Jeffrey Goldberg menyoroti beberapa hal penting tentang Doktrin Obama dalam tulisannya di edisi terbaru The Atlantic. Sam Roggeveen turut menyampaikan pandangannya terkait cara Goldberg menafsirkan pernyataan Presiden Obama mengenai China.
Obama pertama kali menyebut Indonesia saat ia menekankan multilateralisme untuk mencegah kegagalan intervensi sepihak Amerika di luar negeri. “Kita memiliki sejarah,” ujar Obama.
Kita pernah melalui pengalaman di Iran, Indonesia dan Amerika Tengah. Karena itu, saat membicarakan intervensi, kita perlu mengingat kembali sejarah tersebut serta memahami alasan munculnya kecurigaan dari pihak lain.
Penyebutan singkat Indonesia oleh presiden menarik perhatian aktivis HAM terkait dugaan keterlibatan intelijen Amerika. Obama datang ke Indonesia tahun 1967 sebagai anak kecil, setelah puncak tragedi massal 1965. Dalam memoarnya Dreams from My Father, ia mengingat gosip pegawai Departemen Luar Negeri AS di Jakarta tentang kemungkinan peran CIA.
Hanya beberapa hari lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengirimkan surat resmi kepada Obama untuk meminta pembukaan dokumen terkait dugaan keterlibatan CIA dan lembaga pemerintah Amerika lainnya dalam tragedi pembunuhan massal. Joshua Oppenheimer, sutradara The Act of Killing dan The Look of Silence sekaligus bagian dari gerakan yang menuntut deklasifikasi, menuliskan di Twitter bahwa pernyataan Obama dalam The Atlantic bisa ditafsirkan sebagai bentuk pengakuan tidak langsung atas campur tangan AS di Indonesia.
Malcolm Turnbull
Referensi penting mengenai Indonesia selanjutnya dalam tulisan Goldberg muncul dalam kaitannya dengan Perdana Menteri Australia.
Dalam pertemuan APEC bersama Malcolm Turnbull, perdana menteri baru Australia, Obama menyampaikan pengamatannya bahwa Indonesia perlahan bergeser dari praktik Islam yang lebih santai dan bercampur dengan tradisi lokal menuju tafsir yang lebih keras dan fundamental. Ia menambahkan, banyak perempuan Indonesia kini terlihat mengenakan hijab sebagai penutup kepala.
Turnbull pun bertanya, “Apa yang menyebabkan hal ini?”
Obama menjawab bahwa Arab Saudi bersama negara-negara teluk lainnya telah mengucurkan dana serta mengirim banyak imam dan pengajar ke Indonesia. Menurutnya, pada dekade 1990-an, Saudi secara besar-besaran mendukung madrasah Wahabi, yakni lembaga pendidikan yang menyebarkan ajaran Islam fundamentalis sesuai preferensi keluarga kerajaan. Kini, lanjut Obama kepada Turnbull, corak Islam di Indonesia jauh lebih bercirikan Arab dibandingkan masa ketika ia pernah tinggal di sana.
Turnbull kemudian bertanya, “Saudi itu kan sekutu kalian, bukan?”
Obama hanya tersenyum dan berkata, “Hal ini tidak sederhana.”
Goldberg menampilkan percakapan ini sebagai ilustrasi atas rasa frustrasi Obama terhadap dinamika tribalisme di Timur Tengah, yang menurutnya mengganggu fokus upaya menggeser orientasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat ke kawasan Asia.
Indonesia, yang bagi Obama menyimpan kenangan masa kecil sekaligus menjadi bagian menarik dari kawasan dengan aspirasi menuju kemajuan, modernitas, pendidikan dan kesejahteraan, digambarkannya sebagai negara yang dalam sejumlah aspek terhambat oleh pengaruh interpretasi Islam ala Saudi yang belum sepenuhnya selaras dengan modernitas.
Hal ini menyentuh ranah yang kompleks dalam upaya memahami Islam di Indonesia masa kini.
Pengamat Indonesia
Pengamat di Indonesia menyoroti adanya perbedaan antara ekspresi Islam dalam ranah budaya populer dan arus konservatisme Islam yang semakin menguat. Bagi seorang perempuan Indonesia, mengenakan busana muslim bergaya Arab dapat sekaligus menjadi simbol identitas pribadi, modernitas serta keterhubungan global, di samping mencerminkan nilai-nilai keagamaan yang konservatif. Dengan menjadikan hijab sebagai tolok ukur fundamentalisme, Obama — atau mungkin Goldberg dalam penyajiannya — tidak berhasil menangkap perbedaan tersebut.
Goldberg dalam tulisannya berulang kali menekankan perlunya reformasi agar Islam dapat menyesuaikan diri dengan demokrasi. Di Indonesia, mahasiswa muslim berperan besar dalam proses demokratisasi. Kebebasan untuk menyalurkan keyakinan dan aspirasi keagamaan yang muncul kemudian mendorong lahirnya Islam politik sekaligus memperkuat tradisi intelektual Islam yang bercorak liberal.
Pada saat bersamaan, gelombang konservatisme muncul dengan dampak yang mengkhawatirkan. Presiden Jokowi sendiri telah menyoroti persoalan meningkatnya intoleransi beragama, yang dalam beberapa tahun terakhir memicu tindak kekerasan. Hak serta kebebasan individu terancam oleh penerapan sejumlah peraturan daerah bernuansa syariah di beberapa wilayah. Sebagian warga Indonesia bahkan diketahui berangkat ke Timur Tengah untuk bergabung dengan ISIS. Dua bulan lalu, aksi terorisme berbasis Islam kembali terjadi di pusat Jakarta. Meski perkembangan ini menimbulkan kecemasan, fenomena tersebut tetap hanya mencerminkan sebagian kecil dari populasi muslim Indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim, namun bukan negara Islam. Meski tidak sepenuhnya sekuler, Indonesia tampil sebagai pelopor demokratisasi di kawasan Asia-Pasifik. Bagi Obama, Indonesia mencerminkan banyak hal yang ia kagumi dari Asia—masyarakat yang tekun, ambisius dan penuh energi dalam membangun usaha serta infrastruktur—namun sekaligus menghadapi tantangan dari isu terorisme yang dianggapnya menghambat pergeseran kebijakan AS ke Asia.
Lalu, bagaimana sebenarnya kedudukan Indonesia dalam kerangka global Doktrin Obama? Barangkali jawabannya tidak sederhana.