Kegagalan Indonesia yang Dimanfaatkan ISIS

Kelompok Negara Islam brutal Salah satu pelaku penembakan saat aksi teror di Jalan MH Thamrin, kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1). Sejumlah teroris melakukan penyerangan terhadap beberapa gedung dan pos polisi di kawasan tersebut yang mengakibatkan sejumlah korban tewas dan luka-luka. ANTARA FOTO/XINHUA/Veri Sanovri/pras/foc/16.

Kelompok Negara Islam yang brutal terus menimbulkan keresahan global, namun serangan terbaru di pusat Jakarta justru mengungkap batas kekuatannya. Militan terkait kelompok ini melakukan bom bunuh diri dan baku tembak, menewaskan beberapa warga sipil dan melukai puluhan orang. Meski begitu, ISIS belum berhasil meraih pengaruh politik atau sosial yang signifikan di negara dengan populasi Muslim terbesar.

Para pakar terorisme dan pejabat AS telah lama mengkhawatirkan potensi ISIS menyerang Indonesia. Sekitar 300 warga negara Indonesia pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan kelompok ini. Kekhawatiran meningkat karena luasnya wilayah, kondisi ekonomi yang lemah, dan tingginya korupsi. Faktor-faktor ini menjadikan Indonesia lahan subur perekrutan militan dan berpotensi menjadi front baru melawan ISIS.

Namun, potensi itu belum terwujud. Meski warga terlibat di ISIS, jumlah rekrutan jauh lebih kecil daripada negara mayoritas Muslim seperti Yordania, Arab Saudi, dan Tunisia. Bahkan, Belgia dan Prancis mengirim lebih banyak pejuang. Angka ini sangat kecil daripada populasi Indonesia yang melebihi 250 juta jiwa.

Mengapa ISIS gagal berkembang? Indonesia berbeda dengan Yordania, Arab Saudi, dan Tunisia karena memiliki pemerintahan inklusif, aparat keamanan efektif, dan perekonomian yang terus tumbuh selama beberapa dekade.

Warga tidak perlu pergi ke Suriah untuk bergabung dengan gerakan Islam; mereka bisa masuk partai politik Islam dan bersaing dalam pemilu. Inilah cara kerja demokrasi. Indonesia membuktikan bahwa organisasi Islam yang mendapat ruang politik memoderasi tuntutannya dan berintegrasi ke dalam sistem. Meski ada pengecualian seperti kelompok teroris yang sering menjadi sorotan, tren umum menuju moderasi terlihat jelas.

Tingkat ketidakpuasan jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara di mana kaum muda muslim memiliki sedikit peluang kerja atau sarana politik. Masyarakat umumnya bangga terhadap negaranya dan pencapaian besar, termasuk proses demokratisasi pada tahun 1998.

Respons publik terhadap serangan bulan ini cepat menyebar melalui media sosial, dengan tagar #KamiTidakTakut segera menjadi tren di Twitter.

Faktor Penting

Faktor penting lain yang melemahkan ISIS adalah peran besar organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Sekitar 75% muslim Indonesia berafiliasi dengan kedua kelompok ini, yang tegas menentang ISIS dan terorisme. Kedua organisasi tersebut mendukung demokrasi, bersikap toleran terhadap minoritas agama, dan menyalurkan aspirasi kaum muda muslim untuk perubahan sosial dan politik ke dalam kegiatan produktif, seperti pendidikan dan pengorganisasian gerakan sosial.

Apakah pengalaman Indonesia dapat menjadi pelajaran berharga untuk membendung ISIS di tempat lain, atau ini kasus unik? Indonesia memiliki perbedaan budaya yang signifikan dibandingkan negara mayoritas muslim di Timur Tengah. Sebelum Islam datang, kerajaan Hindu dan Buddha pernah berdiri di Jawa, dan warisannya masih melekat dalam budaya. Kini, keragaman agama, etnis dan bahasa sangat luar biasa: lebih dari 300 kelompok etnis, 700 bahasa serta daerah mayoritas non-muslim seperti Bali yang beragama Hindu. Pengakuan terhadap keragaman ini selalu menjadi bagian dari identitas nasional, dan konstitusi menjamin kebebasan beragama bagi kelompok yang diakui.

Meski berbeda dalam beberapa hal, Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan negara-negara Timur Tengah: tingkat kemiskinan tinggi, cadangan sumber daya alam besar, korupsi merajalela, rendahnya akses pendidikan tinggi serta sejarah konflik bersenjata dan gerakan Islamis yang vokal. Selain itu, Indonesia berada di kawasan yang tidak demokratis, mengingat negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Thailand dan Laos merupakan rezim otoriter.

Bagi para pembuat kebijakan, inti dari serangan di Jakarta jelas: ISIS merupakan ancaman bagi warga sipil, dan polisi harus terus memantau anggotanya. Namun, Indonesia tidak berisiko menjadi seperti Irak atau Suriah, dan tidak akan menjadi bagian dari apa yang disebut kekhalifahan. Sebaliknya, Indonesia mengingatkan bahwa cara paling efektif untuk meminimalkan dampak ISIS bukan melalui kekuatan militer atau polisi, melainkan melalui strategi jangka panjang yang mengintegrasikan lembaga politik, pertumbuhan ekonomi dan organisasi masyarakat sipil yang kuat.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *