Seorang menteri senior mengatakan Indonesia akan terus memantau dampak banjir hebat di Sumatra sebelum memutuskan revisi target pertumbuhan ekonomi, karena analis memperingatkan bencana ini bisa menekan PDB nasional.
Siklon memicu banjir dan longsor yang meluluhlantakkan Pulau Sumatra. Data terbaru mencatat 770 korban tewas, dan think‑tank Celios memperingatkan bencana itu bisa memangkas perekonomian setidaknya Rp68,67 triliun. Putusnya akses transportasi mengganggu arus barang ke wilayah lain dan menyebabkan kerugian ekonomi.
Ketika wartawan menanyakan apakah banjir akan menahan pertumbuhan PDB, Menko Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah masih memantau bencana dan dampaknya terhadap ekonomi.
Airlangga mengatakan kepada wartawan di kantornya pada Rabu bahwa mereka akan terus memantau perkembangan dan memprioritaskan respons darurat.
Ia memberikan jawaban serupa saat wartawan tanya apakah pemerintah akan mengubah target tahunan dan target kuartal IV 2025.
Airlangga menyatakan pihaknya akan terus mengawasi perkembangan banjir di Sumatra.
Pemerintah memasang target pertumbuhan sekitar 5,2% yoy untuk 2025. Seminggu lalu Airlangga menyatakan keyakinannya bahwa PDB akan tumbuh 5,4–5,6% yoy pada kuartal IV 2025. Saat itu pemerintah meluncurkan paket stimulus baru, termasuk diskon tiket pesawat dua digit, untuk mendorong belanja liburan akhir tahun dan aktivitas ekonomi.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan 8% selama masa jabatannya; laju alami sekitar 5% membuat target ini menuntut upaya besar. PDB tumbuh 5,04% yoy pada kuartal III 2025.
Laporan Celios memperkirakan banjir di Sumatra menimbulkan kerugian ekonomi Rp68,67 triliun atau turun 0,29% PDB; kerugian di daerah terdampak meliputi Aceh Rp2,04 triliun; Sumatra Utara Rp2,07 triliun; Sumatra Barat Rp2,01 triliun. Jarak geografis tak menghalangi dampak merembet ke provinsi lain; Jakarta diperkirakan rugi Rp1,88 triliun. Perhitungan Celios memasukkan kerusakan infrastruktur dan rumah serta penurunan konsumsi akibat warga tidak bisa bekerja.
OECD memperkirakan PDB riil tumbuh 5% pada 2025 dan 2026, kemudian meningkat menjadi 5,1% pada 2027.