El Nino Memicu Kebakaran Hebat, Indonesia Terpuruk

memahami El Nino sebagai

Banyak orang memahami El Nino sebagai pola cuaca siklik yang membawa hujan deras dan badai kuat. Namun, tidak semua wilayah menjadi lebih basah; beberapa justru mengalami kekeringan karena badai bergeser ke timur. Pada 2015, kondisi kering itu memicu salah satu musim kebakaran terburuk yang pernah tercatat.

Robert Field dari Universitas Columbia di Institut Studi Antariksa Goddard NASA menyebut kebakaran ini paling signifikan 15 tahun. Kepulan asap meluas hampir setengah keliling khatulistiwa, dan wilayah rawan kebakaran tertutup asap tebal. Kondisi itu berlangsung enam hingga delapan minggu berturut-turut.

Selain merusakan infrastruktur, kebakaran ini juga menurunkan kualitas udara secara lokal dan regional. Awal September, enam provinsi menetapkan status darurat akibat kabut asap dari karbon monoksida dan polutan kebakaran. Field mengatakan polusi sangat tinggi, berbahaya terus-menerus, dan mengancam kesehatan masyarakat. Dampaknya meluas ke Asia Tenggara, termasuk Singapura, Malaysia barat, dan Thailand selatan.

Faktor tak Terduga

Field mengatakan ada faktor tak terduga yang memperparah kebakaran: lahan gambut. Hutan menyimpan sekitar 60% gambut tropis dunia, tempat material organik terakumulasi menjadi lapisan gambut yang bisa mencapai kedalaman 10 m. Menurutnya, saat api merembet ke gambut bawah tanah, api terus menyala hingga hujan musiman kembali. Pada episode El Nino, hujan itu datang lebih lambat sehingga kebakaran terus membara dan menghasilkan asap tanpa henti. Tim pemadam tidak dapat memadamkannya dengan cara pemadaman konvensional.

Field dan timnya menganalisis data dari Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) dan empat instrumen satelit lain, serta catatan visibilitas bandara, untuk memahami kekeringan yang memicu kebakaran 2015. Dengan memeriksa kadar karbon monoksida, jumlah aerosol dan tanda termal kebakaran aktif, mereka mampu melacak kejadian saat berlangsung dan menempatkannya dalam konteks episode kebakaran sebelumnya dalam rekaman satelit 15 tahun. Field menyebut AIRS sebagai sumber utama untuk memantau sebaran kepulan asap, dan bersama pengukuran lain, data ini memberi gambaran menyeluruh tentang dampak kebakaran.

Analisis ini juga membantu tim menentukan ambang curah hujan muson—titik batas di mana kondisi terlalu basah untuk kebakaran. Field mengatakan jika curah hujan berada di bawah ambang tersebut, gambut punya waktu mengering di bawah panas khatulistiwa. Semakin jauh curah hujan turun di bawah ambang dan semakin lama musim kemarau, semakin banyak kebakaran yang muncul.

Korelasi antara ambang curah hujan dan lonjakan aktivitas kebakaran tampak konsisten di semua data satelit yang dianalisis, sehingga ambang ini menjadi indikator berguna untuk memprediksi dan mempersiapkan potensi kebakaran. Field mengatakan karena El Nino berdampak langsung pada curah hujan, kondisi ini bisa diperkirakan lebih awal; ambang curah hujan berfungsi sebagai sinyal bahaya dan sistem peringatan dini, ibarat melihat kereta barang yang mendekat.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *