Setelah berbulan-bulan stagnasi, pasar nikel menunjukkan pergerakan harga signifikan dan perubahan kebijakan yang menandai potensi titik balik industri. Pada akhir Desember 2025, CEO Canada Nickel, Mark Selby, menyampaikan pembaruan menyeluruh mengenai dinamika pasar. Ia menyoroti strategi pasokan yang Indonesia jalankan, lonjakan permintaan kendaraan listrik, serta kemajuan proyek pengembangan Amerika Utara. Investor melihat perkembangan ini sebagai pergeseran besar dari dominasi harga yang China kendalikan sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Pemerintah Indonesia Menegaskan Kontrol atas Pasokal Nikel
Perkembangan utama pasar nikel berasal dari kebijakan terkoordinasi Indonesia. Kebijakan ini bertujuan mengatur pasokan. Langkah tersebut juga meningkatkan nilai tambah. Indonesia menegaskan posisinya sebagai produsen nikel terbesar dunia. Dengan menguasai sekitar dua pertiga pasokan global, pemerintah semakin tegas memperkuat kontrol atas industri nikel.
Sejak Agustus 2025, Indonesia memangkas masa berlaku izin pertambangan dari tiga tahun menjadi satu tahun untuk mengatur pasokan. Pada September, otoritas menutup tambang kecil karena pelanggaran kehutanan. Desember, pemerintah menetapkan denda besar per hektare. Akhir November 2025, pemerintah melarang pembangunan pabrik HPAL dan NPI baru. Pemerintah hanya akan menyetujui fasilitas pengolahan hilir ke depan.
Langkah kebijakan ini bukan reaksi spontan, melainkan respons terukur terhadap tantangan sumber daya mendasar. Kadar bijih saprolit Indonesia mengalami penurunan dua digit daripada tahun lalu. Saprolit adalah bahan utama produksi NPI dan matte. Produksi serta kadar bijih HPAL meningkat. Namun, tren penurunan kadar bijih menuntut strategi pengelolaan sumber daya lebih matang.
Selby menekankan bahwa kebijakan Indonesia mencerminkan evolusi panjang dalam pengelolaan sumber daya nikel. 10 tahun lalu, Indonesia melarang ekspor bijih, memaksa perusahaan China memindahkan kapasitas pengolahan ke dalam negeri. Ketika smelter China berkolusi menekan harga, Indonesia menetapkan mekanisme harga minimum yang mengacu pada London Metal Exchange. Kini, langkah manajemen pasokan terbaru menandai fase lanjutan strategi Indonesia untuk memaksimalkan nilai dari sumber daya nikel yang terbatas.
Pemulihan Harga Nikel & Tren Masa Depan
Pasar merespons kuat kebijakan Indonesia. Harga nikel naik dari $14.200 per ton pertengahan November menjadi $16.500 per ton akhir Desember. Kenaikan mencapai lebih dari $2.200 per ton. Peningkatan tersebut setara dengan sekitar $1 per pon. Kenaikan ini terjadi setelah sepanjang 2025 harga bertahan dalam kisaran sempit $15.000–$15.500 per ton.
Selby menilai penekanan harga November sangat krusial. Hal ini bertepatan dengan larangan pembangunan pabrik pengolahan Indonesia. Selain itu, pemerintah Kanada menetapkan proyek Crawford Canada Nickel sebagai proyek nasional utama. Ia berpendapat langkah ini mungkin menjadi upaya terakhir industri China untuk menegaskan pengaruhnya atas pasar.
Selby memprediksi harga nikel akan naik ke kisaran $18.200–18.500, dengan peluang mencapai $19.500–20.000 per ton. Ia menekankan perlunya konsolidasi di level $16.000–16.500 sebelum kenaikan lebih lanjut. Januari hingga Maret adalah periode terendah musiman produksi bijih Filipina. Produksi saat itu hanya sekitar seperempat dari puncaknya di kuartal ketiga.
Tren harga menegaskan posisi strategis Indonesia. Selby menyatakan jika ia mengelola sumber daya nikel, ia akan terus menaikkan harga. Tujuannya melihat respons pasokan dari wilayah lain. Pada level $20.000 per ton, banyak proyek baru menjadi layak secara ekonomi. Namun, operasi lama BHP, Vale, dan tambang berusia seabad berpotensi kesulitan meraih keuntungan.
Kesenjangan Ramalan dan Realitas Pasar
Analisis Selby menyoroti kesenjangan besar antara ramalan resmi dan kondisi pasar nyata. International Nickel Study Group (INSG) memperkirakan surplus hampir 300.000 ton pada 2025. Namun, persediaan di bursa global tetap di bawah 300.000 ton. Sepanjang tahun hanya bertambah 100.000 ton. Pada November–Desember, kenaikan hanya 10.000 ton. Angka ini jauh di bawah surplus seharusnya mencapai 60.000 ton.
Selby menyatakan kekecewaannya karena surplus besar seharusnya terdokumentasi dengan foto dan data stok gudang. Ketiadaan bukti serta minimnya penambahan persediaan menunjukkan proyeksi INSG sangat berlebihan. Ia memperkirakan organisasi terkait akan merevisi data historis dalam 12 bulan ke depan. Hal ini pernah terjadi pada siklus sebelumnya.
Kesenjangan analisis ini berdampak besar bagi investor, sebab banyak lembaga keuangan dan analis masih mengandalkan penilaian resmi yang tampak keliru. Ketidaksesuaian tersebut justru membuka peluang yang investor manfaatkan dengan menitikberatkan pada fundamental nyata daripada proyeksi publikasi.
Permintaan Kendaraan Listrik Kuat Meski Kebijakan AS Bergeser
Meski kekhawatiran minat melemah muncul, data penjualan global hingga November 2025 menegaskan tren pertumbuhan konsisten. Penjualan EV global mencapai 18,5 juta unit, naik 21% daripada tahun sebelumnya. Eropa mencatat lonjakan penjualan menjadi 3,8 juta unit dengan pertumbuhan 33%. China menjual 11,6 juta unit, meningkat 19% daripada tahun lalu. Pasar di luar Amerika Utara tumbuh pesat 48%, mencapai 1,5 juta unit.
Amerika Utara menjadi satu-satunya wilayah yang melemah, dengan penjualan turun 1% akibat pembatalan program dukungan kendaraan listrik. Selby menekankan bahwa pemerintahan tersebut memperketat aturan kandungan asal China. Kebijakan ini memberi keuntungan bagi pemasok nikel di Amerika Utara dan Eropa. Produsen mobil terdorong mencari bahan baku di luar rantai pasokan China.
Selby menekankan bahwa lonjakan 33% di Eropa sebagian kebijakan subsidi pada 2023–2025 pengaruhi melalui pergeseran waktu permintaan. Ia menilai pertumbuhan riil lebih mendekati 20–25%. Meski begitu, tren ini tetap mencerminkan ekspansi solid dan mendukung kebutuhan nikel. Formulasi baterai berbasis nikel menjadi keperluan kendaraan premium dan berjarak tempuh panjang. Sementara itu, baterai lithium iron phosphate (LFP) yang bebas nikel terus memperluas pangsa pasar, namun belum mampu menjangkau seluruh segmen kendaraan.
Selby membandingkan kondisi pasar nikel dengan tembaga, menyoroti bahwa meski tembaga mengalami surplus pada 2024 dan 2025, harganya tetap mendekati rekor tertinggi. Harga yang tinggi mendorong masuknya limbah dalam jumlah besar ke pasar, sementara kapasitas pengolahan China terus tumbuh lebih cepat daripada pasokan konsentrat. Hal ini menunjukkan bahwa penawaran dan permintaan nikel membentuk keseimbangan fundamental lebih ketat daripada tembaga, namun pasar masih memperdagangkan nikel di bawah nilai fundamentalnya.
Canada Nickel Siap Bangun pada 2027
Pada Desember 2025, Canada Nickel meraih pengakuan penting ketika Perdana Menteri Mark Carney menetapkan proyek Crawford sebagai Proyek Pembangunan Nasional. Carney menegaskan bahwa inisiatif ini akan memperkuat posisi Kanada sebagai pemimpin global dalam material industri bersih sekaligus menetapkan standar pertambangan berkelanjutan di masa depan. Perusahaan menargetkan awal konstruksi pada akhir 2026.
Penetapan ini bukan sekadar dukungan simbolis. Pemerintah Kanada mendirikan kantor khusus untuk proyek besar dan mempercepat proses pembiayaan serta perizinan proyek yang pemerintah tetapkan. Selby menyoroti bahwa Carney dan Menteri Sumber Daya Alam Tim Hodgson—keduanya mantan bankir investasi dengan pengalaman di Goldman Sachs—memiliki dorongan kuat untuk menampilkan hasil konkret dalam 18 bulan, dengan menunjukkan proyek yang berhasil bergerak dari tahap penetapan menuju konstruksi.
Dari sisi pembiayaan, sebagian besar elemen utama dalam struktur modal Crawford telah tersedia melalui program pemerintah, sementara penetapan sebagai proyek besar memberi kepastian tambahan bagi komponen yang belum terpenuhi. Terkait perizinan, Selby menekankan bahwa pemerintah federal dan provinsi berkomitmen menyelesaikan proses dalam dua tahun. Biasanya, proses dari tahap saat ini hingga pembangunan memakan waktu dua hingga tiga tahun. Dengan komitmen tersebut, ia memperkirakan tahapan akhir perizinan Crawford dapat rampung dalam 12 bulan.
Canada Nickel mengumumkan penambahan dua sumber daya baru di Bannockburn dan Midlothian, sehingga total aset perusahaan di Distrik Timmins Nickel kini mencapai delapan dengan lebih dari 20 juta ton nikel di berbagai kategori. Selby menegaskan bahwa perusahaan menjadikan Crawford sebagai proyek perdana, namun Reid, Mann West, dan kemungkinan Midlothian akan berkembang lebih besar serta lebih unggul daripada Crawford sendiri.
Tesis Konsolidasi Distrik Nikel Timmins
Selain keunggulan spesifik proyek Crawford, Selby menekankan strategi konsolidasi distrik yang berpotensi memberikan keuntungan besar bagi pemegang saham Canada Nickel. Hingga kini, perusahaan telah mengebor 18 target dan mengembangkan delapan sumber daya, sementara sejumlah properti lain masih belum dieksplorasi. Pendekatan yang digunakan adalah menerapkan templat rekayasa yang dikembangkan untuk Crawford ke seluruh deposit lain di distrik tersebut. Strategi ini serupa dengan langkah First Quantum Mining pada awal 2000-an, yang berhasil menciptakan nilai bagi pemegang saham dengan menstandarisasi jalur pemrosesan sulfida dan oksida, lalu mengaplikasikannya di berbagai operasi di Afrika, sehingga proyek dapat dijalankan 30% lebih murah dan 25% lebih cepat dibandingkan pesaing.
Selby menilai bahwa ketika Crawford mulai menunjukkan peningkatan nilai seiring kemajuan menuju tahap konstruksi, keseluruhan potensi distrik akan semakin jelas bagi calon pembeli strategis. Ia menambahkan, Crawford sendiri memiliki nilai beberapa miliar dolar, sedangkan kapitalisasi pasar Canada Nickel saat ini hanya sekitar $300 juta, menandakan adanya selisih nilai yang besar.
Untuk mewujudkan konsolidasi distrik, Selby menekankan bahwa Canada Nickel hanya memerlukan dua perusahaan tambang besar yang berminat mengambil alih kepemilikan. Dalam kondisi persaingan ketat di antara produsen besar yang mencari pasokan nikel jangka panjang di wilayah dengan infrastruktur memadai dan dukungan masyarakat, valuasi berpotensi jauh melampaui nilai aset bersih dari satu proyek saja.
Aktivitas Pengembangan Nikel Lainnya
Sejumlah proyek nikel lain kini bergerak menuju fase keputusan pengembangan.
Lifezone Metals terus mendorong proyek Kabanga di Tanzania menuju keputusan investasi akhir pada 2026. Selby menegaskan bahwa baik Crawford maupun Kabanga masing-masing hanya mencakup kurang dari 1% pasar nikel global, menandakan ruang yang luas bagi proyek baru. Menurut perkiraan Benchmark Minerals, bahkan jika hanya separuh dari pabrik baterai yang direncanakan di Amerika Serikat terealisasi, kebutuhan nikel akan mencapai 300.000 ton per tahun—setara dengan produksi dari sepuluh proyek tahap pertama Crawford atau Kabanga.
Talon Metals merampungkan kesepakatan strategis dengan Lundin Mining, mengambil alih tambang serta pabrik pengolahan Eagle di Michigan dan Minnesota yang mendekati akhir masa operasinya dalam beberapa tahun ke depan. Sebagai bagian dari transaksi, Lundin memperoleh 19,9% saham di Talon dan menanggung seluruh biaya penutupan. Kesepakatan ini memberikan Talon akses ke fasilitas pengolahan dan penampungan tailing berizin—salah satu aset paling bernilai di Amerika Serikat—yang berlokasi dekat dengan area eksplorasi perusahaan. Namun, Selby mengingatkan soal valuasi, menekankan bahwa kapitalisasi pasar Talon kini melampaui $700 juta, sementara Lundin sebelumnya membeli tambang Eagle yang masih setengah jadi dengan cadangan 250.000 ton dari Rio Tinto seharga $400 juta pada 2014.
Sherritt International mendapat tekanan dari investor aktivis yang berujung pada pergantian manajemen serta dewan direksi. Selby menggambarkan perjalanan perusahaan ini layaknya kecelakaan mobil yang berlangsung dalam gerakan lambat selama 12 tahun, diperburuk oleh operasi di Kuba yang menimbulkan hambatan bagi investor asal Amerika Serikat.
First Atlantic Nickel terus menambah cadangan di Newfoundland, dengan pengeboran terbaru mencatat kadar nikel magnetik tertinggi sejauh ini.
SPC Nickel mengumumkan akuisisi proyek di Nunavut yang pertama kali dieksplorasi Inco pada era 1960–1970-an. Hasil sampel permukaan menunjukkan kandungan hingga 18,15% tembaga, 97,90 g/t paladium, 11,65 g/t platinum dan 4,89 g/t emas—menandakan peluang eksplorasi jangka panjang yang menarik untuk diperhatikan.
Implikasi Investasi
Pasar nikel tengah mengalami perubahan besar, bergeser dari dominasi harga oleh industri China menuju pengelolaan pasokan oleh pemerintah Indonesia. Kebijakan yang diterapkan Indonesia sepanjang 2025 merupakan langkah strategis menghadapi penurunan kadar bijih sekaligus upaya memaksimalkan nilai dari sumber daya terbatas. Kenaikan harga dari $14.200 menjadi $16.500 per ton dipandang sebagai awal dari tren peningkatan bertahap menuju kisaran $18.500–20.000 per ton.
Bagi investor, terdapat beberapa poin utama dari analisis ini. Pertama, proyeksi surplus resmi dari lembaga seperti INSG tampak sangat berlebihan jika dibandingkan dengan data inventaris aktual, sehingga menimbulkan celah analitis bagi pihak yang bergantung pada angka tersebut. Kedua, permintaan kendaraan listrik global tetap solid di luar Amerika Serikat, dengan pertumbuhan mendasar 20–25% yang terus menopang kebutuhan nikel jangka panjang meski baterai LFP semakin meluas. Ketiga, proyek nikel di yurisdiksi utama dengan dukungan pemerintah—terutama yang berpotensi berskala distrik seperti aset Timmins milik Canada Nickel—menawarkan peluang nilai yang tidak seimbang, karena nikel tetap diminati meskipun tidak selalu berada dalam siklus super.
Strategi pengendalian pasokan Indonesia dinilai berkelanjutan karena sesuai dengan keterbatasan sumber daya dan dijalankan secara bertahap lewat berbagai kebijakan, bukan langkah drastis tunggal yang berisiko memicu reaksi langsung. Ditambah dengan penguatan permintaan dasar serta proyek-proyek yang membutuhkan harga $18.000–20.000 per ton untuk menghasilkan imbal hasil menarik, kondisi pasar nikel pada 2026 terlihat jauh berbeda dari tekanan yang mendominasi sepanjang 2024–2025. Bagi investor, perusahaan pengembang nikel yang memiliki dukungan pemerintah, akses infrastruktur dan potensi skala distrik berpeluang meraih keuntungan dari pemulihan harga jangka pendek sekaligus konsolidasi strategis jangka panjang.
Ringkasan
Langkah-langkah manajemen pasokan yang disengaja oleh Indonesia telah mendorong harga nikel naik $2.200/ton menjadi $16.500, dengan potensi kenaikan lebih lanjut hingga $18.500-20.000 diperkirakan terjadi karena penurunan kadar bijih membatasi pasokan. Pertumbuhan EV global yang kuat (21% hingga November 2025) mendukung permintaan meskipun terjadi pelemahan di AS, sementara proyek-proyek nikel besar seperti Crawford milik Canada Nickel yang didukung pemerintah sedang menuju keputusan konstruksi pada tahun 2026. Kombinasi disiplin harga Indonesia, fundamental permintaan yang kurang dihargai dan potensi konsolidasi distrik menciptakan peluang asimetris di perusahaan-perusahaan pengembang yang berada di posisi yang baik.