Generasi baru memasuki pasar dengan perilaku berbeda pada beberapa aspek. Manajer harus mengelola keberagaman budaya saat memimpin; tugas ini sangat menantang.
Apakah Ada Perubahan dalam Budaya Indonesia?
Perubahan budaya memang berlangsung, namun transformasi yang berdampak memerlukan waktu panjang atau tindakan besar. Tahun lalu pemerintah mencoba langkah besar lewat program Revolusi Mental. Sejak 1999 pemerintah mulai merombak sistem politiknya, sementara sistem sosial masih dalam proses pembentukan. Jika kita asumsikan perubahan budaya signifikan memakan dua generasi, maka itu setara dengan sekitar 50 tahun.
Kini genap 19 tahun sejak era pasca-Soeharto. Sudah 14 tahun pelaksanaan pemilihan umum secara langsung. Pemerintah memberlakukan sistem sekolah baru delapan tahun lalu. Asuransi sosial telah berjalan selama empat tahun. Sistem lama tidak mensosialisasikan mereka, dan kini usia mereka sekitar 20–22 tahun. Dengan kondisi ini, kita masih menempuh perjalanan panjang sebelum perubahan budaya yang nyata terlihat.
Pendidikan formal bukan satu-satunya sumber budaya; keluarga, proses sosialisasi, dan lingkungan menanamkan budaya pada seseorang. Keluarga, teman, dan lingkungan memberi pengaruh terbesar dalam membentuk budaya individu. Banyak orang menerima nilai budaya kita begitu saja tanpa menyadarinya, sehingga mereka jarang mempertanyakannya.
Kembali ke Akar Budaya
Generasi terdahulu mewariskan beberapa prinsip budaya dasar yang lebih tua dari Republik Indonesia karena prinsip-prinsip itu menjaga ketertiban sosial atau memberi manfaat pribadi; contoh: Rukun, Musyawarah dan Mufakat, penghormatan terhadap usia dan status, persatuan, Gotong Royong, serta prinsip-prinsip kekuasaan, yang semuanya berakar kuat pada kepercayaan, nilai-nilai sosial, dan ideologi nasional.
Anak-anak masa kini juga mempelajari prinsip-prinsip ini dari keluarga, prasekolah, sekolah dan universitas.
Kita bisa menganggap perubahan mereka lambat atau bahkan tidak terjadi, walau sebagian menimba pengalaman di luar negeri; mayoritas tetap berpegang pada pola sosial lama, dan mereka yang kembali sering kesulitan menyelaraskan pengalaman baru dengan budaya lokal; sebagian berhasil membawa pengaruh budaya baru, tetapi banyak yang akhirnya kembali menyesuaikan diri dengan budaya asal.
Mencari Identitas Budaya
Perbedaan mencolok antara budaya perkotaan dan pedesaan perlu diperhitungkan. Di Jakarta berbagai budaya bercampur; seringkali kita bertemu orang yang tampak sangat kebarat-baratan dalam sikap, pemikiran dan perilaku, namun ketika menghadapi masalah penting mereka cenderung kembali pada pola penanganan konflik yang dipelajari sejak kecil meskipun pernah dilatih cara lain. Anak muda Jakarta pun menunjukkan hal serupa: di luar mereka berperilaku ala Barat—mengunjungi bar bergaya Barat, bergaul dengan orang asing, mengenakan busana dan menggunakan gadget Barat, minum kopi merek internasional, menonton YouTube, serta berbicara dalam bahasa Inggris—tetapi nilai-nilai budaya tradisional tetap kuat dan menjadi rujukan saat situasi kritis.
Namun, bila menyingkap tampilan kebarat-baratan, akar budaya, keyakinan dan pola perilaku mereka akan terlihat. Temui mereka di lain kesempatan, saat berkumpul dengan teman-teman lokal di warung kecil; di situ kebudayaan asli mereka segera tampak. Hal ini bisa dikatakan wajar dan memang seharusnya demikian.
Memang, generasi muda gampang mengadopsi tren yang mereka sukai hingga menjadi bagian dari kebiasaan, tetapi saat kembali berkumpul dengan keluarga di kampung, kecenderungan berbau Barat ini cepat memudar dan mereka kembali ke nilai-nilai budaya asal.
Perubahan yang Sedang Berlangsung
Indonesia kaya akan ragam budaya yang menarik dan memikat. Saat ini kita berada dalam masa transisi yang unik, di mana beragam nilai budaya hidup berdampingan, saling berinteraksi, kadang berbenturan, bercampur dan berupaya diselaraskan.
Masyarakat kini tengah mencari identitas budaya yang cocok untuk era abad ke-21. Pencarian ini dipengaruhi oleh beragam faktor: tradisi lokal, gelombang demokrasi baru, dorongan mengejar kesejahteraan ekonomi, upaya menuntut ilmu, arus budaya dari Tiongkok, Korea, Jepang, Eropa dan Amerika Serikat, pengaruh agama, pertentangan antara gaya hidup Barat dan Asia, serta berbagai dinamika lain.
Hal yang harus dihindari adalah upaya politik, ekonomi atau dunia usaha untuk secara aktif mengarahkan proses ini ke satu arah; upaya semacam ini biasanya gagal. Sejarah memperlihatkan bahwa penjajah, politisi atau pihak manapun tidak mampu mengubah nilai-nilai budaya yang sudah tertanam kuat. Nilai-nilai tersebut berakar dalam masyarakat sehingga banyak yang sulit bergeser. Memang budaya bersifat dinamis, tetapi perubahannya lambat dan hanya terjadi jika orang-orang secara kolektif bersedia berubah secara bertahap. Kadang-kadang budaya bahkan menolak perubahan.
Sejak akhir 1980-an pemerintah mengirim banyak pemuda berbakat ke AS dan negara lain untuk menempuh pendidikan di universitas ternama serta mengumpulkan pengalaman internasional. Di sana mereka mempelajari praktik manajemen global, gaya negosiasi, kepemimpinan dan keterampilan komunikasi; kini banyak dari mereka duduk di dewan direksi dan komite kredit perusahaan besar. Apakah kehadiran mereka telah mengubah budaya?