Presiden Joko Widodo mulai menjabat tahun lalu dengan membawa harapan bahwa sosok dari luar lingkaran elite dan berasal dari kalangan rakyat akan memulai babak baru pemerintahan yang lebih transparan dan efisien.
Setahun berselang, para pengamat menilai bahwa harapan tersebut tidak terwujud dan berakhir dengan kekecewaan.
Jokowi berhasil menduduki kursi kepresidenan berkat dukungan besar dari masyarakat, yang tertarik pada gaya kepemimpinannya yang sederhana dan langsung, serta reputasinya sebagai figur segar yang bersih dari korupsi di tengah lanskap politik yang selama bertahun-tahun dikuasai oleh kelompok oligarki sejak masa pemerintahan otoriter Soeharto.
Tokoh yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Jakarta, dikenal karena gaya kampanyenya yang sederhana di kawasan kumuh dengan mengenakan pakaian kasual, berhasil memenangkan pemilihan setelah persaingan ketat dengan seorang mantan jenderal yang kontroversial dan memiliki rekam jejak hak asasi manusia yang diperdebatkan. Ia pun mencatat sejarah sebagai kepala negara pertama yang berasal dari luar kalangan elite politik dan militer.
Namun, mengelola pemerintahan di negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ternyata merupakan tantangan yang jauh lebih kompleks.
Upaya Jokowi dalam memulihkan kondisi ekonomi menunjukkan hasil yang terbatas, sementara mendapat sorotan tajam atas kemunduran dalam pemberantasan korupsi di negara yang dikenal memiliki tingkat korupsi tinggi. Di kancah internasional, reputasinya turut tercoreng akibat pelaksanaan hukuman mati terhadap warga asing yang terlibat kasus narkoba.
Profesor Jeffrey Winters, seorang ahli mengenai Indonesia dari Universitas Northwestern di Amerika Serikat, menyatakan bahwa tahun pertama kepemimpinan Joko Widodo merupakan periode yang penuh tantangan.
“Rakyat telah jenuh dengan situasi yang stagnan dan memilih Jokowi dengan harapan akan adanya perubahan—namun sejauh ini, perubahan yang diharapkan belum banyak terwujud.”
Ekonomi yang Melemah
Presiden mulai menjabat pada tanggal 20 Oktober 2014 dan mengawali masa kepemimpinannya dengan langkah positif, yakni mengurangi subsidi bahan bakar yang sebelumnya menyerap sebagian besar anggaran negara. Kebijakan ini membuka ruang fiskal bernilai triliunan rupiah untuk dialokasikan pada upaya pemulihan ekonomi yang tengah lesu.
Namun, kendala birokrasi dan lemahnya koordinasi internal menghambat pelaksanaan berbagai proyek infrastruktur strategis. Upaya Jokowi untuk menarik investasi asing juga terganggu oleh kebijakan proteksionis yang dikeluarkan secara sepihak oleh sejumlah menteri, termasuk keputusan mendadak untuk membatalkan ribuan izin impor.
Setelah satu tahun berlalu, laju pertumbuhan ekonomi mengalami pelemahan hingga mencapai titik terendah dalam enam tahun terakhir, sementara nilai tukar rupiah mengalami penurunan yang signifikan.
Meskipun gejolak pasar global menjadi faktor utama, Jokowi tetap mendapat sorotan karena dinilai belum mengambil langkah yang cukup signifikan untuk membenahi perekonomian—yang merupakan prioritas utamanya.
Dalam wawancara terkini, ia mempertahankan kinerjanya dengan menegaskan bahwa reformasi ekonomi adalah sebuah proses jangka panjang, seraya menambahkan bahwa mengelola negara sebesar Indonesia memerlukan waktu dan kesabaran.
Bagi sebagian besar masyarakat, kekecewaan terbesar muncul dari anggapan bahwa Jokowi gagal memperkuat upaya pemberantasan korupsi, terutama di negara di mana praktik suap telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas sehari-hari.
Presiden mendapat sorotan tajam atas keputusannya mencalonkan sosok kontroversial sebagai kepala Kepolisian yang baru—langkah yang, menurut sejumlah pengamat, dimaksudkan untuk menjaga dukungan dari pemimpin partainya yang berpengaruh sekaligus figur pelindung politiknya, Megawati Soekarnoputri.
Lumba-lumba yang Teguh
Pencalonan tersebut memunculkan dinamika antara institusi kepolisian dan lembaga antikorupsi yang memiliki dukungan luas dari masyarakat, menyusul adanya tudingan terhadap calon yang diajukan. Presiden Jokowi kemudian memutuskan untuk menarik pencalonan tersebut, meskipun keputusan itu diambil setelah melalui pertimbangan yang matang, pada saat lembaga antikorupsi tengah menghadapi tantangan dari berbagai pihak.
Sejak saat itu, tingkat popularitasnya mengalami penurunan. Berdasarkan survei terbaru dari Indo Barometer, tingkat kepuasan masyarakat terhadap Jokowi tercatat sebesar 46% pada bulan September 2015, menurun dibandingkan 57% yang tercapai pada bulan Maret 2015.
Bagi mitra internasional yang awalnya menyambut kehadiran pemimpin baru di kursi kepresidenan, muncul keraguan terhadap kebijakan Jokowi dalam menjatuhkan hukuman mati kepada warga asing yang terlibat kasus narkoba. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan darurat narkotika nasional, meskipun sejumlah pakar menilai bahwa dasar buktinya masih diperdebatkan.
Pelaksanaan hukuman mati melalui regu tembak pada bulan April 2015 terhadap dua warga Australia, satu warga Brasil, dan empat warga Nigeria atas pelanggaran terkait narkotika menimbulkan reaksi keras dari komunitas internasional. Sebagai bentuk keberatan, pemerintah Australia mengambil langkah luar biasa dengan menarik pulang duta besarnya.
Walaupun menghadapi berbagai tantangan, sejumlah analis menilai bahwa ia mulai menunjukkan arah pemulihan. Ia mendapat apresiasi atas langkah perombakan kabinet pada bulan Agustus 2015 yang melibatkan pergantian sejumlah menteri ekonomi penting, serta peluncuran berbagai kebijakan stimulus dalam waktu dekat.
“Meski posisinya belum sepenuhnya kuat, ia mulai menunjukkan perkembangan positif,” ujar Achmad Sukarsono, analis Indonesia dari lembaga konsultan risiko Eurasia Group.
Menurut Winters dari Universitas Northwestern, presiden masih memiliki peluang untuk menjaga dukungan publik dengan mengandalkan citranya sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan rakyat.
“Publik akan tetap mendukungnya jika mampu menjaga citranya sebagai sosok tangguh yang terus berjuang di tengah lingkungan politik yang penuh tantangan,” ujarnya.