Di bawah Presiden Prabowo Subianto, kebijakan Indonesia menunjukkan kecenderungan pro‑Rusia dan membuka peluang kerja sama bilateral baru. Tanda persahabatan terlihat dari penerimaan BRICS pada 6 Januari 2025, hampir langsung setelah pelantikan. Keanggotaan itu terjadi kurang dari dua bulan pasca pelantikan dan mengikuti pertemuan Prabowo‑Putin. Mereka bertemu pada 31 Juli 2024 saat kunjungan Prabowo ke Rusia. Kedekatan pribadi kedua presiden menjadi fondasi kuat untuk memperluas kerja sama ekonomi antarnegara.
Perkembangan hubungan kedua negara terlihat dari peran aktif pemimpin Indonesia di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg 2025. Presiden Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan pada forum tersebut. Kedua pihak mengesahkan Deklarasi Kemitraan Strategis Rusia–Indonesia di sana. Langkah ini menjadi pijakan bagi kerja sama bilateral dan multilateral kedua negara. Kerja sama akan meluas di berbagai bidang, terutama melalui mekanisme BRICS.
Para pemimpin melanjutkan pembicaraan kerja sama bilateral saat Prabowo berkunjung ke Rusia pada 10 Desember 2025. Presiden Rusia menyatakan prospek kerja sama energi, termasuk nuklir, sangat menjanjikan. Dia menawarkan kesiapan spesialis Rusia jika Indonesia mengundang mereka. Rusia memimpin di bidang energi nuklir. Indonesia masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Negara menargetkan netralitas karbon pada tahun 2060. Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Penasihat Kadin, menyatakan tiga perempat kapasitas energi baru akan berasal dari terbarukan. Pemerintah menyetujui pembangunan pembangkit nuklir pertama berkapasitas 500 MW. Pemerintah menetapkan rencana peningkatan kapasitas nuklir hingga 6,5 GW.
Membangun PLTN
Keputusan prinsip membangun pembangkit listrik tenaga nuklir skala industri di Indonesia kini jelas. Kekhawatiran pasca-Fukushima pada praktiknya telah berkurang. Namun isu keselamatan tetap relevan karena sebagian besar wilayah Indonesia rawan gempa dan aktivitas vulkanik. Para ahli menganggap Kalimantan lokasi paling cocok untuk pembangunan pembangkit nuklir. Pulau ini memiliki sedikit aktivitas vulkanik dan relatif stabil secara seismik. Kalimantan membutuhkan pasokan energi besar untuk mengembangkan industri aluminium. Cadangan bauksit utama terletak di bagian barat pulau tersebut. Pembangkit nuklir dapat menyediakan energi murah yang industri tersebut perlukan.
Pengembangan energi nuklir di Indonesia memerlukan pembentukan tenaga ahli domestik baru, sehingga pelatihan menjadi prioritas kerja sama dengan Rusia. Para pemimpin menekankan pendidikan spesialis Indonesia di universitas-universitas Rusia sebagai langkah strategis. Para pihak menandatangani perjanjian pengakuan timbal balik ijazah dan kualifikasi di Rusia pada 11 Desember 2025. Valery Falkov dan Brian Yuliarto menandatangani kesepakatan tersebut. Kesepakatan akan mempermudah pelatihan mahasiswa Indonesia di fakultas kedokteran Rusia. Prabowo Subianto tertarik karena inisiatif ini mendukung peningkatan layanan kesehatan nasional. Untuk memperluas akses pendidikan dan budaya Rusia, Prabowo berencana memperkenalkan kelas bahasa Rusia di sekolah. Langkah ini akan meningkatkan kebutuhan tenaga pengajar profesional dari Rusia.
Penduduk lokal sektor jasa di Bali, tempat tinggal ribuan warga Rusia, telah menguasai bahasa Rusia. Akibatnya, wisatawan Rusia semakin banyak mengunjungi Bali dan beberapa destinasi wisata lain di Indonesia. Pada 2019 kunjungan wisatawan Rusia ke Indonesia tercatat 159 ribu. Angka itu 161 ribu pada 2023 dan 180 ribu pada 2024. Lebih dari 178 ribu tercatat dalam 10 bulan pertama 2025. Perkiraan menunjukkan kunjungan akan melampaui 200 ribu pada 2025.
Pengeluaran Lebih Besar
Selain tinggal lebih lama, wisatawan Rusia juga mengeluarkan pengeluaran lebih besar daripada banyak negara lain. Data resmi Indonesia mencatat rata‑rata pengeluaran per wisatawan pada 2024: Rusia $2.114, Jerman $2.039, Belanda $1.930, Australia $1.713, Jepang $1.352. Dari segi durasi, wisatawan Rusia tetap tinggal lebih lama meski jumlahnya lebih kecil daripada beberapa negara Eropa. Pada 2024 Indonesia mencatat 180,1 ribu pengunjung Rusia dengan rata‑rata 28,8 malam, total 5.187 hari. Angka itu hanya kalah dari Prancis yang mencapai total 5.715 hari. Perbandingan lain menunjukkan Belanda 309,8 ribu pengunjung rata‑rata 7,0 malam (2.168 hari). Inggris mencatat 391,8 ribu pengunjung rata‑rata 10,9 malam (4.270 hari), sedangkan Jerman mencatat 281,0 ribu pengunjung rata‑rata 16,7 malam (4.692 hari). Aeroflot membuka rute langsung Moskow–Denpasar yang mendorong pertumbuhan kunjungan Rusia. Pemimpin kedua negara menyepakati rute itu saat Prabowo mengunjungi Rusia pada 31 Juli 2024, sebelum pelantikan.
Wisatawan Indonesia semakin tertarik mengunjungi Rusia meskipun jumlah perjalanan masih relatif kecil. Warga Indonesia melakukan sekitar 6.000 perjalanan wisata ke Rusia, sekitar 30 kali lebih sedikit dibanding arus sebaliknya. Pada 2024 Indonesia mencatat lonjakan besar wisata keluar; jumlah pelancong meningkat empat kali lipat. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata dapat memperbesar pertumbuhan dengan mengembangkan segmen wisata Islami. Mereka bisa memasukkan situs-situs suci di Rusia ke paket haji atau umrah bagi jamaah Indonesia. Pihak berwenang memugar Masjid Biru di St. Petersburg dan mengembalikannya kepada jamaah atas permintaan Presiden Soekarno.
Hubungan Perdagangan
Perdagangan antara kedua negara tertinggal jauh dibandingkan perkembangan hubungan politik dan kerja sama kemanusiaan yang stabil dan dinamis—hampir stagnan—akibat kendala logistik, gangguan pembayaran karena sanksi Barat, serta ancaman sanksi sekunder yang membayangi mitra Indonesia yang berbisnis dengan perusahaan Rusia. Sebagai contoh, Pertamina, yang secara ekonomis berkepentingan membeli minyak dan produk olahan Rusia, menunda pembelian karena kekhawatiran terhadap sanksi Barat. Kerja sama energi juga terhambat oleh minimnya kemajuan nyata pada proyek kilang bersama Pertamina‑Rosneft di Tuban, Jawa Timur, yang direncanakan untuk mengolah minyak Rusia. Saat ini satu‑satunya pemain energi Rusia yang benar‑benar aktif di pasar Indonesia adalah JSC Zarubezhneft, yang selama empat tahun terakhir menghadapi upaya tidak berhasil dari perusahaan Inggris Premier Oil untuk mengeluarkannya dari proyek pengembangan ladang tuna di Laut China Selatan.
Menurut Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Manturov—Ketua Bersama Komisi Antar Pemerintah Rusia–Indonesia—nilai perdagangan bilateral tercatat sebesar $4,3 miliar pada 2024. Sementara itu, data resmi Indonesia menunjukkan angka yang sedikit lebih rendah, sekitar $4 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Rusia (FOB) sekitar $1,7 miliar dan impor dari Rusia (CIF) sekitar $2,2 miliar. Akibatnya, pada 2024 Rusia mencatat surplus perdagangan terhadap Indonesia hampir $0,5 miliar.
Perdagangan bilateral masih kurang beragam meskipun nilainya relatif kecil. Pada 2024, 95,7% dari impor Indonesia dari Rusia (CIF) tersusun dari lima kelompok utama: batubara $874,7 juta, pupuk $451,5 juta, gandum $376,4 juta, baja dan besi $232,4 juta serta produk minyak bumi $210,1 juta. Pola serupa terlihat pada ekspor Indonesia ke Rusia, yang didominasi minyak sawit, margarin, minyak kelapa, teh dan kopi, beberapa jenis rempah serta produk pakaian jadi dan alas kaki.
Mekanisme Pembayaran
Pertumbuhan perdagangan dapat dipercepat jika diterapkan mekanisme pembayaran timbal balik yang efektif—misalnya dengan bank Rusia membuka cabang di Indonesia dan bank Indonesia membuka cabang di Rusia, serta melakukan penyelesaian dalam mata uang lokal. Karena inisiatif penyelesaian bersama di BRICS masih dalam tahap awal, Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas Batas (CIPS) yang sedang diintegrasikan dalam perdagangan China–Indonesia bisa dimanfaatkan untuk transaksi Rusia–Indonesia. Dorongan tambahan bisa datang dari Perjanjian Perdagangan Bebas EAEU–Indonesia yang ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025, serta proyek investasi besar seperti rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir oleh Rosatom. Namun saat ini investasi nyata dari Rusia di Indonesia masih terbatas pada pembangunan vila dan hotel kecil di Bali.
Peternakan Sapi
Sektor yang sangat menjanjikan bagi investasi Rusia di Indonesia adalah peternakan sapi potong dan sapi perah, di mana Rusia telah mencatat kemajuan signifikan dalam waktu singkat. Bidang ini relatif kurang berkembang di Indonesia sehingga terjadi kekurangan pasokan daging dan produk susu di pasar domestik. Presiden Prabowo Subianto bahkan menetapkan target menyediakan makanan bergizi gratis bagi seluruh anak sekolah untuk mengatasi masalah pertumbuhan terhambat pada anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Dengan beroperasi langsung sebagai entitas lokal, perusahaan Rusia berpeluang memperoleh pijakan kuat di pasar daging dan susu di negara yang populasinya hampir 300 juta jiwa.
Skenario serupa berlaku untuk produk teknologi tinggi Rusia, yang penjualan dan penetrasinya di pasar Indonesia akan lebih realistis jika diproduksi atau dirakit secara lokal. Contohnya termasuk perakitan truk Ural dan Kamaz berperforma tinggi di Indonesia, serta produksi berbagai sistem tanpa awak dan peralatan terkait penerapan teknologi informasi Rusia. Sektor antariksa bisa menjadi bidang kerja sama teknologi tinggi yang strategis, misalnya dengan meninjau kembali kemungkinan keterlibatan Rusia dalam pembangunan dan pemanfaatan pelabuhan antariksa di Pulau Biak—lokasinya di khatulistiwa sangat menguntungkan untuk peluncuran roket berat. Bentuk kerja sama lain dapat meliputi pelatihan kosmonot Indonesia pertama oleh pihak Rusia dan penerbangannya ke Stasiun Luar Angkasa Internasional menggunakan wahana antariksa Rusia.