Pulp: Ancaman yang Mempercepat Kehancuran Hutan Dunia

manusia menebang 100 juta

Setiap tahun manusia menebang sekitar 100 juta pohon untuk menghasilkan bubur kertas larut. Mereka menggunakan bubur kertas ini dalam berbagai produk, termasuk pakaian, pasta gigi, dan makanan.

Pulp larut mengancam kelestarian hutan. Industri ini terus berkembang secara global. Pertumbuhannya menimbulkan bahaya bagi hutan yang sudah terancam punah.

Mungkin istilah pulp larut terdengar asing bagi Anda, namun hal ini bukan berarti tidak memiliki keterkaitan dengannya.

Pulp larut merujuk pada pulp kayu, bambu atau kapas yang memiliki kadar selulosa di atas 90%. Industri memanfaatkan sebagian besar pulp di tahap hilir sebagai serat viscose. Mereka kemudian mengolahnya menjadi tekstil seperti rayon, viscose, modal, dan tencel—material yang mungkin sedang Anda kenakan sekarang.

Ledakan Industri Berdampak Buruk bagi Hutan

Pada tahun lalu, produksi pulp larut di dunia mencapai 6,3 juta ton. Industri pakaian menggunakan sekitar lima juta ton pulp larut setiap tahun. Produsen lain memanfaatkannya untuk produk seperti filter rokok, pasta gigi, kertas post-it, dan bahan tambahan makanan. Ketika produsen mencantumkan selulosa dalam daftar bahan makanan, yang mereka maksud biasanya adalah pulp larut.

Nicole Rycroft, Direktur Eksekutif Canopy, menyatakan industri mode menggunakan sebagian besar pulp larut untuk membuat pakaian mewah. Ia memprediksi pasar global pulp larut akan tumbuh dua kali lipat pada tahun 2050. Karena itu, Canopy dan Rainforest Action Network meluncurkan kampanye menyoroti keterkaitan kerusakan hutan akibat produksi pulp larut dengan industri mode kelas atas.

Rycroft menyatakan bahwa saat ini terjadi lonjakan kapasitas yang sangat besar. Hal ini membawa satu konsekuensi bagi hutan-hutan terancam punah di berbagai belahan dunia. Dampaknya juga menimpa spesies yang berada di ambang kepunahan. Konsekuensi tersebut jelas tidak menguntungkan bagi kelestarian lingkungan.

Rycroft menjelaskan bahwa menurut estimasi Canopy, manusia menebang sekitar 100 juta pohon setiap tahun. Mereka menghasilkan pulp larut dari pohon tersebut. Setelah itu, mereka mengolah pulp larut menjadi bahan pakaian.

Yang lebih memprihatinkan, pemanfaatan pohon untuk menghasilkan pulp larut tergolong sangat boros. Proses produksi pulp larut rata-rata hanya menghasilkan sekitar 35% berat kering dari total kayu yang mereka gunakan.

Rycroft menjelaskan bahwa produsen kertas koran menggunakan 10 pohon dan menghasilkan setara dengan sembilan pohon. Namun, ketika mereka memproses 10 pohon untuk membuat pulp larut, hanya sekitar 3,5 hingga 4 pohon yang menjadi produk akhir, sedangkan sekitar 60% sisanya berubah menjadi limbah.

Industri yang Terkonsentrasi

Karena tingkat hasilnya sangat rendah, perusahaan yang membangun pabrik pulp larut di dekat sumber kayu memperoleh keuntungan besar. Itulah mengapa negara-negara dengan kekayaan hutan menjadi produsen utama pulp larut di dunia.

Afrika Selatan, Kanada, Amerika Serikat, Brasil dan Swedia merupakan lima negara pengekspor pulp larut terbesar, dengan volume masing-masing mencapai ratusan ribu ton pada tahun 2012. Sebagian besar fasilitas produksi pulp larut dunia memang berlokasi di negara-negara tersebut. Di Amerika Utara saja terdapat tujuh pabrik, yang berdiri di dekat hutan konifer di kawasan Pasifik Barat Laut AS serta hutan Boreal di British Columbia dan Alberta. Selain itu, Brasil memiliki sedikitnya dua pabrik di wilayah Amazon, sementara Swedia menampung satu pabrik.

Perusahaan penebangan tidak mengungkapkan data detail mengenai hutan yang mereka tebang untuk produksi pulp larut, sehingga informasi sulit kita peroleh. Namun, Global Forest Watch mencatat bahwa Afrika Selatan, salah satu eksportir utama pulp larut dunia, telah kehilangan sekitar 17% tutupan hutannya sejak 2012. Angka ini setara dengan hampir 860.000 hektare dari total 5 juta hektare hutan.

Negara Pengimpor

Walaupun Indonesia tercatat sebagai negara pengimpor bersih karena besarnya industri tekstil domestik, produksi pulp larut di dalam negeri terus mengalami peningkatan. Selama ini perhatian banyak tertuju pada dampak perkebunan kelapa sawit terhadap hutan, namun kenyataannya perkebunan serat menyumbang deforestasi yang lebih besar. Artikel terbaru di Conservation Letters menyebutkan bahwa perkebunan serat telah menyebabkan hilangnya sekitar 1,9 juta hektare hutan, jumlah yang jauh lebih besar daripada sekitar satu juta hektare hutan yang hilang akibat ekspansi kelapa sawit.

Saat ini, Indonesia menempati posisi sebagai negara dengan tingkat deforestasi tahunan tertinggi di dunia. Sebuah penelitian dari Universitas Maryland mencatat bahwa pada tahun 2012 saja, sekitar 840.000 hektare hutan primer hilang, meskipun pemerintah telah menyatakan komitmen kuat untuk menekan laju deforestasi.

Toba Pulp Lestari memproduksi pulp larut, tetapi para aktivis Rainforest Action Network menggolongkan perusahaan ini sebagai salah satu aktor paling bermasalah dalam industri pulp dan kertas. Mereka menuduh TPL melanggar hak asasi manusia melalui praktik ketenagakerjaan di perkebunannya serta menyebabkan deforestasi dan hilangnya habitat satwa terancam punah, termasuk orangutan Sumatra.

Sama seperti TPL yang mengelola konsesi hutan untuk memasok kebutuhan pabriknya, industri pulp larut secara keseluruhan bersifat terintegrasi dan sangat terkonsentrasi secara vertikal. Hanya lima perusahaan besar—Aditya Birla Group, Lenzing, Rayonier, Sappi dan Sateri—yang mengendalikan sekitar 54,5% dari total produksi pulp larut dunia.

Pertumbuhan Didorong oleh China

Pertumbuhan industri ini sebagian besar dipicu oleh lonjakan harga kapas, yang melonjak tajam pada 2010 dan 2011 akibat kegagalan panen secara luas. Karena pulp larut berbahan kayu dapat menjadi alternatif yang efektif bagi kapas, permintaan pun meningkat dan harga ikut terdongkrak. Selain itu, dengan pasar kertas yang sudah jenuh, banyak perusahaan mulai mencari peluang diversifikasi.

Namun, pendorong utama pertumbuhan industri pulp larut kemungkinan besar berasal dari China.

Lonjakan permintaan pulp larut erat kaitannya dengan meningkatnya kebutuhan serat viscose. Antara tahun 2004 hingga 2012, produksi serat viscose dunia naik hingga 84%. Dalam periode yang sama, kontribusi China terhadap produksi global melonjak dari 38% menjadi 61%. Pada 2012, negara tersebut mengimpor hampir 1,7 juta ton pulp larut, sebagian besar untuk diolah menjadi serat viscose—wajar mengingat besarnya industri tekstil China yang menjadi konsumen utama serat tersebut.

Permintaan serat viscose di China diperkirakan akan terus meningkat sekitar 10% ke depan, yang secara otomatis akan mendorong naiknya kebutuhan pulp larut. Berbagai langkah kini ditempuh untuk memastikan ekspansi industri ini tidak menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada hutan-hutan yang terancam punah, termasuk komitmen sejumlah perusahaan mode untuk menyingkirkan serat yang berasal dari praktik perusakan hutan. Harapannya, upaya tersebut tidak datang terlambat.

Visited 8 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *