Inklusi Keuangan Naik, Risiko dan Ketimpangan Meningkat

Teknologi mengubah partisipasi ekonomi

Teknologi mengubah partisipasi ekonomi, distribusi manfaat pertumbuhan, dan ketahanan komunitas terhadap guncangan yang semakin sering. Digitalisasi dan sinergi kebijakan‑pasar mendorong lonjakan inklusi keuangan secara global dalam dekade terakhir. Awal 2010-an, sekitar separuh orang dewasa memiliki akses layanan keuangan formal; kini akses itu umum di banyak negara.

Banyak kemajuan ini terjadi di negara-negara berkembang, di mana akses tumbuh dengan cepat. Indonesia, negara dengan populasi terbesar keempat, menjadi contoh penting manfaat dan tantangan teknologi untuk memperluas inklusi keuangan. Pengalaman Indonesia memberi pelajaran bagi negara lain yang ingin meningkatkan akses ke layanan keuangan digital.

Upaya ini mendesak karena Indonesia adalah negara kepulauan dengan keragaman geografis, ekonomi, dan tingkat digitalisasi. Negara seperti ini membutuhkan inklusi keuangan untuk menopang mata pencaharian dan ketahanan rumah tangga. Inklusi juga penting untuk kelangsungan usaha mikro dan kecil selama periode ketidakpastian ekonomi. Oleh karena itu teknologi inklusif harus praktis, tepercaya dan dapat meluas secara nasional tanpa menimbulkan biaya tersembunyi.

Teknologi inklusif berlandaskan dua tujuan yang saling terkait: akses untuk semua dan tanggung jawab berskala luas.

Selama ini jutaan orang tidak memiliki akses ke layanan keuangan formal. Teknologi seharusnya memangkas hambatan masuk, dan dalam hal ini pintu masuk utamanya adalah akses terhadap pembiayaan.

Pada 2016 Indonesia meluncurkan Strategi Nasional Inklusi Keuangan, menargetkan 90% penduduk memiliki akses layanan keuangan formal pada 2024. Konsistensi kebijakan dan cepatnya adopsi digital memperluas akses, menurunkan biaya, mengatasi jarak dan birokrasi, serta menjangkau wilayah beragam infrastruktur.

Skala digital memperkuat dampak. Lebih dari 80% penduduk, sekitar 220 juta orang, terhubung secara digital. Hal ini menjadikan Indonesia pasar dengan keterlibatan digital yang sangat tinggi. Konektivitas tinggi mempercepat adopsi, menurunkan biaya distribusi, dan mengubah layanan keuangan dari pilot menjadi program nasional cepat.

Membangun Kepercayaan

Dalam hal ini, inklusi bukan sekadar peluncuran fitur baru; yang penting adalah apakah teknologi mudah masyarakat gunakan, terjangkau dan cukup aman untuk membangun kepercayaan. Masyarakat berperan aktif, bukan penerima pasif; sebagai pengguna akhir sistem pembayaran, literasi, kepercayaan diri dan kebiasaan sehari-hari mereka menentukan keberlanjutan inklusi.

Di tingkat infrastruktur, inklusi menuntut integrasi, interkonektivitas dan interoperabilitas. Cetak Biru Sistem Pembayaran BI memperlihatkan cara mendorong inklusivitas dan interoperabilitas secara bersamaan. Salah satu pencapaian pentingnya adalah QRIS, sistem pembayaran QR terstandar yang memungkinkan pelaku industri memakai satu instrumen pembayaran dan bertransaksi lintas platform. QRIS juga menciptakan lapangan bermain yang lebih setara, sehingga pedagang kaki lima dan usaha mikro bisa menerima pembayaran non-tunai semudah perusahaan besar, memperluas manfaat keuangan digital ke seluruh lapisan ekonomi.

Dalam ekosistem ini, langkah berikutnya adalah beralih dari sekadar memperluas akses menuju peningkatan kesehatan keuangan—dan sektor swasta memegang peran penting. Platform teknologi seperti DANA dapat mengubah fondasi nasional menjadi partisipasi sehari-hari; lebih dari 200 juta orang (lebih dari separuhnya) menggunakan layanan DANA, termasuk lebih dari satu juta UMKM.

Layanan dari perusahaan swasta seperti DANA kini melampaui fungsi dasar pasar digital—seperti pemrosesan pembayaran dan dompet digital—menjadi solusi yang lebih canggih yang membantu orang mencapai tujuan keuangan sesuai pilihannya.

Misalnya, DANA turut memperbesar basis investor secara keseluruhan. Dengan membuka akses investasi lewat aplikasinya, lebih dari empat juta orang dari total 17 juta investor telah mendapatkan ID investor sehingga bisa mulai berinvestasi.

Keterlibatan investor meluas ke kelompok usia lebih muda dan wilayah di luar Jawa. Sekitar 40% investor reksa dana aktif di DANA berasal dari luar Jawa, sedangkan secara nasional sekitar 70% investor masih terkonsentrasi di pulau tersebut. Lebih dari separuh investor DANA berusia 17–25 tahun, menandakan investasi semakin menjadi kebiasaan finansial generasi Z.

Produk Mikroasuransi

Bukan sekadar investasi; setiap bulan pengguna DANA rata‑rata membeli lima produk mikroasuransi, beberapa dengan harga mulai dari Rp400.

Pemerintah dan pelaku industri harus melengkapi inklusi dengan tata kelola dan pengendalian yang kuat karena risiko terus berkembang. Penipuan dan kecurangan menyebabkan kerugian sekitar 0,2% dari PDB, yang menunjukkan betapa cepatnya risiko digital tumbuh seiring inovasi. Oleh karena itu, penekanan BI pada mitigasi risiko, perlindungan konsumen dan ketahanan sistem sangat tepat waktu. Kepercayaan menjadi dasar keberlanjutan inklusi.

Teknologi inklusif harus menampakkan efisiensi secara nyata. Meski banyak orang menganggap keuangan digital lebih ramah lingkungan daripada sistem tradisional, anggapan itu tidak selalu benar dan tidak boleh hanya berdasarkan asumsi. Platform yang beroperasi pada skala nasional harus mengukur dan mengelola dampak lingkungan secara aktif.

Perubahan iklim berdampak nyata pada sistem pangan, komunitas pesisir, peningkatan risiko cuaca ekstrem dan ketahanan ekonomi jangka panjang. Bagi DANA, pendekatannya dimulai dari disiplin operasional: mengukur dampak terlebih dahulu lalu melakukan perbaikan. Rata‑rata setiap transaksi di DANA menghasilkan sekitar 0,14 gram CO2 ekuivalen, yang mencerminkan efisiensi model berorientasi digital.

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan pemimpin pertumbuhan fintech, Indonesia berada pada posisi strategis untuk ikut menentukan fase berikutnya teknologi inklusif. Tanggung jawab ini semakin besar seiring kemajuan pembahasan Kerangka Kerja Ekonomi Digital ASEAN. Seiring meluasnya perdagangan lintas batas, pariwisata dan layanan digital, sistem pembayaran yang interoperabel dan terpercaya akan menjadi kunci untuk mengurangi hambatan, menekan biaya transaksi, dan mempermudah partisipasi individu serta UMKM dalam ekonomi regional.

Masa Depan

Masa depan fintech bukan hanya soal seberapa cepat fitur diluncurkan, melainkan seberapa efektif industri membangun kepercayaan secara luas. Produk harus dirancang untuk kondisi nyata dan berbagai tingkat kepercayaan finansial. Keamanan wajib menjadi komitmen inti produk, didukung oleh edukasi, penggunaan data yang bertanggung jawab dan tata kelola yang kuat. Selain itu, industri harus disiplin terhadap jejak lingkungan dengan mengukur dampak, meningkatkan efisiensi, dan menerapkan pengendalian yang transparan.

Saat inklusi untuk semua dipadukan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan, fintech menjadi lebih dari sekadar cerita pertumbuhan; dampaknya meluas, memberi manfaat bagi manusia sekarang sekaligus menjaga planet yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *