Membaca antologi lengkap Kartini yang Joost Cote sunting dengan teliti dan terjemahkan dengan rapi membuat kita tersentak kembali. Kita menyadari ironi dalam hidup perempuan muda ini. Hampir tak seorang pun mempertanyakan perannya sebagai ikon nasionalis dan feminis.
Karena menulis bukan dalam bahasa Melayu, Kartini secara formal tidak tercantum dalam kanon sastra modern awal. Ironisnya, pembaca masa kini hanya bisa mengakses karyanya lewat terjemahan. Namun ada alasan kuat untuk memasukkan tulisan berbahasa Belanda dari penulis awal ke dalam kanon tersebut.
Cote mencatat ironi lain dalam pengantar bukunya. Kartini terkenal di Indonesia dan Belanda, tetapi belum ada yang mengompilasi karyanya dalam satu jilid. Cote mengambil tugas besar itu dalam buku ini. Ia menggabungkan dua kumpulan korespondensi Kartini yang telah terbit sebelumnya. Keduanya berjudul Door Duisternis tot Licht: Gedachten over en voor het Javaansche Volk dan Kartini: Brieven. Ia juga memasukkan seluruh tulisan Kartini yang pernah terbit. Secara keseluruhan, volume ini memuat 141 surat—sebagian tidak utuh—kepada 10 penerima di Eropa. Kartini bahkan tak pernah bertemu sebagian penerima itu. Selain itu, buku ini memuat empat cerpen, dua artikel etnografi, dua memorandum untuk pejabat pemerintah, dan tiga catatan deskriptif. Cote membuka buku ini dengan pengantar sejarah yang ringkas namun berguna dan memberi pengantar singkat untuk tiap bab.
Jadi, pembaca yang telah mengenal surat-surat Kartini bisa meraih keuntungan apa dengan membaca antologi ini?
Gagasan Feminis
Satu hal yang tampak jelas ialah bahwa gagasan-gagasan feminis Kartini, pandangannya tentang pendidikan, serta cita-citanya bertumbuh terutama melalui kolaborasinya dengan dua saudari kandungnya, Roekmini dan Kardinah, yang kemudian meneruskan visinya setelah wafat mendadak pada 1904. Kartini kerap menulis dengan dua nama samaran—Tiga Saudara atau Cloverleaf—menandakan bahwa banyak karyanya lahir dari kerja bersama. Bahkan ketika menandatangani surat-suratnya sebagai Kartini, ia kerap memakai pronomina “kami”. Dalam sepucuk surat kepada Stella Zeehandelaar pada Agustus 1900, Kartini menegaskan dengan lantang bahwa mereka bertiga adalah satu.
Kita melihat antusiasme besar Kartini terhadap seni dan kerajinan Jawa—terutama batik, gamelan, dan ukiran kayu. Ironi pun muncul: ia mengagumi modernitas sambil berkomitmen merawat unsur pokok tradisi Jawa. Cote menekankan bahwa peneguhan tradisi ini justru menandai tumbuhnya kesadaran modern, yaitu nasionalisme budaya Jawa. Visi dan sentimen nasionalis yang melandasi pikirannya mungkin ikut menggerakkan embrio gerakan nasionalis setelah ia wafat. Namun, Kartini sendiri tetap sangat Jawa. Cote mencatat bahwa ia jarang mengartikulasikan gagasan tentang Indonesia di luar Jawa.
Kita menyaksikan Kartini kian memperdalam pemahamannya tentang diri sebagai muslim. Dalam surat-surat awal, ia nyaris tidak membahas agama; ia bahkan pernah menolak Islam secara terbuka, mungkin karena ia melihat praktik keagamaan sebagai salah satu sumber penindasan perempuan. Dalam surat 6 November 1899 kepada Stella Zeehandelaar, ia mengaku hanya menganut agama karena warisan, belum memahami ajarannya, sehingga ia merasa mustahil mencintainya. Namun pada 1904, ia tetap mengkritik corak Islam yang ritualistik, formalistik, dan intoleran, tetapi ia mulai nyaman menampilkan diri sebagai muslim dan merangkul bentuk keislaman yang dipengaruhi kepercayaan tradisional Jawa (kejawen).
Pernikahan Poligami
Seperti kerap dicatat, ironi terbesar dalam hidup Kartini ialah persetujuan lahiriahnya terhadap pernikahan poligami. Membaca surat-suratnya membantu menempatkan sikap ini dalam bingkai kasihnya yang amat besar kepada sang ayah. Beberapa surat memberi isyarat bahwa ia kerap dihantui duka mendalam, jika bukan depresi. Hal ini terangkum dalam pengakuannya kepada Rosa Abendanon: ada hari-hari yang begitu kejam dan getir hingga ia berdoa agar hidupnya berakhir—namun niat ini urung karena cintanya kepada ayah. Ungkapan sejenis kerap muncul, misalnya kepada Stella, bahwa ia takkan pernah bahagia meski merdeka, bila kebebasan ini membuat ayahnya menderita. Karena itu, ketika ayahnya, Sosroningrat, menyampaikan kepada Jacques Abendanon bahwa ia merestui pendidikan putri-putrinya sepanjang pada akhirnya mereka menikah jika bertemu pasangan yang pantas, besarnya dilema yang dihadapi Kartini menjadi jelas.
Menurut para pengkritiknya—sebagaimana dicatat oleh Cote—capaian Kartini selama masa dewasanya yang singkat sebenarnya terbatas. Namun, buku ini menunjukkan bahwa melalui tulisan-tulisan, profil publik dan advokasinya yang tak kenal lelah, Kartini justru membuka jalan bagi lahirnya organisasi nasionalis awal Budi Utomo, peningkatan signifikan jumlah perempuan di sekolah-sekolah pemerintah, serta berdirinya sekolah-sekolah yang diprakarsai perempuan setelah ia wafat. Gagasan-gagasannya—tentang dan untuk bangsanya—terus menggema hingga kini.