Secara umum, Indonesia kini meningkatkan ekspresi ke-Islam-an dibandingkan beberapa dekade silam. Semakin banyak perempuan mengenakan jilbab. Jumlah jemaah haji ke Mekkah terus meningkat. Masyarakat menunjukkan minat lebih besar terhadap layanan keuangan syariah. Selain itu, pilihan media berbasis Islam pun berkembang pesat—meliputi buku, majalah, acara televisi, film, situs web hingga aplikasi seluler. Fenomena ini paling kentara di kalangan kelas menengah yang tengah bertumbuh.
Di sisi lain, kecenderungan intoleransi dalam masyarakat tampak semakin menguat. Komunitas agama minoritas semakin sering mengalami perlakuan diskriminatif, intimidasi bahkan kekerasan. Kelompok fundamentalis mulai memperketat pengawasan terhadap norma moral versinya di tingkat masyarakat. Sejumlah provinsi telah mengintegrasikan elemen hukum syariah ke dalam kebijakan daerah. Gelombang konservatisme ini juga mencuat pada level pemerintahan pusat, yang tercermin dalam pengesahan berbagai regulasi—mulai dari penyensoran situs web, film, ekspresi artistik hingga pengaturan atas perilaku publik.
Namun, bagaimana kaitan antara transformasi yang terjadi secara bersamaan dalam ranah budaya populer dan politik? Faktor yang sama memengaruhi dinamika tersebut. Dan benarkah meningkatnya ekspresi ke-Islam-an dalam masyarakat secara otomatis berkorelasi dengan menurunnya sikap toleransi?
Alissa Wahid memimpin jaringan lintas agama yang beraktivitas di lebih dari 150 kota. Jaringan tersebut menguatkan pluralisme dan menangani persoalan kelompok minoritas yang terpinggirkan. Alissa menilai wafatnya sang ayah pada 2009 menimbulkan dampak besar. Kaum minoritas kehilangan figur pelindung yang mereka percayai menjaga hak-hak dari ancaman kelompok radikal.
“Allah tidak memerlukan perlindungan,” ujar Alissa mengutip pernyataan ayahnya. “Yang patut mendapat pembelaan adalah yang menjadi korban ketidakadilan. Inilah esensi agama—menegakkan keadilan bagi semua.”
Islam Indonesia Versi Gus Dur
Sebelum menjabat sebagai presiden, Gus Dur memimpin Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia. NU menegaskan identitasnya sebagai kelompok Islam tradisionalis karena terbuka terhadap praktik keislaman lokal. Keterbukaan itu membedakan NU dari Muhammadiyah, organisasi modernis terbesar yang berupaya mengadaptasi Islam Indonesia dengan praktik keagamaan global. Menurut peneliti Ahmad Najib Burhani, Gus Dur menilai Islam Indonesia sebagai bentuk keberagamaan yang sah dan menolak upaya Arabisasi. Ia juga meyakini bahwa Islam sejalan dengan ideologi Pancasila, yang mencakup lima asas, keimanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial.
Alissa Wahid, berdasarkan pemahaman yang diwariskan ayahnya, memandang ajaran Islam bertujuan melayani nilai-nilai kemanusiaan. Ia menegaskan ajaran Islam tidak mencederai hak asasi manusia. Dari sudut pandang ini, masyarakat yang semakin religius seharusnya justru menunjukkan tingkat toleransi yang lebih tinggi terhadap keberagaman, bukan sebaliknya.
Alissa menyatakan bahwa saat Islam mulai berkembang di Indonesia, masyarakat telah memiliki keragaman budaya yang tinggi. Umat Islam menampilkan sikap lebih terbuka dan toleran. Mereka mengakomodasi unsur lokal seperti adat istiadat dalam praktik keagamaan. Ciri khas itu kemudian masyarakat kenal sebagai Islam Indonesia. Para pemuda muslim dalam jaringan GUSDURian memaknai pandangan tersebut secara mendalam. Mereka menegaskan semboyan, “Kami orang Indonesia yang kebetulan beragama Islam.” Mereka menolak identitas sebagai muslim yang kebetulan ada di Indonesia.
Namun, tidak semua umat muslim di Indonesia memiliki pandangan serupa. Sebagian individu lebih mengidentifikasikan diri terlebih dahulu sebagai muslim, dan kemudian sebagai warga negara Indonesia. Orientasi ini mendorongnya merasa lebih dekat dengan budaya Islam global daripada ekspresi ke-Islam-an lokal. Pola pikir tersebut sering kali menghadirkan pendekatan keagamaan yang lebih konservatif dan tidak selaras dengan perspektif pluralistik dalam Islam maupun keragaman masyarakat. Pandangan ini juga menentang interpretasi NU dan Muhammadiyah, yang menolak Islam sebagai ideologi politik dan menekankan peran agama dalam ranah sosial serta budaya.
Konservatisme yang Berkembang?
Alissa Wahid membedakan antara tren ekspresi budaya populer Islam di kalangan elite dengan munculnya arus konservatisme yang menguat. Sebagai seorang psikolog, ia menilai bahwa meningkatnya konsumsi produk-produk bernuansa Islami mencerminkan upaya pencarian jati diri dari kelompok kelas menengah. Menurutnya, hal ini wajar terjadi karena masyarakat kelas menengah memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk mengekspresikan spiritualitas sebagai bagian dari proses aktualisasi diri.
Di saat bersamaan, kelompok muslim yang tengah berkembang ini cenderung lebih fokus pada isu-isu yang berkaitan langsung dengan kehidupannya, dan umumnya tidak menunjukkan keterlibatan aktif dalam mendukung atau menolak agenda-agenda konservatif, ujar Alissa. Artinya, meningkatnya jumlah perempuan yang mengenakan busana muslim tidak secara otomatis mencerminkan meningkatnya konservatisme atau menurunnya toleransi dalam masyarakat. Pandangan ini sejalan dengan analisis Greg Fealy mengenai pietisme aspiratif, yang ia anggap sebagai fenomena sosial-budaya yang muncul akibat pertumbuhan ekonomi. Fealy berargumen bahwa alih-alih mempersempit pemahaman terhadap Islam, tumbuhnya pasar produk-produk Islami justru dapat memperluas ruang bagi keragaman ekspresi dan identitas ke-Islam-an.
Pengaruh kekuatan konservatif kini semakin terasa dalam dinamika politik dan kehidupan sosial. Alissa mencatat ironi dalam praktik demokrasi karena kaum konservatif sering menyalahkannya sebagai terlalu permisif, sementara kaum liberal mengkritiknya karena memberi ruang bagi pandangan konservatif. Pada masa Orde Baru, Soeharto menilai Islam politik sebagai ancaman dan menekannya melalui kebijakan yang mewajibkan seluruh organisasi menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Sebagian pihak berpendapat bahwa kebijakan inilah yang mendorong NU dan Muhammadiyah untuk menyatakan dukungan terhadap ideologi negara, sekaligus mengalihkan orientasinya pada isu-isu sosial dan kebudayaan sebagai strategi untuk mempertahankan eksistensinya.
Orde Baru
Sejak runtuhnya rezim Orde Baru, Indonesia mengalami penguatan arus konservatisme dalam pemahaman keagamaan, disertai meningkatnya konflik antarumat beragama dan aksi terorisme brutal seperti tragedi bom Bali. Bagi kalangan muslim moderat, tindakan-tindakan tersebut tidak merepresentasikan ajaran yang diyakini, dan karenanya menuntut respons tegas dari para pemimpin nasional serta aparat penegak hukum. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjelang akhir masa jabatannya, menuai kritik karena dianggap diam terhadap isu konservatisme dan radikalisme, sehingga membuka ruang bagi kelompok minoritas radikal untuk memengaruhi tatanan sosial-politik secara tidak proporsional.
“Pernahkah Anda bertanya mengapa sebagian besar kalangan kelas menengah mendukung Prabowo Subianto?” ujar Alissa. Menurutnya, banyak darinya merasa memerlukan sosok pemimpin yang tegas dan berwibawa. Ia menambahkan bahwa sebagian masyarakat menganggap hal tersebut sebagai kelemahan dari sistem demokrasi, karena dianggap tidak mampu melahirkan kepemimpinan yang kuat. Pandangan semacam ini, lanjutnya, menjadi ruang subur bagi berkembangnya kelompok-kelompok konservatif.
Presiden terpilih Joko “Jokowi” Widodo menghadapi tantangan penting dalam memperkuat toleransi antarumat beragama di Indonesia. Menurut Alissa, Jokowi sejauh ini telah menunjukkan komitmen dalam mendukung tokoh-tokoh politik yang menghadapi tantangan karena latar belakang gender atau etnis, serta memperlihatkan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Ia juga mencermati bahwa pendekatan kepemimpinan Jokowi mencerminkan orientasi pragmatis yang menekankan efisiensi dan penyelesaian masalah, dengan ruang yang masih terbuka untuk memperkuat visi politik jangka panjang.
“Menurutnya, jika Anda menanyakan kepada Jokowi bagaimana gambaran Indonesia dalam setengah abad mendatang, kemungkinan besar dia tidak akan memberikan jawaban.”