Selimut Asap: Bencana yang Menghancurkan Indonesia

Kebakaran di Indonesia berbeda

Kebakaran di Indonesia berbeda dari kebakaran pada umumnya. Api sulit padam karena terus menyala di bawah permukaan tanah, kadang berbulan-bulan. Petugas pemadam biasanya hanya bisa memadamkannya saat hujan deras musim penghujan. Selain itu, kebakaran ini menghasilkan asap dan polusi udara jauh lebih parah daripada kebakaran lain.

Masalah utamanya adalah lapisan gambut tebal menutupi pesisir Kalimantan dan Sumatra. Kebakaran gambut kini terjadi setiap tahun karena petani memakai metode tebang-bakar untuk membuka lahan bagi tanaman atau ternak. Petani sering kali melakukan praktik ini untuk membuka lahan baru bagi penanaman kelapa sawit dan pulp akasia.

David Gaveau dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional mengatakan kebanyakan kebakaran bermula di lahan gambut yang petani bersihkan. Petani kemudian membiarkan lahan itu kosong, sehingga api mudah merembet dan menyala berkepanjangan. Api kemudian merembet ke bawah tanah, menjadi sumber bahan bakar yang hampir tak pernah habis.

Para ilmuwan pemantau kebakaran khawatir masalah ini akan memburuk sebelum membaik. El Nino kuat di Pasifik memperpanjang musim kemarau dan mengurangi curah hujan. Pada El Nino 1997, minimnya hujan membuat kebakaran meluas tak terkendali. Kebakaran itu melepaskan polusi udara dan emisi gas rumah kaca dalam jumlah rekor.

Mirip Tahun-tahun Sebelumnya

Robert Field dari Universitas Columbia mengatakan kita berada pada lintasan yang mirip dengan tahun-tahun buruk sebelumnya; kondisi di Singapura dan Sumatra tenggara hampir menyamai 1997, beberapa stasiun mencatat jarak pandang rata‑rata kurang dari 1 km selama seminggu, dan pengamat melaporkan jarak pandang kurang dari 50 m di Kalimantan.

Data kedalaman optik aerosol dari MODIS menunjukkan konsentrasi partikel menyerupai puncak kebakaran besar terakhir pada 2006, namun kali ini lonjakan terjadi beberapa minggu lebih awal; Field memperingatkan bahwa jika musim kemarau memang meluas, 2015 bisa masuk daftar peristiwa kebakaran terburuk yang pernah tercatat.

Guido van der Werf dari Vrije Universiteit Amsterdam memantau jumlah dan luas kebakaran menggunakan data MODIS. Ia mengatakan tahun ini kebakaran lebih banyak dan lebih besar, menempatkan kita pada lintasan yang lebih tinggi dibandingkan tahun‑tahun sejak 2001 ketika pengamatan MODIS dimulai, dan musim kebakaran baru setengah jalan.

Bersama rekan‑rekannya di NASA dan Universitas California, Irvine, van der Werf mengembangkan metode untuk memperkirakan emisi gas jejak dan partikel dari kebakaran dengan memanfaatkan pengamatan satelit terhadap api dan tutupan vegetasi. Proyek ini, yang dikenal sebagai Global Fire Emissions Database (GFED), menyajikan perkiraan emisi kebakaran pada skala regional dan global berdasarkan data sejak 1997. Analisis GFED menunjukkan bahwa hingga 22 September 2015, kebakaran telah melepaskan gas rumah kaca setara sekitar 600 juta ton, jumlah yang menyaingi emisi tahunan karbon dioksida Jerman.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *