Pacific Partnership 2016 berlangsung di atas kapal rumah sakit USNS Mercy (T‑AH 19). Kapal meninggalkan pemberhentian kelima dan terakhirnya di Padang pada 30 Agustus. Misi itu menyelesaikan dua minggu kerja sama dan pelatihan tanggap bencana. Kegiatan mencakup pertukaran keahlian medis dan teknik. Ada juga keterlibatan kesehatan bersama dan kegiatan hubungan masyarakat.
Tahun ini menandai kunjungan kelima misi ini dalam kurun 11 tahun. Personel Pacific Partnership berkolaborasi dengan TNI, pemimpin sipil dan pejabat Padang untuk meningkatkan interoperabilitas serta mempererat hubungan.
Latihan lapangan penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan menjadi fokus utama. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 200 peserta, termasuk personel Pacific Partnership dan berbagai instansi, dari pemimpin pemerintahan hingga militer nasional.
Letnan Kolonel Marinir Andrew Rice adalah kepala staf dan perencana utama HADR Pacific Partnership 2016. Ia mengatakan bahwa mereka menggelar latihan lapangan di tiga lokasi di dalam dan sekitar Padang. Para peserta mengoordinasikan dan melaksanakan rencana tanggap untuk dua simulasi gempa dan kerusuhan kota. Panitia mengadakan dua fase pertama di lapangan sepak bola Imam Bonjol sebagai titik pengumpulan korban. Penjaga pantai, kapal Mercy, dan helikopter Skuadron HSC-21 melakukan penyelamatan di perairan pada fase ketiga di Pelabuhan Bungus. Panitia mengadakan fase keempat dan kelima di pabrik semen pinggiran Padang, dengan simulasi ledakan yang menimbulkan kontaminasi kimia.
Rice menyebut puncak latihan saat interoperabilitas terlihat jelas: perahu penyelamat Mercy mengangkut korban simulasi ke KRI Makassar (590) LPD, sementara penjaga pantai memindahkan korban simulasi ke Mercy.
Tujuan Utama
Rice mengatakan tujuan utama mereka adalah membantu membangun ketahanan terhadap berbagai bencana. Mereka ingin mitra regional mampu merespons cepat dan efektif saat bencana, lalu pulih pasca-bencana. Dengan menguji prosedur operasi standar dan melatih simpul komando serta kendali lewat simulasi, kita bisa menemukan celah atau kekurangan sekarang, sebelum menghadapi situasi serupa di lapangan.
Insinyur Pacific Partnership bersama TNI membangun pusat komunitas, jalan evakuasi dan toilet umum untuk warga Padang; jalan evakuasi ini berupa beton baru yang menyediakan jalur aman bagi masyarakat mengungsi saat bencana.
Letnan Steve Moyer, insinyur misi Pacific Partnership 2016, mengatakan bahwa jika terjadi bencana dan masyarakat mendapat peringatan atau waktu untuk mengungsi, jalan evakuasi ini akan mempercepat proses evakuasi dari kawasan tersebut secara signifikan.
Moyer menyatakan pusat komunitas ini dirancang berfungsi ganda: sebagai tempat berlindung yang aman saat terjadi insiden dan sebagai balai komunitas untuk kegiatan berkumpul warga pada kondisi normal.
Personel Pacific Partnership juga bekerja berdampingan dengan rekan-rekan Indonesia dalam pertukaran ahli medis, penyuluhan kesehatan masyarakat dan kegiatan pembersihan pantai; mereka bersama-sama menyelenggarakan seminar Perempuan, Perdamaian dan Keamanan serta simposium manajemen bencana untuk bertukar pengetahuan dan berdiskusi.
Keberangkatan Pacific Partnership 2016 dari Padang menandai berakhirnya misi tahun ini setelah singgah di enam pelabuhan, termasuk Timor Leste, Filipina, Vietnam, Palau dan Malaysia. Kapal Mercy kini kembali menuju pelabuhan asalnya di San Diego.