Penguatan Rupiah di Tengah Ketidakpastian

membahas arah kebijakan moneter

ECB akan menggelar pertemuan pada hari Kamis untuk membahas arah kebijakan moneter. Spekulasi terus berkembang bahwa ECB akan meluncurkan program pelonggaran kuantitatif untuk merangsang pertumbuhan ekonomi kawasan Euro. Sejumlah analis memperkirakan paket QE mencapai 550 miliar euro, meningkatkan likuiditas global dan mengalir sebagian ke pasar Asia.

Nilai tukar dolar AS berpotensi melemah akibat aksi profit-taking. Hal ini menyusul lonjakan penguatan signifikan pada mata uang negara dengan perekonomian terbesar.

Beberapa faktor domestik memberikan dampak positif pada pergerakan nilai tukar rupiah hari ini. Faktor itu mendorong penguatan pasar obligasi dan menekan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun ke level terendah sejak Oktober 2013.

Pada Selasa, 20 Januari 2015, Kementerian Keuangan melelang obligasi konvensional senilai Rp17,3 triliun, melampaui target Rp12 triliun. Penawaran obligasi memberikan imbal hasil yang lebih rendah daripada lelang 6 Januari 2015. SUN tenor satu tahun mencatat imbal hasil rata-rata tertimbang 6,44242%. Tenor sembilan tahun tercatat 7,47718% dan tenor 19 tahun 7,92764%. Total penawaran masuk mencapai Rp54,785 triliun, dengan rasio bid-to-cover tertinggi 5,83 pada SUN satu tahun.

Sisi Politik

Dari sisi politik, investor merasa lega dengan meningkatnya stabilitas politik, terutama setelah seluruh partai di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sepakat mendukung pemilihan kepala daerah secara langsung. Sebelumnya, pada bulan September 2014, DPR yang segera mengakhiri masa tugasnya telah mengesahkan rancangan undang-undang (RUU) kontroversial yang sempat menuai kritik dari berbagai media dan analis. RUU tersebut menghapus mekanisme pemilihan langsung dan menyerahkan wewenang kepada DPRD untuk memilih kepala daerah seperti walikota, bupati dan gubernur. Para kritikus menilai langkah ini sebagai kemunduran demokrasi dan membuka peluang korupsi dalam proses pemilihan. Menyikapi hal ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu menerbitkan keputusan presiden yang membatalkan persetujuan DPR tersebut. Akhirnya, pada tanggal 20 Januari 2015, DPR menyatakan dukungannya kembali terhadap pemilihan kepala daerah secara langsung.

Selain meningkatnya stabilitas politik, para investor juga menyambut baik langkah Presiden Joko Widodo yang menunaikan komitmennya untuk mereformasi sistem subsidi bahan bakar minyak. Pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada November 2014 dan menghapus sebagian besar subsidi pada Januari 2015. Reformasi ini menambah ruang fiskal sehingga pemerintah dapat melakukan pembangunan ekonomi dan sosial, sejalan dengan target Presiden Jokowi mendorong pertumbuhan PDB mencapai 7% tahunan pada akhir masa jabatan pertamanya.

Meski mengalami penguatan sesaat, rupiah diproyeksikan tetap berada dalam tren pelemahan sepanjang semester pertama tahun 2015. Hal ini dipicu oleh dominasi pergerakan naik dolar AS serta tekanan berkelanjutan yang bersumber dari defisit transaksi berjalan yang signifikan.

Pada hari Rabu, tanggal 21 Januari 2015, kurs referensi rupiah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mengalami kenaikan sebesar 0,81%, mencapai Rp12.557 per dolar AS.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *