailand mengerahkan pasukan dan bantuan, termasuk kapal induk berhelikopter, tim medis dan dapur lapangan.
Cuaca Ekstrem
Para ahli mengatakan La Niña memperparah cuaca ekstrem belakangan ini; fenomena itu mendorong air hangat melintasi Pasifik ke Asia Timur dan menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan badai.
Di wilayah lain di Asia, banjir di Sri Lanka menewaskan 334 orang, dan layanan manajemen bencana melaporkan tim darurat telah menyelamatkan warga yang terjebak selama beberapa hari.
Hujan deras belakangan ini juga dipicu oleh dua siklon tropis yang melintas di kawasan ini. Badai-badai ini menghisap udara hangat dan lembap dalam jumlah besar ke arah pulau-pulau, sehingga menyebabkan curah hujan jauh lebih tinggi dari biasanya.
Salah satunya, Badai Tropis Koto, bergerak melintasi Laut China Selatan menuju Vietnam pada hari Minggu dengan kecepatan angin puncak 90 km/jam, menurut Pusat Peringatan Topan Gabungan Angkatan Laut AS.
Badai semacam ini jarang melintas di kawasan ini. Menurut Andri Ramdhani, Direktur Meteorologi Publik di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, posisi yang dekat dengan khatulistiwa membuat wilayah ini kurang mendukung pembentukan atau lintasan siklon tropis. Hal ini disebabkan minimnya putaran atau gaya Coriolis di daerah yang sangat dekat khatulistiwa, padahal putaran tersebut diperlukan agar badai bisa berkembang.