Pada Oktober 1945 Australia mengirim misi diplomatik pertama ke Indonesia untuk mendorong pengakuan Republik Indonesia yang baru merdeka.
Tujuh minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, tim kecil Australia tiba di Bandara Kemayoran. William McMahon Ball memimpin tim itu sebagai bagian dari misi diplomatik awal.
Sebagai calon komisaris tinggi, Ball sempat menjalankan misi pengumpulan intelijen selama beberapa hari yang menghasilkan informasi penting. Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu, Jenderal Philip Christison, menolak mengakui kredensial diplomatik Ball dan memaksa misi meninggalkan Indonesia. Kalangan diplomatik dan akademik mengenal misi Ball secara luas, tetapi arsip resmi Australia mengabaikan rincian peristiwa itu.
Australia sebenarnya berpeluang meraih pencapaian besar apabila berhasil mengakui dan menjalin hubungan diplomatik. Inggris, bertindak atas nama Belanda sebagai sekutu perang, ingin memulihkan kekuasaan kolonial Belanda dan mengelola wilayah itu sebagai Hindia Belanda.
Upaya mengembalikan kekuasaan Belanda menjadi pemicu langsung terjadinya Pertempuran Surabaya. Gagalnya kebijakan untuk mempertahankan dominasi Belanda justru membuat posisi Inggris rawan dan terancam selama beberapa tahun setelahnya.
Jenderal Christison menginstruksikan pasukan pengawalnya menjemput Macmahon Ball dan memerintahkan perwira mengantar Ball ke Bandara Kemayoran. Christison memerintahkan pasukan pengawal menerbangkan Ball ke Singapura dengan pesawat militer dari Bandara. Memoarnya Life and Times of General Sir Philip Christison tersimpan di Museum Angkatan Darat Chelsea sejak 1993. Ia menulis bahwa secara naluriah ia tidak menyukai Macmahon Ball.
Dugaan awal menyebut Dr. Peter Russo sebagai inisiator misi Macmahon Ball; ia pakar hubungan Jepang dan Asia. Russo, rekan kerja Ball di Melbourne dan komentator ABC, menyarankan Australia mengakui Republik Indonesia yang baru. Russo berargumen bahwa Indonesia kelak akan menguasai bekas Hindia Belanda, sehingga Australia perlu mengakuinya. Menurut Russo, jika Belanda bersikap lebih lunak, Indonesia bisa menjadi mitra setia bagi Belanda dan Australia.
Surat Kepercayaan
Menteri Luar Negeri HV Evatt menerbitkan surat kepercayaan untuk Macmahon Ball, menyusun instruksi, dan mengalokasikan dana pembentukan komisi tinggi; keputusan itu tampak bersifat pribadi sesuai gaya kerjanya yang mandiri.
Misi itu berujung pada kegagalan; tim akhirnya diterbangkan ke Singapura dan penjelasan Christison baru terungkap belakangan. Macmahon Ball dan rekan-rekannya kembali tanpa hasil, sementara Christison mengerahkan pasukan Inggris-India dan Jepang untuk menumpas kekuatan republik di Bandung, Bogor, Cirebon, dan Semarang pada akhir Oktober hingga awal November 1945. Langkah itu dimaksudkan membuka jalan bagi kembalinya militer Belanda, yang setelah reorganisasi di Singapura dan Malaya akan melanjutkan pemerintahan pascaperang melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
Kebijakan Christison hampir menghabiskan pasukan Inggris-India, terutama setelah kegagalan merebut pelabuhan Surabaya dan serangan lanjutan dua minggu kemudian yang kini dikenang sebagai Pertempuran Surabaya. Para komandan Inggris awalnya memperkirakan perlawanan republik padam dalam tiga hingga empat hari, namun 20 hari kemudian mereka menyadari pertempuran itu terlalu mahal dan sia-sia, menelan ratusan korban jiwa di antara tentara Inggris yang berharap segera kembali ke kehidupan sipil.
Keputusan akhir berada di tangan diplomasi Australia. Setelah tragedi di Surabaya, Jenderal Christison dipindahkan ke posisi yang kurang berpengaruh di Inggris. Sementara itu, berkat relasi erat antara Macmahon Ball dan Perdana Menteri pertama, Sutan Syahrir, Indonesia menetapkan Australia sebagai salah satu dari tiga anggota Komite Jasa Baik. Komite ini kemudian berperan penting dalam tercapainya pengakuan kedaulatan penuh pada tahun 1950. Peristiwa pengusiran Macmahon Ball pada tahun 1945 pun terlupakan dalam sejarah.