Tragedi Mematikan: 17 Orang Tewas dalam Banjir dan Longsor

Banjir dan longsor akibat

Banjir dan longsor akibat hujan monsun sangat deras melanda Pulau Sumatra. Hujan monsun yang sangat deras menewaskan sedikitnya 17 orang dan membuat puluhan lainnya hilang, kata pejabat.

Hujan deras yang terus-menerus sejak Senin membuat sungai di Sumatra Utara meluap. Lumpur, batu, dan pohon tumbang terbawa, menerjang enam kabupaten.

Polri mengatakan pada Rabu tim penyelamat kesulitan menjangkau komunitas terpencil karena jalan rusak dan lereng tak stabil. Hujan deras juga memperlambat operasi penyelamatan, sehingga akses dan evakuasi menjadi sangat sulit.

Pihak berwenang melaporkan menemukan lima jenazah dan tiga korban luka yang selamat di Sibolga, wilayah paling parah terdampak banjir.

Tanah longsor di Tapanuli Tengah menghancurkan sejumlah rumah dan menewaskan minimal empat anggota keluarga. Banjir parah menenggelamkan hampir 2.000 rumah dan bangunan publik.

Abdul Muhari, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, menyatakan banjir dan pohon tumbang di Tapanuli Selatan menewaskan delapan orang, melukai 58, dan memaksa lebih dari 2.800 warga mengungsi.

Sebuah jembatan ambruk di Kabupaten Mandailing Natal, memutus akses lokal dan menenggelamkan 470 rumah.

Tim penyelamat menyatakan lumpur dan puing-puing menutup jalur utama yang menghubungkan sejumlah desa di Pulau Nias.

Upaya Penyelamatan Terhambat

Video yang warga unggah online memperlihatkan air meluap hingga menutupi atap rumah sementara keluarga berlari ke tempat lebih tinggi.

Di beberapa kawasan, banjir bandang datang begitu cepat sehingga jalan berubah menjadi arus deras yang membawa batang pohon, perabot rumah dan puing.

Menurut Kapolres Sibolga Eddy Inganta, seluruh kota telah membuka pos penampungan darurat, dan pihak berwenang mendesak penghuninya di dekat lereng tidak stabil untuk mengungsi; enam tanah longsor menghancurkan 17 rumah serta satu kafe.

Eddy menyatakan operasi penyelamatan terganggu karena cuaca buruk dan tanah longsor, dan mengingatkan bahwa hujan terus-menerus dapat menyebabkan longsor berikutnya.

Bencana ini terjadi pada hari yang sama saat Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengakhiri pencarian selama 10 hari di dua kabupaten di Jawa Tengah, di mana badai sebelumnya menewaskan 38 orang.

Sekitar 1.000 lebih penyelamat dikerahkan untuk mengevakuasi mereka yang terkubur di bawah lapisan lumpur tebal, tetapi para pejabat memperingatkan bahwa kondisi tanah yang tidak stabil dan memburuknya cuaca membuat operasi selanjutnya berbahaya. 13 orang masih dinyatakan hilang di Cilacap dan Banjarnegara.

Setiap musim hujan, dari Oktober hingga Maret, curah hujan tinggi kerap menyebabkan banjir dan tanah longsor; banyak penduduk bermukim di dataran banjir subur atau di lereng bukit yang curam dan mudah longsor.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *