Indonesia dan Australia bersiap mempererat kerja sama di bidang militer, keamanan dan ekonomi. Duta besar Indonesia menegaskan bahwa setelah dua tahun penuh ketegangan, hubungan strategis kedua negara kini kembali berada di jalurnya.
Nadjib Riphat Kesoema menyatakan bahwa pertemuan antara Malcolm Turnbull dan Presiden Joko Widodo bulan lalu telah menumbuhkan suasana penuh harapan dan optimisme bagi hubungan kedua negara.
Nadjib menyatakan bahwa dalam hitungan jam saja, kedua pemimpin berhasil menjalin hubungan yang erat.
“Memenuhi diri dengan optimisme untuk menyongsong masa depan.”
Ia menegaskan bahwa pertemuan para pemimpin itu menjadi momen penting dalam perjalanan hubungan kedua negara.
Pada akhir 2013, pemerintah menarik kembali Nadjib dari Australia selama beberapa bulan setelah terungkap bahwa badan intelijen Australia pernah melakukan penyadapan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta keluarganya. Tony Abbott, yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri, tidak memberikan klarifikasi ataupun permintaan maaf.
Pada Agustus, sang duta besar menulis sebuah esai di The Australian yang menyerukan penguatan hubungan serta mendorong kedua pihak untuk meninggalkan praktik diplomasi megafon.
Esai Nadjib diterbitkan ketika Indonesia dan Australia berupaya memperbaiki hubungan yang sempat tegang akibat isu penyadapan, kasus penyelundupan manusia, kebijakan penghentian kapal pencari suaka, serta eksekusi terhadap penyelundup narkoba Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.
Pada September, Turnbull resmi mengambil alih jabatan perdana menteri dari Abbott.
Nadjib menilai pertemuan antara Jokowi dan Turnbull menjadi titik balik penting yang menentukan arah masa depan bersama. Ia menambahkan, “Hal ini bukan sekadar kebijakan formal semata.”
Nadjib menyatakan bahwa para pemimpin bisa membawa kepribadiannya dalam hubungan internasional, dan gaya khas Turnbull memberi nuansa serta warna tersendiri pada hubungan Indonesia-Australia.
Ia menekankan bahwa gaya kepemimpinan perdana menteri serta hubungannya dengan presiden sangatlah utama dan memiliki arti penting baginya.
Nadjib menuturkan bahwa kedua pemimpin berhasil membangun suasana yang lebih kondusif untuk mempererat hubungan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, masyarakat, keamanan hingga militer.
Pertemuan Lanjutan
Pertemuan lanjutan para menteri yang menangani urusan luar negeri, pertahanan dan keamanan nasional di Indonesia serta Australia berhasil memperkuat hubungan kedua negara dengan mengimplementasikan berbagai perjanjian strategis ke dalam langkah nyata.
Isu penyelundupan manusia tetap menjadi tantangan bagi kedua negara, dengan sekitar 13.000 pencari suaka di Indonesia yang enggan menetap. Nadjib menyebut, “Mereka kemungkinan ingin menuju Australia atau negara lain.”
Ia menyampaikan bahwa tahun depan akan digelar lebih banyak diskusi dalam kerangka Proses Bali, yang akan turut diselenggarakan bersama oleh Australia.
Nadjib menyampaikan bahwa Jokowi menegaskan kepada Turnbull bahwa praktik Islam di Indonesia dijalankan dengan pendekatan yang moderat serta penuh toleransi.
Nadjib menegaskan bahwa Islam yang bersifat toleran selaras dengan prinsip-prinsip demokrasi.
“Karena itulah kami menciptakan iklim toleransi di Indonesia dan berupaya merangkul setiap orang, tanpa memandang agamanya, melalui dialog.”
“Kedua negara sama-sama terdampak oleh radikalisasi dan ekstremisme, sehingga kerja sama dalam pertukaran intelijen menjadi sangat krusial untuk mengatasi ancaman terorisme,” ujarnya.
Nadjib menyatakan bahwa Indonesia menjalin hubungan yang sangat erat dengan China, terutama di bidang ekonomi. Namun, Indonesia juga memiliki kekhawatiran yang sejalan dengan Australia terkait perkembangan di Laut China Selatan.
Prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif tidak menghalangi negara ini untuk menjalin hubungan erat dengan China maupun Australia.
“Ini merupakan jalur laut internasional,” ujarnya. “Kami berharap semua pihak dapat menahan diri. Seperti Australia, kami bukan negara yang mengajukan klaim, tetapi kami menginginkan terciptanya perdamaian di Laut China Selatan. Kami bersahabat dengan semua pihak.”
Nadjib menyatakan bahwa Indonesia dan Australia telah menjalin kerja sama ekonomi yang sangat baik, dan ia berharap hubungan tersebut terus berkembang demi memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara.
Indonesia berupaya meningkatkan ekspor ke Australia, khususnya produk manufaktur, komoditas pertanian, buah-buahan tropis serta minyak kelapa sawit.
“Kami berkeinginan untuk meningkatkan ekspor mesin ke Australia,” ujarnya.
Kemajuan Industri
Indonesia juga berpotensi meraih manfaat dari kemajuan industri pertahanan Australia.
“Kami memiliki banyak hal yang bisa dipelajari dari Anda,” ujarnya. “Selain itu, Anda memiliki persenjataan modern. Kami sangat berharap dapat bertukar pengalaman, dan berencana mengirimkan perwira kami untuk mengikuti pelatihan di sekolah militer Anda.”
Nadjib menuturkan bahwa para perwira Australia juga dapat mengambil pelajaran dari pendekatan militer Indonesia yang berakar pada rakyat. “Mereka lahir dari masyarakat untuk memperjuangkan kemerdekaan negara,” ujarnya.
Walaupun secara geografis berdekatan, Indonesia dan Australia memiliki perbedaan budaya serta aspek lainnya yang signifikan, sehingga kesalahpahaman dapat terjadi jika dialog yang memadai tidak terjalin.
“Kita harus berinteraksi dengan baik, untuk menyingkirkan semua kesalahpahaman yang ada,” kata Nadjib.