Indonesia Masih Tertinggal dalam Tingkat Melek Huruf Dunia

Indonesia posisi kedua terbawah

Peneliti menempatkan Indonesia di posisi kedua terbawah dalam tingkat literasi dari 61 negara, hanya mengungguli Botswana. Penelitian terbaru tersebut juga menempatkan lima negara Nordik—Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia—sebagai peringkat teratas dalam daftar.

Penelitian oleh Central Connecticut State University di New Britain, Connecticut, Amerika Serikat meneliti karakteristik dan perilaku literasi di 200 negara. Namun, hanya 61 negara yang tercantum dalam daftar karena negara lainnya tidak memiliki data statistik yang memadai.

Negara-negara maju mendominasi daftar peringkat, dengan Swiss menempati posisi keenam, Amerika Serikat ketujuh, Kanada ke-11, Prancis ke-12 dan Inggris ke-17. Sementara itu, Indonesia berada di urutan ke-60, tepat setelah Thailand yang menempati posisi ke-59.

Presiden Central Connecticut State University John Miller menyatakan pengetahuan berfungsi sebagai produk sekaligus alat. Kesejahteraan ekonomi bangsa bergantung pada kemampuan literasi masyarakat, yaitu membaca dan menulis.

Peringkat ini menegaskan praktik literasi penting bagi keberhasilan individu dan bangsa dalam ekonomi berbasis pengetahuan. Miller menekankan masyarakat tanpa kebiasaan literasi cenderung hidup kumuh, kekurangan gizi mental maupun fisik, mengekang hak asasi, dan berperilaku brutal.

Laporan ini menyebutkan bahwa jika pemeringkatan negara hanya mempertimbangkan hasil penilaian kemampuan membaca, maka Singapura akan menempati posisi teratas, disusul oleh Finlandia, Korea Selatan, Jepang dan China.

Studi tersebut menunjukkan bahwa perubahan variabel penentu dapat menghasilkan peringkat berbeda, menempatkan negara lain di posisi teratas. Misalnya, Brasil unggul dalam investasi pendidikan, Estonia menonjol melalui jumlah koleksi buku di perpustakaan, dan Belanda menempati puncak berdasarkan kepemilikan komputer di rumah tangga. Jika indikatornya surat kabar, Finlandia kembali menduduki peringkat pertama.

Laporan tersebut menyatakan bahwa ketika faktor lain selain hasil ujian diperhitungkan, tidak ada negara di kawasan Pasifik yang berhasil masuk ke dalam 25 besar peringkat teratas.

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *