Hutan Mentawai Masih Terancam

Di lepas pantai barat

Di lepas pantai barat Sumatra, Kepulauan Mentawai muncul dari Samudra Hindia, berhutan dan bersungai, habitat kera, gibbon, rangkong. Bagi masyarakat adat Mentawai, kosmologi Arat Sabulungan masih membentuk cara mereka memahami alam. Ajaran itu meyakini bahwa roh menghuni tiap pohon, sungai, dan hewan, serta mengajarkan manusia menjaga keseimbangannya. Meski Islam dan Kristen menyebar, banyak pemuda tetap berpersembahan sebelum menebang atau menebar jala, lapor Keith Anthony Fabro.

Dwi Wahyuni, peneliti UIN Imam Bonjol, mengatakan kepada Fabro: pemuda Mentawai kini menafsirkan ulang warisan leluhur beragam cara.

Dwi dan rekan-rekannya menelaah keterkaitan Arat Sabulungan dengan agama modern serta praktik konservasi dalam studi terbaru. Riset di lima desa di Pulau Siberut dan Sipora menunjukkan bahwa banyak anak muda yang tumbuh di gereja atau masjid tetap menghormati ritual leluhur. Masyarakat Mentawai menjalankan buluat, upacara sebelum menebang pohon, dengan memberi persembahan kepada roh penjaga pohon dan berkomitmen menanam kembali, terutama pohon buah. Seorang tetua menegaskan bahwa warga harus mengganti setiap pohon yang mereka tebang, karena tanpa penanaman ulang tanah akan kehilangan kesuburannya. Para peneliti menilai tradisi semacam ini berperan sebagai pengaman informal untuk mencegah pemanfaatan sumber daya secara berlebihan.

Kian Terdesak

Namun, Arat Sabulungan kini kian terdesak oleh berbagai tekanan. Sejak moratorium berakhir pada 2001, para penebang kembali beroperasi dan menghabisi sebagian besar hutan Siberut. Studi ini memperingatkan bahwa eksploitasi hutan oleh perusahaan besar maupun pelaku lokal memicu deforestasi secara masif. Menurut temuan tersebut, hilangnya tutupan hutan bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga menggerus ritual serta pengetahuan tradisional yang bergantung pada keberadaan hutan.

Sejumlah akademisi meragukan optimisme yang studi itu sampaikan. Darmanto dari Institut Oriental, Akademi Ilmu Pengetahuan Ceko, menilai Arat Sabulungan tidak otomatis menghambat eksploitasi hutan, dan ia menegaskan riset lapangan singkat belum menangkap kerumitan konteksnya. Ia juga mengingatkan agar orang tidak memoles berlebihan atau mengromantiskan spiritualitas masyarakat adat sebagai “spiritualitas primitif yang baik” demi selera audiens perkotaan.

Dwi menyatakan ia memahami kritik tersebut, seraya menekankan bahwa penelitiannya ingin menunjukkan bagaimana kosmologi berkelindan dengan kekuatan ekonomi dan politik.

“Alih-alih memandangnya sekadar tradisi yang berkaitan dengan lingkungan, saya menilai tradisi-tradisi ini menyediakan kerangka budaya untuk merundingkan relasi manusia dan alam,” ujarnya. Bagi orang Mentawai, keberlanjutan tradisi tersebut tampaknya sangat ditentukan oleh kelangsungan hutan ini sendiri.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *