Puing Pesawat Pengintai Ditemukan: 10 Hilang, 1 Jenazah

menemukan puing pesawat hilang

Pada Minggu, pihak berwenang mengumumkan bahwa mereka telah menemukan puing pesawat pengawasan perikanan yang hilang. Tim menemukan puing itu di lereng gunung yang berselimut kabut di Sulawesi Selatan. Tim penyelamat menemukan satu dari sepuluh orang di dalam pesawat tewas.

Pesawat turboprop ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) hilang kontak dengan menara pengawas. Kejadian terjadi Sabtu sekitar pukul 13.30 di Maros, Sulawesi Selatan.

Pesawat itu membawa tujuh awak dan tiga penumpang. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyewa pesawat untuk patroli udara, dan staf kementerian menjadi penumpang.

Awalnya aparat menyebut ada delapan awak di pesawat, namun kemudian mereka memperbaiki jumlah tersebut. Pesawat ini sedang menuju Makassar dari Yogyakarta saat hilang kontak.

Puing-puing Ditemukan Berserakan di Gunung Bulusaraung

Andi Sultan, pejabat badan penyelamat Sulawesi Selatan, mengatakan tim lokal menemukan puing-puing di beberapa lokasi. Penemuan terjadi pada Minggu pagi di lereng Gunung Bulusaraung.

Sultan mengatakan, “Pada 07.46, tim helikopter kami menemukan puing jendela pesawat.”

“Pada pukul 07.49 pagi, tim menemukan bagian besar yang kemungkinan merupakan badan pesawat,” kata dia, seraya menyebut ekor pesawat tampak di dasar lereng.

Tim penyelamat juga menemukan bagian lain seperti mesin pesawat dan kursi penumpang.

Sultan mengatakan tim telah mengerahkan petugas ke lokasi puing-puing, tetapi kabut tebal dan medan pegunungan mengganggu operasi pencarian.

Pada sore hari Minggu, petugas menemukan tubuh korban di jurang sekitar 200 meter dari puncak Gunung Bulusaraung, menurut Sultan; kondisi atau keberadaan sembilan orang lainnya masih belum terkonfirmasi.

Muhammad Arif Anwar, kepala badan penyelamatan Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa setelah tim menemukan puing-puing, mereka memprioritaskan pencarian korban dan akan mengerahkan 1.200 personel.

Penyebab Kecelakaan Belum Ditentukan

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengatakan temuan sementara lembaganya menunjukkan pesawat tergelincir dan menabrak lereng gunung.

Soerjanto mengatakan bahwa pilot masih mengendalikan pesawat saat menabrak daratan secara terkendali, sehingga kecelakaan itu tidak sengaja.

Ia menambahkan bahwa para penyelidik belum dapat memastikan penyebab kecelakaan ini.

IAT mengatakan pesawat sempat mengalami gangguan teknis, namun mereka memperbaikinya dan menyatakan pesawat laik terbang sebelum berangkat ke Makassar.

Direktur Operasi IAT Edwin mengatakan ada masalah teknis yang sempat terjadi, namun sudah diperbaiki dan pesawat diuji pada hari Jumat; penerbangan dari Halim ke Semarang dan Yogyakarta berlangsung lancar.

Para pakar penerbangan menyatakan bahwa kebanyakan kecelakaan terjadi akibat gabungan beberapa faktor.

Model ATR 42-500 dari pembuat pesawat Prancis-Italia ATR adalah pesawat turboprop untuk rute regional dengan kemampuan membawa 42 sampai 50 penumpang.

Flightradar24 menulis di X bahwa karena pesawat pengintai terbang rendah di atas laut, jangkauan pelacakannya sempit, dengan sinyal terakhir terekam pada pukul 04.20 GMT sekitar 20 km timur laut dari Bandara Makassar.

Kecelakaan ini adalah insiden fatal ATR 42 pertama dalam lebih dari 10 tahun; sebelumnya pada 2015 sebuah ATR 42-300 dari Trigana Air Service menabrak lereng gunung di Papua dan semua 54 orang di dalamnya tewas.

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *