Dalam buku barunya “Tanah Air Baru, Indonesia”, diluncurkan Kamis 10 November, Hilde Janssen mengungkap kisah kurang dikenal. Ia adalah jurnalis dan antropolog Belanda yang meneliti perjalanan empat wanita Belanda ke Indonesia pasca-Perang Dunia II. Buku itu pertama terbit di Belanda dengan judul Enkele Reis Indonesie. Ia mengisahkan petualangan menegangkan Dolly Zegerius, Annie Kobus, Miny Kobus, dan Betsy Kobus. Keempatnya memilih pergi ke Indonesia setelah perang, sementara banyak orang Belanda justru melarikan diri. Janssen mulai menulis setelah membeli sebuah foto di pameran peringatan 65 tahun Indonesia. Ia terkesan oleh keterangan foto yang berbunyi Para wanita Belanda dalam perjalanan ke republik, 1947. Janssen bertanya-tanya mengapa keempat wanita itu memilih melakukan perjalanan ke Jawa. Keputusan itu berisiko karena tentara Indonesia yang baru terbentuk sedang berperang sengit. Mereka berhadapan dengan upaya Belanda merebut kembali kekuasaan setelah pendudukan Jepang.
Pada 2010, Janssen bertemu Zegerius yang berusia 85 tahun; Zegerius segera mengenali tiga wanita lain dalam foto ini sebagai saudara Kobus, yang ternyata bepergian dengan kereta yang sama. Keempat wanita ini masih berusia dua puluhan saat meninggalkan Belanda bersama suaminya yang berkebangsaan Indonesia pada akhir 1946. Kebiasaan muda dan pikiran terbuka mereka memungkinkan petualangan seru mengelilingi Jawa yang berbahaya, sementara banyak orang Belanda melarikan diri. Mereka ikut hidup bersama masyarakat biasa dan bergabung dengan para pejuang saat berjuang merebut kemerdekaan dari Belanda. Buku ini mengungkap bagaimana wanita Belanda menunjukkan kesetiaan kepada Indonesia sepanjang masa revolusi. “Saya menyusun kembali kehidupan keempat wanita ini dengan memasukkan sebanyak mungkin rincian dan sebisa mungkin mendekati kebenaran. Saya sangat berterima kasih kepada Dolly, Annie dan Miny karena telah begitu terbuka membagikan kenangannya kepada saya,” ujar Janssen.
Meski dipenuhi dengan catatan sejarah, pada dasarnya buku ini adalah kisah personal tentang orang-orang yang hidupnya terjerat dalam perjuangan sebuah bangsa muda untuk merebut kemerdekaan dari penguasa kolonialnya.
Empat Wanita
Dalam penelitiannya, Janssen berhasil mengontak tiga wanita yang disebut dalam buku ini—Dolly, Annie dan Miny—sedangkan Betsy sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Janssen, yang bekerja di Indonesia sejak 1991, mengatakan ketiga wanita itu menyambutnya hangat dan bersedia berbagi pengalaman; ia berharap buku ini memberi perspektif segar tentang sejarah Belanda‑Indonesia di Belanda, karena banyak orang di sana tampak lupa bahwa keluarga mereka, bahkan mereka sendiri, pernah mendukung kemerdekaan Indonesia. Namun karena banyak yang kehilangan teman dan kerabat selama perang revolusi pasca-Perang Dunia II, emosi menjadi penghalang. Janssen menyatakan bahwa di Belanda sambutan terhadap buku ini hangat—generasi muda lebih berpikiran terbuka soal masa kolonial, sementara generasi tua kini lebih bersedia mempelajari ulang sejarahnya. Menurut Dolly, yang datang ke acara peluncuran pada hari Kamis, buku tersebut menghidupkan kembali banyak kenangan tentang Jawa dan Indonesia.
Dolly bercerita bahwa buku Hilde membangkitkan kembali ingatan-ingatan yang sempat hilang. Gaya penulisannya begitu apik sehingga baginya membaca buku ini seperti berjalan menyusuri kenangan, hingga ia menyelesaikannya dalam dua malam. Iman Brotoseno, sutradara film, menyatakan bahwa buku ini menyuguhkan sudut pandang yang lain mengenai sejarah orang Belanda di Indonesia. Berbagai kelompok bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan dari Belanda, bahkan sejumlah orang Belanda ikut ambil bagian. Menurutnya, buku ini memperlihatkan bahwa kita semua berada di pihak yang sama.