Pemerintah telah resmi bergabung sebagai anggota Melanesian Spearhead Group (MSG), sementara Papua Barat memperoleh posisi sebagai pengamat dalam organisasi tersebut.
Melanggar kebiasaan protokoler, Perdana Menteri Papua Nugini menyampaikan pengumuman mengenai keputusan tersebut lebih dahulu, sebelum pernyataan resmi bersama dikeluarkan.
Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neill, menyampaikan bahwa para pemimpin Melanesian Spearhead Group (MSG) telah mengambil keputusan untuk mengakui Indonesia sebagai anggota asosiasi dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Kepulauan Solomon.
MSG direncanakan akan mengeluarkan pernyataan bersama pada hari ini, yang akan memuat penjelasan mengenai hal tersebut secara resmi.
Biasanya, pengumuman keputusan para pemimpin MSG disampaikan oleh ketua organisasi. Namun, kali ini kantor Perdana Menteri O’Neill di Port Moresby yang terlebih dahulu menyampaikan kabar tersebut, menyatakan bahwa Indonesia telah diterima sebagai anggota asosiasi MSG dan Gerakan Pembebasan Papua Barat Bersatu memperoleh status sebagai pengamat.
Pernyataan pers dari O’Neill menyebutkan bahwa hari ini merupakan momen yang sangat berarti bagi upaya perdamaian dan semangat persaudaraan bagi masyarakat yang tinggal di provinsi-provinsi Melanesia di Indonesia.
“Setelah melalui pembahasan di antara para pemimpin negara-negara anggota Melanesian Spearhead Group, kelompok ini menetapkan bahwa Indonesia akan bergabung sebagai anggota asosiasi, dengan perwakilan dari para pemimpin terpilih di provinsi-provinsi Melanesia.”
“Selain itu, United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) akan memperoleh status sebagai pengamat, dengan peran sebagai mitra pembangunan yang mewakili kepentingan dan kesejahteraan komunitas Melanesia yang berada di luar wilayah utama.”
Judul pengumuman tersebut adalah Langkah Maju dalam Menjalin Hubungan dengan Provinsi-provinsi Melanesia di Indonesia.
Menurut O’Neill, keputusan MSG ini akan menjadi langkah awal yang memungkinkan Indonesia dan Papua Nugini menjalin konsultasi dalam bingkai kerja sama yang diatur melalui perjanjian dengan Indonesia.
“Saya menantikan kesempatan untuk menjalin dialog yang lebih intensif dengan Indonesia, dengan semangat persaudaraan sebagai bagian dari komunitas regional. Kita semua memiliki peran sebagai mitra dalam mendorong terciptanya perdamaian dan stabilitas di wilayah kita.”
“Saya percaya bahwa Indonesia menghargai kejujuran dan ketulusan yang kita tunjukkan dalam menawarkan kerja sama terkait isu yang sensitif ini.”
“Saya juga meyakini bahwa organisasi seperti ULMWP menghormati ketulusan niat kami.”
Pihak Sekretariat MSG enggan memberikan konfirmasi terkait pengumuman dari Papua Nugini maupun memberikan tanggapan atas pelanggaran terhadap protokol MSG.
Seorang pejabat tinggi menyampaikan bahwa seluruh pengumuman akan disampaikan pada esok hari, bertepatan dengan penerbitan komunike resmi dari pertemuan tingkat tinggi tersebut.
O’Neill menyatakan harapannya untuk menjalin dialog yang lebih intensif dengan Indonesia, dengan semangat tulus sebagai anggota dari komunitas regional yang saling terhubung.
“Kita bersama-sama berperan sebagai mitra dalam mendorong terciptanya perdamaian dan stabilitas di wilayah kita. Saya percaya bahwa Indonesia menghargai kejujuran serta ketulusan yang kita tunjukkan dalam menawarkan kerja sama terkait isu yang penuh kehati-hatian ini.”
“Saya pun percaya bahwa organisasi seperti ULMWP memahami ketulusan dari niat yang kami sampaikan.”
ULMWP memiliki harapan untuk menempuh jalur yang serupa dengan FLNKS dari Kaledonia Baru, yakni meraih status keanggotaan penuh dalam MSG meskipun bukan merupakan pemerintahan yang berdaulat. Langkah ini akan menjadi bentuk pengakuan internasional pertama bagi ULMWP sejak organisasi tersebut dibentuk di Indonesia.
Pernyataan dari O’Neill disampaikan lebih awal, sebelum bersama empat pemimpin MSG lainnya menandatangani komunike dalam jamuan makan malam yang berlangsung di Hotel Mendana, Honiara.
Kegiatan tersebut semula direncanakan berlangsung satu hari lebih awal, namun kabarnya dipercepat karena Perdana Menteri Fiji dijadwalkan kembali ke negaranya.
Keputusan Bainimarama untuk meninggalkan pertemuan puncak lebih awal tidak disertai dengan penjelasan apa pun.