Pihak berwenang menangkap lima orang karena menggalang dana dan merekrut anggota baru untuk kelompok ISIS. Dalam konferensi pers Senin, Jenderal Badrodin Haiti mengatakan polisi menangkap kelima tersangka pada Sabtu.
“Kami masih dalam tahap penyelidikan,” katanya. Dia mengatakan bahwa informasi awal yang mereka kumpulkan menunjukkan kelima orang itu terkait jaringan ISIS.
Saat penggerebekan di kediaman salah satu tersangka, aparat menemukan dokumen perjalanan seperti paspor dan tiket pesawat. Mereka juga menyita beberapa telepon genggam serta uang tunai dalam rupiah dan dolar.
Pihak berwenang sejauh ini belum memberi kelima tersangka kesempatan untuk menyampaikan tanggapan publik atas tuduhan tersebut.
Pemerintah aktif menanggulangi perekrutan oleh kelompok ISIS yang resmi pemerintah larang sejak tahun lalu. Meski demikian, menurut pernyataan jenderal polisi tersebut, proses perekrutan oleh kelompok tersebut kini telah meluas ke berbagai daerah.
Ia mengatakan jaringan ISIS tidak hanya ada di Poso, Sulawesi Tengah, tetapi juga menyebar ke wilayah lain. Ia menyebut aktivitas kelompok itu terdeteksi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Informasi Penangkapan
Informasi mengenai penangkapan ini mencuat bertepatan dengan dibukanya konferensi oleh pemerintah yang membahas bahaya dan ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok ISIS.
Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka acara tersebut dengan menyampaikan bahwa kelompok militan telah mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi di Suriah dan Irak.
“Permasalahan ISIS tidak semata-mata bersifat ideologis,” katanya. “Meski pada awalnya berakar dari ideologi, situasinya kemudian diperparah oleh ketidakstabilan politik, merosotnya kekuatan pemerintahan serta persoalan ekonomi.”
Din Syamsudin, selaku pimpinan organisasi Islam moderat Muhammadiyah, menekankan pentingnya bagi kelompok-kelompok sejenis untuk merumuskan strategi yang menyeluruh dalam menghadapi dan membendung pengaruh gerakan ISIS.
“ISIS dan aksi terorisme sejatinya menjadi ancaman serius, bukan hanya bagi komunitas muslim, tetapi juga bagi nilai-nilai kemanusiaan dan keberlangsungan peradaban secara global. Tindakannya tidak hanya merusak tatanan peradaban, tetapi juga mencoreng citra Islam,” ujarnya.
Ia turut mendesak pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah yang lebih keras terhadap individu yang memberikan dukungan atau terlibat dalam aktivitas kelompok tersebut.
Diperkirakan sejumlah warga negara telah bergabung dengan kelompok ISIS di wilayah Suriah dan Irak. Pemerintah pun menyatakan tengah merancang langkah untuk mencabut status kewarganegaraan bagi yang terlibat dalam kelompok tersebut.
Pemerintah menyatakan bahwa kelompok radikal tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai dasar negara yang menjunjung keberagaman, yakni Pancasila.