Perkebunan Picu Deforestasi Lebih Parah daripada Penebangan

World Resources Institute studi

World Resources Institute merilis studi pada Senin. Studi itu menunjukkan kehilangan tutupan pohon terjadi di wilayah perbatasan. Hampir seluruh kehilangan tutupan pohon berlangsung di luar batas resmi yang telah mendapat penetapan. Penelitian tersebut mengungkap bahwa 90% dari kehilangan ini mengorbankan hutan alam di Brasil, Kolombia, Peru dan Liberia.

Para penulis dalam siaran pers memperingatkan bahwa permintaan global mendorong perkebunan pohon menggantikan hutan alam. Mereka mencatat bahwa perkebunan pohon meluas hingga 45 juta hektare di tujuh negara tropis. Luas wilayah tersebut bahkan melebihi negara bagian California di Amerika Serikat.

Petersen, penulis utama studi dan analis riset Global Forest Watch WRI, menjelaskan perbedaan ekologis hutan tanaman dan hutan alam. Ia menekankan bahwa sistem monokultur tropis membuat hutan tanaman memiliki keanekaragaman hayati lebih rendah dan menyimpan karbon lebih sedikit. Hutan tanaman juga sering memberikan manfaat terbatas bagi daerah aliran sungai daripada hutan primer maupun hutan alami yang masih utuh.

Terabyte citra satelit dan data geografis yang tersedia saat ini memungkinkan para ilmuwan mengungkap kondisi hutan tropis di bumi. Universitas Maryland mengembangkan data inovatif untuk memantau perubahan tutupan hutan. Data tersebut menyajikan potret singkat dinamika lanskap. Potret ini menggambarkan kondisi di berbagai wilayah terpencil dunia.

Petersen menjelaskan bahwa salah satu kendala dari repositori besar ini adalah kecenderungannya menggabungkan berbagai jenis tutupan pohon menjadi satu kategori. Akibatnya, sulit membedakan antara hutan alam sekunder—yang menunjukkan jejak aktivitas manusia—dengan perkebunan pohon.

Ia menuturkan bahwa melatih model komputer untuk secara otomatis mengenali perkebunan bukanlah hal yang sederhana. Karena itu, tim WRI menggandeng mitra lamanya, Transparent World—sebuah LSM asal Rusia yang terkenal dengan keahliannya dalam teknologi penginderaan jarak jauh.

Selama lebih dari satu tahun, mereka menghabiskan ratusan jam kerja untuk meneliti batas hampir 46 juta hektare perkebunan melalui citra satelit yang mencakup tujuh negara: Brasil, Kamboja, Kolombia, Indonesia, Liberia, Malaysia dan Peru.

Indonesia & Malaysia

Indonesia dan Malaysia, dengan sejarah panjang dalam pengelolaan perkebunan, mencatat tingkat kehilangan tutupan pohon di kawasan perkebunan yang jauh lebih tinggi daripada negara lain dalam penelitian ini. Di Indonesia, perkebunan menyumbang sekitar 44% kehilangan tutupan pohon, sedangkan di Malaysia—di mana perkebunan menutupi 30% wilayahnya—perkebunan menyebabkan 65% kehilangan tutupan pohon.

Situasi di Brasil, Kolombia, Liberia dan Peru tampak sangat berbeda. Negara-negara dengan hutan lebat ini menjadi sasaran perusahaan yang mengembangkan perkebunan serta pertanian berskala besar. Tim penelitian mencatat bahwa lebih dari 90% kehilangan tutupan pohon di wilayah tersebut pada periode 2013–2014 terjadi di hutan alami.

Peru menjadi contoh penting dari data ini. Perkebunan hanya memanfaatkan sekitar 0,1% wilayah di negara Amazon tersebut. Meski begitu, dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir, perkebunan telah menggusur kurang lebih 5.000 hektare hutan primer, menurut Elizabeth Goldman, peneliti di WRI sekaligus salah satu penulis laporan tersebut.

Goldman menekankan pentingnya memperhatikan lokasi pembangunan perkebunan agar tidak menggusur hutan alami. Ia menambahkan bahwa para pengguna dapat memanfaatkan peta-peta ini untuk merencanakan pengembangan perkebunan.

Perencanaan yang tepat dapat mengarahkan ekspansi pertanian berskala besar ke lahan yang sudah terdegradasi. Tanpa adanya perencanaan tersebut, perkebunan berisiko terus meluas ke hutan primer yang masih utuh—hutan yang berperan penting sebagai habitat bagi beragam flora dan fauna, menyerap karbon dari atmosfer, serta menjaga kualitas air tetap terjaga.

Goldman menyatakan bahwa masih ada kesempatan untuk mencegah hal serupa terulang di masa depan.

Peta Perkebunan

Peta perkebunan saat ini dapat diakses melalui situs Global Forest Watch milik WRI. Dalam laporannya, para analis menjelaskan bahwa peta tersebut bisa dimanfaatkan oleh pembuat kebijakan, pimpinan perusahaan maupun peneliti untuk memperdalam pemahaman mengenai negara tempatnya beroperasi. Selain itu, data ini juga telah dipakai untuk menyesuaikan perkiraan emisi akibat pembukaan lahan, yang kemudian ditampilkan dalam platform iklim terbaru Global Forest Watch yang diperkenalkan pada KTT Iklim PBB di Paris.

Saat ini, kumpulan data tersebut baru menyajikan potret singkat mengenai kondisi hutan dan perkebunan di tujuh negara. Namun, para penulis berharap dapat melakukan pembaruan di masa depan agar mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika perubahan lahan di dunia dari waktu ke waktu.

Goldman dan Petersen menegaskan bahwa penandaan perkebunan pada peta hutan tropis tidak dimaksudkan untuk menyudutkan perusahaan yang menjalankan operasi tersebut. Petersen menambahkan, penggunaan produk seperti kertas, karet dan kelapa sawit tetap akan berlanjut.

Sebaliknya, melalui pemetaan lanskap yang lebih menyeluruh dari penelitian ini, ia berharap kita bisa menemukan jawaban atas pertanyaan, “Apa asal mula semua ini?”

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *