Joko Widodo resmi menjabat sebagai presiden dengan dukungan penuh harapan dari para pendukungnya. Tantangan ekonomi mendesak siap menguji sosok yang dulu dikenal sebagai pengusaha furnitur.
Jokowi, mantan Gubernur Jakarta, meraih kemenangan tipis atas eks jenderal dalam pemilu bulan Juli 2014. Kemenangan tersebut menjadi momen bersejarah bagi demokrasi yang masih berkembang. Untuk pertama kalinya, presiden terpilih berasal dari luar lingkaran elite militer dan politik.
“Inilah saatnya kita menyatukan hati dan tangan untuk membangun bangsa. Inilah saatnya kita menggapai dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik. Indonesia harus berdikari secara ekonomi dan berkarakter budaya demi masa depan yang kuat.” Ujar Jokowi dalam pidato pelantikannya di hadapan anggota DPR yang memenuhi ruang sidang.
Ribuan warga memadati jalanan ibukota untuk merayakan kemenangan besar. Mereka mengibarkan bendera dan mengangkat spanduk penuh semangat. Perayaan ini menandai kesuksesan luar biasa seorang pengusaha dari kota kecil. Pengusaha tersebut berhasil menjadi pemimpin negara yang dihormati.
Jokowi, berusia 53 tahun, terkenal sebagai penggemar berat musik heavy metal. Ia akan turut serta dalam perayaan pada Senin sore. Jokowi bahkan tampil bersama sebuah band rock di acara tersebut.
Sebagai mantan Walikota Solo, telah menghadapi tantangan dari kalangan penguasa yang menolak pendekatan transparan dan praktis dalam pemerintahan.
“Dia telah mencapai posisi puncak, namun masih memiliki kelemahan dalam menghadapi elite politik yang berkuasa,” ujar Achmad Sukarsono, analis politik dari lembaga pemikir Habibie Centre.
Jokowi menghadapi tantangan dalam memperoleh dukungan di parlemen. Namun, keputusan untuk tidak menukar posisi kabinet demi dukungan politik telah mendorong partai-partai netral beralih ke oposisi, meninggalkannya dengan pemerintahan minoritas yang berpotensi menghadapi penolakan terhadap kebijakannya.
Hambatan Reformasi
Bahkan para pendukung setia Jokowi mengkhawatirkan bahwa prinsip-prinsipnya bisa menjadi hambatan bagi reformasi. Namun, sebagai presiden yang terkenal ramah dan dekat dengan masyarakat, tetap optimis dalam membangun kerja sama dengan legislatif.
Setelah berminggu-minggu mengalami kebuntuan, Jokowi berupaya memperbaiki hubungan pekan lalu dengan bertemu pemimpin oposisi, Prabowo Subianto, serta tokoh oposisi terkemuka, Aburizal Bakrie, yang menyatakan kesediaannya mendukung pemerintahan Jokowi.
Dalam pidato pelantikannya, Jokowi menekankan rencana strategisnya untuk menjadikan Indonesia—negara kepulauan yang luas dengan sekitar 13.500 pulau—sebagai kekuatan maritim yang berpengaruh.
“Kita telah lama mengabaikan laut, selat dan teluk. Kini saatnya kita memulihkannya agar dapat meraih kesejahteraan,” ujarnya.
Ia berkomitmen untuk memperluas pelabuhan negara guna mendorong pemulihan pertumbuhan ekonomi. Namun, masih perlu mencari sumber pendanaan untuk mewujudkan proyek ambisius tersebut.
Tantangan besar pertama tampaknya adalah pengurangan signifikan subsidi bahan bakar dalam dua minggu ke depan. Langkah ini bertujuan untuk mencegah pelanggaran terhadap batas hukum defisit anggaran, yang semakin tertekan akibat rendahnya penerimaan pajak dan perlambatan ekonomi terburuk dalam lima tahun terakhir.
Kenaikan harga bahan bakar sebelumnya telah memicu gelombang demonstrasi dan turut berperan dalam kejatuhan Presiden Soeharto, yang telah lama memimpin, pada tahun 1998.
Dalam beberapa minggu setelah menjabat, Jokowi akan mendapat sorotan internasional melalui keikutsertaannya dalam pertemuan puncak Asia-Pasifik di China serta KTT G20 di Australia.