Tragedi Air Asia: Penerbangan Diyakini Tenggelam di Dasar Laut

pencarian pesawat AirAsia 8501

Pada Senin, kepala tim pencarian pesawat AirAsia 8501 yang hilang sehari sebelumnya menduga pesawat itu berada di dasar laut.

Bambang Soelistyo, Kepala BASARNAS, menyampaikan kepada wartawan bahwa dugaan ini bersifat awal dan bisa berubah sesuai evaluasi hasil pencarian.

Pesawat militer Indonesia, Singapura dan Malaysia melakukan penerbangan di atas Laut Jawa untuk mencari puing-puing Airbus 320.

Pesawat Orion Australia menemukan puing sekitar 1.100 km dari lokasi hilangnya kontak, tetapi pihak berwenang belum memastikan asalnya dari pesawat yang hilang.

Dalam pernyataannya, Armada ke-7 Angkatan Laut AS menyampaikan bahwa mereka tidak menerima permintaan untuk ikut serta dalam pencarian.

Letnan Lauren Cole, wakil urusan publik Armada ke-7, menegaskan aset Angkatan Laut AS siap membantu dengan cara bermanfaat, sebagaimana sebelumnya.

Namun, bantuan dari Amerika Serikat kemungkinan segera datang. Bambang menjelaskan bahwa pemerintah tidak memiliki peralatan untuk pencarian dengan kapal selam, sehingga akan meminjam dari negara-negara yang telah menawarkan dukungan, yaitu Inggris, Prancis dan AS.

Laut Jawa yang cukup dangkal menjadi salah satu jalur pelayaran paling sibuk di dunia.

Pesawat jet ini lepas landas dari Surabaya menuju Bandara Changi Singapura pada Minggu pagi dan menempuh penerbangan dua jam. Namun, penerbangan QZ8501 hilang di tengah rute menuju Singapura.

Pilot meminta izin kepada pengontrol lalu lintas udara untuk naik sekitar 1.800 meter hingga mendekati 11.600 meter guna menghindari cuaca buruk. Seorang pejabat Kementerian Perhubungan menolak permintaan itu karena ada pesawat lain yang sedang melintas di wilayah tersebut.

Setelah kejadian itu, komunikasi terhenti. Pengontrol lalu lintas udara tidak menerima panggilan darurat dari pilot. Laporan menyebutkan bahwa kru pesawat Airbus terakhir kali melakukan transmisi pada pukul 6.12 pagi waktu setempat, hari Minggu.

149 Penumpang

Pesawat tersebut membawa 149 penumpang asal Indonesia, termasuk 16 anak-anak. Daftar penumpang juga mencatat tiga warga Korea Selatan, salah satunya bayi, seorang warga Malaysia serta seorang pria berkewarganegaraan Inggris yang bepergian bersama putrinya berusia dua tahun yang memiliki kewarganegaraan Singapura.

Menurut AirAsia, awak pesawat terdiri atas dua pilot, empat pramugari, dan satu teknisi, dengan seluruhnya berkewarganegaraan Indonesia kecuali kopilot yang berasal dari Prancis.

Kapten yang memimpin penerbangan menunjukkan pengalaman luas dengan lebih dari 20.000 jam terbang, termasuk 6.000 jam bersama AirAsia di kokpit Airbus A320.

Pada Senin pagi di Bandara Surabaya, keluarga penumpang dan awak pesawat menerima pengarahan. Mereka kemudian mengadakan pertemuan tertutup dengan CEO AirAsia, Tony Fernandes, yang berusaha menangani tragedi pertama maskapai sejak beroperasi pada 1996.

Fernandes pada hari Senin menyatakan, “Sampai saat ini kami belum pernah kehilangan nyawa. Namun, saya rasa tidak tepat jika seorang CEO maskapai penerbangan mengatakan perusahaannya bisa dijamin 100% aman, karena ada banyak faktor yang memengaruhi. Saat ini pun kita belum bisa berspekulasi mengenai penyebab kecelakaan tersebut.”

AirAsia Indonesia, yang dahulu bernama Air Wagon International dan beroperasi sejak 1999, dimiliki 49% oleh AirAsia yang berpusat di Malaysia. Jaringan maskapai berbiaya rendah ini melayani lebih dari 100 tujuan di 22 negara.

AirAsia merupakan pelanggan terbesar Airbus untuk tipe A320 dan dua tahun lalu memesan tambahan 100 pesawat bermesin ganda. Pesawat tersebut umumnya diatur untuk menampung 150 hingga 180 penumpang dan digunakan pada rute jarak pendek maupun menengah.

Visited 5 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *