Pada akhir masa jabatan Jokowi, pemerintah menganggap Nusantara di Kalimantan Timur sebagai eksperimen berani dalam pembangunan nasional. Pemerintah merancangnya sebagai kota pintar berkelanjutan untuk mengalihkan pertumbuhan dari Jawa, sehingga proyek itu menjadi warisan terbesar Jokowi.
Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai simbol kebangkitan kekuatan yang percaya diri dan visioner, mampu merombak tata ruang sesuai ambisi nasional. Rencana itu menjangkau luas, menampilkan desain memukau dan Jokowi sampaikan dengan penuh keyakinan. Pemerintah memproyeksikan Nusantara sebagai kawasan hijau berteknologi digital, inklusif, dan tangguh—pusat baru bagi negara kepulauan yang berkembang.
Namun, setelah euforia pemilu 2024 meredup dan Prabowo Subianto resmi menjabat presiden, proyek ini mulai kehilangan momentum. Pembangun meninggalkan banyak derek yang semula menjulang di atas hutan Kalimantan Timur, sehingga kini mangkrak. Narasi transformasi nasional yang sempat bergema kini meredup menjadi keheningan birokrasi.
Yang dulu menjadi sorotan harian pada masa Jokowi kini semakin terpinggirkan di era Prabowo. Presiden baru tidak menyebut Nusantara dalam pidato resminya selama beberapa bulan pertama menjabat. Pemerintahnya diam‑diam memangkas anggaran proyek itu menjadi sebagian kecil dari perkiraan semula Rp466 triliun.
Bagi sebuah proyek yang bermaksud menentukan arah sepanjang abad ini, menghilangnya Nusantara dari panggung politik secara sembunyi-sembunyi memiliki makna yang mendalam sekaligus bernilai simbolis.
Prabowo menaruh prioritas yang berbeda. Kepemimpinannya, yang terpengaruh oleh pemikiran militer dan retorika nasionalistik bertahun‑tahun, terfokus pada tiga pilar utama: ketahanan pangan, kedaulatan energi dan modernisasi pertahanan.
Baginya, kekuatan bukan terletak pada simbol arsitektur, melainkan pada kemampuan nyata: memberi makan rakyatnya, menggerakkan industrinya, dan menjaga perbatasannya. Menurutnya, tujuan‑tujuan ini adalah wujud kemerdekaan yang sesungguhnya.
Pemerintah menempatkan proyek‑proyek megah seperti Nusantara—yang menonjolkan visi perkotaan mewah dan biaya selangit—jauh di bawah prioritas itu.
Memangkas Pendanaan
Anggaran ini mengungkapkan kenyataan ini lebih jelas daripada pidato mana pun. Rencana fiskal 2025—anggaran pertama di bawah pemerintahan Prabowo—memangkas pendanaan untuk Nusantara lebih dari separuh daripada tahun terakhir pemerintahan Jokowi.
Kementerian‑kementerian yang dulu sibuk mengoordinasikan pengadaan lahan dan pembangunan infrastruktur kini memusatkan perhatian pada revitalisasi pertanian, pengembangan biofuel dan pengadaan militer.
Dulu Jokowi menggelar rapat kabinet untuk mengecek kemajuan ibu kota; sekarang Prabowo lebih sering memimpin pertemuan tentang swasembada beras dan pengadaan drone. Perbedaan ini jelas, mengirimkan pesan politik yang tegas bahwa Nusantara tak lagi menjadi pusat proyek nasional.
Perubahan suasana politik ini bahkan tercermin dalam koalisi. Kabinet baru, yang loyalis Partai Gerindra dan teknokrat pragmatis dominasi, memandang Nusantara lebih sebagai beban warisan daripada sebuah misi yang harus mereka wujudkan.
Puan Maharani, Ketua DPR dan tokoh senior PDI‑P yang pernah mendukung visi Jokowi, memilih untuk tetap bungkam. PDI‑P—yang dulu menjadi basis politik bagi impian Jokowi—kini menempatkan diri sebagai oposisi yang loyal pasca pemilu 2024 yang pahit, sehingga tidak terburu‑buru membela proyek yang kini terabaikan secara politik.
Ketiadaan perdebatan atau pembelaan di lembaga legislatif menandai kemunduran akhir proyek ini menuju ketidakrelevanan—sebuah keheningan yang tampak sengaja dan berakibat fatal.
Tanda yang paling membingungkan mungkin justru datang dari Prabowo sendiri. Saat mendapat pertanyaan apakah ia akan melanjutkan rencana relokasi ibu kota yang Jokowi gagas, presiden menjawab secara samar, hanya menyatakan bahwa Nusantara akan tetap berstatus sebagai ibu kota simbolis.
Pernyataan ini sangat kabur, seolah menguatkan dugaan banyak pihak: Prabowo tidak berniat memindahkan pusat pemerintahan ke Nusantara, namun juga enggan secara terbuka membatalkan proyek tersebut.
Ibu Kota Simbolis
Pemerintah menetapkan Nusantara sebagai ibu kota simbolis sebagai eufemisme sempurna bagi keraguan — istilah politis sementara yang memungkinkan mereka menghindari benturan dengan loyalis Jokowi sambil sembunyi-sembunyi membiarkan proyek itu meredup dan kehilangan relevansi. Para aktor politik sering memakai ambiguitas sebagai strategi; pernyataan semacam ini sama dengan menjatuhkan hukuman mati terselubung terhadap proyek tersebut.
Secara ekonomi, gagasan Nusantara sejak awal menunjukkan kerentanan meski pemerintah membalutnya dengan retorika pemerataan. Jokowi beralasan bahwa pemindahan ibu kota akan meratakan pembangunan, mengalihkan pertumbuhan ke pulau‑pulau yang terabaikan, dan mengurangi kemacetan di Pulau Jawa.
Namun para ekonom tetap ragu. Ketimpangan geografi ekonomi sangat tajam: lebih dari 80% PDB, investasi dan output industri masih terpusat di dua pulau utama, Jawa dan Sumatra. Biaya logistik antar pulau yang tinggi dan ketidakefisienannya membuat sulit bagi satu kota baru untuk mendorong transformasi ekonomi nasional.
Mendirikan kota baru dari nol—yang terpisah dari jalur perdagangan mapan, universitas besar dan kumpulan tenaga kerja terampil—memang rentan. Pertumbuhan ekonomi bergantung pada konektivitas dan kepadatan pasar, bukan sekadar jarak atau simbolisme. Dengan memindahkan ibu kota ke pedalaman Kalimantan, Jokowi pada dasarnya bertaruh bahwa kehadiran pemerintahan saja akan mampu mendorong pertumbuhan.
Pengalaman proyek serupa di negara lain—seperti Brasilia, Naypyidaw dan ibu kota administratif baru Mesir—justru menunjukkan hasil yang berbeda. Kota‑kota ini sering berubah menjadi pulau administratif yang terpisah dari arus ekonomi utama. Nusantara berpotensi mengalami nasib serupa: sebuah enklaf birokrasi di tengah hutan yang bergantung pada pengeluaran negara, bukan pada produktivitas organik.
Investor swasta sudah menyadari hal ini sejak awal. Walaupun Jokowi rajin melakukan kunjungan lapangan, modal asing enggan cepat berkomitmen. Perusahaan Jepang dan Korea Selatan yang semula menunjukkan minat pada pembangunan infrastruktur akhirnya menahan atau mengurangi investasinya karena ketidakpastian soal aturan lahan, standar lingkungan dan prospek pengembalian jangka panjang.
Sikap Hati-hati
Konglomerat lokal juga bersikap hati‑hati karena khawatir terhadap risiko politik dari pergantian kepemimpinan. Saat kemenangan Prabowo tampak pasti, banyak yang sembunyi-sembunyi menarik diri, mengantisipasi pergeseran prioritas nasional.
Di tengah kekosongan ini, perusahaan milik negara asal China maju menawarkan teknologi dan paket pembiayaan untuk infrastruktur kota pintar, sistem pengawasan serta jaringan energi. Namun keterlibatan mereka justru memperkuat kekhawatiran publik.
Kritikus menilai ketergantungan Nusantara pada teknologi China sebagai kerentanan strategis. Publik menilai pembangunan ibu kota merdeka yang mengandalkan infrastruktur digital China bertentangan dengan sentimen nasionalis, sehingga mereka melihat Nusantara bukan sebagai simbol kedaulatan melainkan monumen ketergantungan.
Saat Prabowo memimpin, kelelahan fiskal, keluarnya investor dan skeptisisme nasionalis menggerus momentum proyek ini. Memangkas anggaran bukan sekadar keputusan fiskal yang rasional, melainkan juga langkah yang aman secara politik. Publik sedikit memprotes; banyak orang justru sembunyi-sembunyi setuju. Masyarakat yang lelah dengan janji‑janji besar yang jarang terasa menerima baik pengalihan dana dari rencana gedung pencakar langit futuristik ke sawah dan kilang minyak.
Selain soal ekonomi, retorika politik tidak mampu menghapus faktor geografi yang keras. Para perencana menempatkan Nusantara di antara hutan‑hutan dekat Balikpapan dan Samarinda sebagai titik pusat geografis—sebuah simbol persatuan nasional.
Namun pada kenyataannya, penempatan ini menjauhkan ibu kota dari pusat demografi dan aktivitas industri. Sekitar 60% dari 280 juta penduduk bermukim di Jawa, sedangkan sekitar 20% tinggal di Sumatra. Kalimantan justru jarang penduduknya, dengan infrastruktur yang terbatas dan konektivitas yang lemah ke pelabuhan utama serta rantai pasokan.
Biaya logistik untuk menjalankan pemerintahan dari lokasi semacam ini akan sangat besar. Para menteri, pelaku usaha, jurnalis dan diplomat akan terus menghadapi kendala jarak. Selain itu, dampak lingkungan dari membangun kota metropolitan di salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia akan semakin menambah beban tersebut.
Makna simbolis pemindahan ke tengah mulai memudar di hadapan tuntutan praktis. Dalam banyak hal, Nusantara justru bertentangan dengan realitas geografis.
Pertimbangan Keamanan
Pertimbangan keamanan makin memperumit situasi. Sebagai prajurit berpengalaman, Prabowo lebih menyadari kerentanan strategis Kalimantan daripada kebanyakan orang. Pada Perang Dunia II, Jepang menyerbu Tarakan pada 1942, cepat menguasai fasilitas minyaknya dan menjadikannya pijakan untuk mengendalikan seluruh Kalimantan.
Pelajaran itu menunjukkan bahwa kepulauan yang luas dan berpori sulit pemerintah pertahankan. Karena Indonesia berbatasan dengan Malaysia dan memiliki batas laut dengan Filipina, kawasan ini sangat rentan secara geopolitik.
Bagi presiden yang mengutamakan kemandirian strategis, rencana memindahkan pusat komando negara ke lokasi semacam ini bisa tampak terlalu naif dan berbahaya. Walau teknologi komunikasi semakin maju, jarak tetap mengurangi efektivitas pengendalian. Ibu kota seharusnya menjadi alat proyeksi kekuatan, bukan menjauhkan pusat otoritas.
Dalam keadaan ini, desain Nusantara yang menegaskan inklusivitas justru dapat menjadikannya sumber kerentanan. Mundurnya Prabowo dari proyek ini mencerminkan bukan hanya pertimbangan fiskal, melainkan juga naluri militer: keyakinan bahwa kekuatan nasional paling efektif bila berakar di wilayah yang kuat secara logistik, demografis dan industri.
Kemunduran sunyi Nusantara juga memperlihatkan sesuatu yang lebih mendalam tentang budaya politik: kecenderungan untuk menghapus masalah daripada menghadapinya. Proyek ini tidak pernah secara formal dibatalkan, dan tidak ada pernyataan resmi yang menyatakan bahwa inisiatif tersebut telah berakhir.
Sebaliknya, inisiatif-inisiatif ini dibiarkan meredup karena diabaikan—sebuah cara penguburan politik yang menghindari akuntabilitas. Pola semacam ini kerap muncul dalam sejarah pembangunan: proyek yang lahir pada satu periode sering tidak bertahan ke periode berikutnya, terutama bila diprakarsai oleh presiden yang bersaing.
Bagi Prabowo, sikap menahan diri ini punya beberapa tujuan. Ia dapat menyusun ulang prioritas tanpa berkonfrontasi langsung dengan Jokowi yang masih berpengaruh. Selain itu, tindakan tersebut mengirim sinyal kepada elite politik bahwa kepresidenannya akan didasarkan pada pragmatisme strategis, bukan sekadar simbolisme.
Kejayaan Nasional
Dengan mengalihkan perhatian dari proyek ibu kota, Prabowo menegaskan bahwa kejayaan nasional tak bisa dicapai hanya lewat rencana di atas kertas. Kejayaan ini harus dibangun melalui ketahanan, peningkatan produktivitas dan kemandirian. Meski langkahnya pragmatis, mundurnya dukungan terhadap Nusantara tetap meninggalkan kekosongan.
Tempat ini, separuh selesai dan separuh terlantar, kini menjadi monumen yang mengingatkan pada rapuhnya ambisi politik. Impian tentang kesetaraan dan modernitas yang semula menggerakkan proyek ini berubah menjadi contoh betapa singkatnya umur gagasan tersebut.
Hutan yang ditebang demi pembangunan kini sebagian berubah menjadi lahan tandus, sementara fondasi beton terkikis oleh hujan tropis. Ini adalah fragmen yang belum tuntas dalam narasi nasional—sebuah kalimat yang ditulis tergesa-gesa dan ditinggalkan di tengah jalan.
Meski begitu, cerita Nusantara bukan sekadar kisah kegagalan; ia juga menjadi pengungkapan. Kasus ini memperlihatkan keterbatasan wewenang presiden dalam demokrasi, di mana pergeseran kekuasaan bisa mengubah prioritas nasional dalam sekejap.
Ini memperlihatkan bahwa meski sebuah visi bisa menginspirasi, ia tak akan bertahan tanpa landasan ekonomi dan kesepakatan politik. Yang paling mengena, gagasan memindahkan ibu kota bukan sekadar persoalan geografis melainkan juga soal psikologi—upaya melepaskan diri dari bayang‑bayang dominasi Jawa—namun pada akhirnya aturan tak mampu menyingkirkan kenyataan geografi.
Nusantara versi Jokowi lahir dari optimisme sekaligus ketidaksabaran—percaya bahwa perubahan bisa diwujudkan dengan memindahkan ibu kota. Sebaliknya, pendekatan Prabowo lebih berhati‑hati dan terukur, berlandaskan keyakinan bahwa kedaulatan bermula dari kekuatan fisik seperti tanah dan fasilitas, bukan sekadar arsitektur. Di antara kedua visi ini terbentang jurang antara imajinasi dan ketahanan.
Nusantara, yang semula dibayangkan sebagai kota masa depan, kini menjadi peninggalan masa lalu—pengingat bahwa bahkan ambisi terbesar bisa runtuh oleh tarikan pragmatisme yang tenang. Dalam pengertian ini, Nusantara memang berubah menjadi apa yang tanpa sengaja disebut Prabowo: sebuah ibu kota simbolis, bukan untuk masa depan, melainkan untuk dilupakannya agenda politik.