Publik Berhak Tahu Proyek Perkebunan Tertutup Papua Barat

Grup Salim mengakuisisi konsesi

Ada korpus bukti meyakinkan bahwa Grup Salim mengakuisisi dan mulai mengembangkan konsesi kelapa sawit di Papua Barat. Akibatnya, perusahaan dapat mengalihfungsikan sekitar 117.000 hektare hutan dan padang rumput menjadi perkebunan.

Grup Salim, melalui Indofood Agri Resources, adalah konglomerat besar dan peringkat ketiga produsen CPO swasta. Musim Mas, Wilmar, dan Sinar Mas membatalkan ekspansi Papua karena komitmen no-deforestation dan larangan lahan gambut; Salim belum berkomitmen.

Peneliti menduga empat konsesi perkebunan di Papua Barat berafiliasi dengan Grup Salim; beberapa konsesi sudah beroperasi. PT Rimbun Sawit Papua memulai aktivitasnya pada akhir 2015. Organisasi lingkungan meyakini PT Subur Karunia Raya mendirikan nursery kelapa sawit. Laporan menyebut PT Bintuni Agro Prima Perkasa menanam komoditas pangan untuk memperoleh dukungan komunitas adat lokal. PT Menara Wasior masih mengurus proses perizinan.

Pemeriksaan akta kepemilikan empat perusahaan menunjukkan semuanya memakai alamat yang terkait Grup Salim. Banyak anggota direksi memiliki pengalaman di perusahaan lain dalam grup. Pemilik tidak membentuk perusahaan-perusahaan itu sebagai anak perusahaan Indofood Agri Resources yang tercatat di Bursa Singapura. Mereka juga bukan entitas publik Grup Salim lain, termasuk Salim Ivomas Pratama, London Sumatra, atau First Resources.

Indikasi signifikan menunjukkan entitas cangkang yang Anthony Salim kendalikan memegang kepemilikan konsesi perkebunan ini. Laporan menyebut Salim Group memiliki aset perkebunan di luar perusahaan tercatat, dan grup itu sebelumnya mengkonsolidasikannya ke entitas utama.

Indo Agri lebih kebal terhadap tekanan pasar internasional soal deforestasi karena pasar domestik kuat dan terhubung ke bisnis makanan Salim. Indo Agri berupaya membangun citra bertanggung jawab dengan bergabung RSPO dan menerbitkan laporan keberlanjutan rinci. Namun jika grup memanfaatkan struktur kepemilikan tidak transparan untuk melindungi perkebunan bermasalah, langkah itu berisiko jadi greenwashing.

Berikut uraian singkat tiap perkebunan dan ringkasan bukti yang mengaitkan kepemilikannya dengan Grup Salim:

Rimbun Sawit Papua

Profil

Peneliti memperkirakan aktivitas konsesi ini perusahaan mulai sekitar 2015 di area transmigrasi Bomberay, Kabupaten Fakfak. Foto satelit Februari 2016 menunjukkan struktur jalan yang membentang luas di barat daya konsesi. Meskipun sebagian kawasan masih berhutan, sabana dan padang rumput mendominasi, bentang alam yang jarang di Papua Barat. Analisis menunjukkan lapisan gambut dalam di sepanjang Sungai Otaweri dan rawa-rawa utara konsesi.

Peneliti tidak menemukan laporan perselisihan antara masyarakat adat lokal dan perusahaan. Perusahaan menunjuk Sinar Utama sebagai agen perekrutan 1.200 pekerja laki-laki dari Jawa untuk perkebunan baru. Peneliti belum mengidentifikasi dampak demografis dari perpindahan tenaga kerja ini.

Kaitan dengan Grup Salim

Jeff Setiawan Winata, pengusaha Bandung berpengalaman di Papua Barat, mendirikan PT Rimbun Sawit Papua pada 2010. Kemudian pada 2011 PT Palmandiri Plantation mengakuisisi 30% saham, dan PT Sawit Timur Nusantara mengambil 50% saham.

Perusahaan cangkang tampak memiliki kedua entitas tersebut. PT Cahaya Agro Pratama mengendalikan PT Palmandiri Plantation. Perusahaan mencatat alamat di Jalan Ahmad Yani Kav. 23 No. 15, Jakarta. Alamat tersebut terkait dengan PT Kayu Lapis Asli Murni, unit kayu lapis Salim Group. PT Kalamur mengoperasikan pabrik kayu lapis di Samarinda, Kalimantan Timur. Meskipun direktori online sering mencantumkan alamat Jalan Ahmad Yani, PT Kalamur tidak menggunakan alamat itu secara resmi. PT Mulia Abadi Lestari memiliki 90% saham PT Sawit Timur Indonesia. Penelusuran tidak mengungkap struktur kepemilikan PT MAL, namun kedua perusahaan mendaftar di Kompleks Duta Merlin. Berbagai bisnis Salim Group menggunakan alamat berbeda di kompleks tersebut. Pada 2007 Salim Ivomas Pratama mengakuisisi PT Mitra Inti Sejati dari PT MAL.

Dewan direksi PT Rimbun Sawit Papua terdiri dari orang-orang yang pernah menjabat di perusahaan Grup Salim. Wiandi Halisantoso bekerja di PT Rimba Mutiara Kusuma, dan Rapman Hutabarat menjabat sebagai Direktur PT Palmulya Selaras Abadi. PT Palmulya Selaras Abadi mendaftar di alamat yang terkait dengan Grup Salim dan sebelumnya memegang izin di Jayapura. Pemerintah mencabut izin perusahaan itu, lalu pada 2011 mengalihkan konsesinya ke perusahaan Grup Musim Mas. Grup Musim Mas akhirnya membatalkan rencana pengembangan wilayah tersebut.

PT Bintuni Agro Prima Perkasa

Profil

PT Bintuni Agro Prima Perkasa memegang konsesi di Lembah Kebar, barat Manokwari, sejak 2009. Pemilik baru mengakuisisi perusahaan pada Juli 2014 setelah perusahaan sempat tidak aktif beberapa tahun. Pada 29 September tahun itu, hari terakhir Zukifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan, ia menandatangani izin final pelepasan 19.369 hektare.

Menurut aktivis hutan lokal yang telah berbicara dengan pegawai perusahaan, aktivitas perusahaan berlangsung di kawasan Desa Jandurau. Menurut laporan, dalam 12 bulan terakhir perusahaan menanam sekitar 20 ha komoditas: jagung, kedelai, dan kacang tanah. Perusahaan menanam komoditas itu sebagai paket insentif untuk memperoleh persetujuan masyarakat adat pemilik hak tanah. Persetujuan tersebut terkait rencana pengembangan kebun sawit berdasarkan hukum adat setempat.

Terletak kira-kira 100 kilometer barat dari Kota Manokwari pada koridor jalan Sorong–Manokwari, Lembah Kebar memiliki bagian bawah lembah yang masyhur akan ekosistem padang rumputnya. Masyarakat setempat mengenal kawasan tersebut sebagai habitat umum tanaman obat Biophytum petersianum Klotzsch.

Kaitan dengan Grup Salim

Sejak transaksi pembelian pada tahun 2014, 99,6% kepemilikan berada pada PT Cahaya Agro Pratama, yang turut mengendalikan kepemilikan signifikan di PT Rimbun Sawit Papua. Gunawan Sumantri selaku Direktur Utama pada 2014 menjabat Direktur Operasional Perkebunan PT Gunta Samba Jaya yang berafiliasi dengan Salim Group. Sebelumnya, Daud menjabat sebagai komisaris di PT Mega Citra Perdana, PT Gunta Samba, dan PT Multi Pacific International, yang kemudian terkonsolidasikan ke dalam PT Salim Ivomas Pratama. Di jajaran komisaris, Wiandi Halisantoso juga merangkap Direktur Utama PT Rimbun Sawit Papua.

PT Subur Karunia Raya

Profil

Konsesi PT Subur Karunia Raya yang berada di kawasan berhutan di utara Kota Bintuni memperoleh izin prinsip pencabutan status hutan negara pada 2011. Sumber yang belum terkonfirmasi melaporkan bahwa pihak terkait memulai pekerjaan pembibitan kelapa sawit menjelang akhir 2015, namun pihak berwenang belum memberikan informasi terbaru mengenai kondisi saat ini.

Kaitan dengan Grup Salim

PT Mulia Abadi Lestari membeli perusahaan ini pada 2010 dan sekarang memegang 99,6% saham; Rapman Hutabarat memegang sisa saham dan tercatat sebagai pengurus PT Rimbun Sawit Papua. Gunawan Sumantri, yang menjabat Presiden Direktur PT Bintuni Agro Prima Perkasa, memegang posisi yang sama di PT Subur Karunia Raya. Di jajaran komisaris, Hanan Lukitanto pernah menjadi Presiden Direktur PT Sawit Murni Sejahtera—perusahaan yang terdaftar pada alamat lain milik Grup Salim di Kompleks Duta Merlin—sedangkan Daniel Harianto pernah bekerja di anak usaha SIMP, PT Gunta Samba.

PT Menara Wasior

Profil

PT Menara Wasior memegang izin perkebunan kelapa sawit seluas 28.280 hektare yang berlokasi di kawasan hutan Kecamatan Naikere dan Kuriwamesa, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Pengembangan proyek berjalan lebih lambat daripada tiga konsesi lainnya karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan belum menerbitkan izin pelepasan kawasan hutan. Sementara itu, organisasi masyarakat sipil belum berhasil memperoleh data batas konsesi yang akurat.

Perwakilan Suku Mairasi dan Miere menyampaikan keberatan/penolakan atas rencana perusahaan dalam konsultasi publik yang berlangsung April 2015.

Sejarawan dan aktivis sering mengutip Peristiwa Wasior 2001 sebagai rujukan penting karena Komnas HAM mengkategorikannya sebagai pelanggaran HAM berat. Di wilayah tersebut, jejak dampak sosial masa lalu masih terlihat, bersamaan dengan dinamika terkini di sektor kehutanan.

Kaitan dengan Grup Salim

Jeff Setiawan Winata mendirikan PT Menara Wasior, sama seperti pendirian PT Rimbun Sawit Papua. Pada Desember 2014 dan Januari 2015, perusahaan memindahkan alamatnya ke lokasi PT Kayu Lapis Asli Murni, dan PT Bumi Surya Kencana mengambil alih sebagai pemegang saham utama. Direksi dan komisaris memperlihatkan keterlibatan individu‑individu yang sebelumnya terkait dengan dugaan entitas Grup Salim, walau informasi pemilik PT Bumi Surya Kencana masih belum jelas. Rapman Hutabarat (Presiden Direktur) dan Fransiskus Xaverius Purwanto (Direktur) tercatat pernah menjabat sebagai direktur pada pemegang izin di Jayapura: PT Palmulya Selaras Abadi dan PT Putra Palma Cemerlang. Di jajaran komisaris, Paul Agus Christianto—yang pada profil Facebook menyebut bekerja di PT Kayu Lapis Asli Murni—juga terkait dengan PT Surya Palma Cemerlang, entitas lain yang pernah memperoleh izin di Jayapura.

Meskipun bukti belum membuktikan secara final bahwa Anthony Salim atau keluarganya memiliki langsung keempat entitas tersebut, sejumlah temuan kuat menunjukkan adanya hubungan.

  • Jejak digital yang sangat terbatas mengindikasikan bahwa entitas yang tampak sebagai perusahaan fiktif/cangkang memiliki tiga dari empat perusahaan. Kontraktor bangunan yang sejauh ini belum teridentifikasi memiliki perusahaan terakhir, dan perusahaan itu menjalankan aktivitas perkebunan sawit
  • Personel kunci di seluruh perkebunan menunjukkan keterkaitan dengan perusahaan‑perusahaan Grup Salim. Beberapa dari mereka pernah bekerja di PT Kayu Lapis Asli Murni, yang terkenal sebagai bagian dari Grup Salim; yang lain bekerja di PT Gunta Samba dan aset perkebunan Grup Salim lain di Kalimantan. Sebagian lainnya pernah menjabat direktur pada sejumlah konsesi di Distrik Jayapura dan Sarmi, dan pemerintah mencabut izin-izin itu pada 2011 karena klaim tumpang tindih
  • Alamat terdaftar milik keempat perusahaan beserta pemegang saham utamanya umumnya berada pada lokasi yang tampaknya terkait dengan Grup Salim. Sebagian dapat ditelusuri ke Kompleks Perkantoran Duta Merlin, tempat banyak perusahaan grup tersebut berkantor. Alamat lainnya berada di area penyimpanan kayu milik PT Kayu Lapis Asli Murni

Hubungan Dekat

Sebaiknya kita mengkaji lebih rinci keterkaitan antara dua perkebunan di Kalimantan, yaitu PT Gunta Samba dan PT Gunta Samba Jaya, karena kasus ini memperlihatkan hubungan dekat antara entitas Grup Salim yang tercatat di bursa dan yang dimiliki secara privat. PT Gunta Samba dibeli oleh Salim Ivomas Pratama pada 2007 dari Rascal Holdings Limited, sebuah perusahaan terdaftar di British Virgin Islands yang dimiliki oleh Anthony Salim. Sementara itu, PT Gunta Samba Jaya—bersama beberapa perusahaan Grup Salim lain yang memiliki konsesi di sekitar Kutai Timur, Kalimantan Timur—tidak termasuk dalam transaksi tersebut. Saat ini pemilik PT Gunta Samba Jaya tercatat sebagai PT Andhika Wahana Putra; meskipun akta perusahaannya tidak tersedia untuk menelusuri hubungan lebih lanjut dengan Rascal Holdings Limited, diketahui bahwa jaringan supermarket Salim, Indomaret, telah menanamkan modal melalui pembelian obligasi konversi senilai Rp428 miliar yang nantinya akan dikonversi menjadi saham.

Walau secara hukum PT Gunta Samba merupakan bagian dari Salim Ivomas Pratama dan PT Gunta Samba Jaya tidak, kedua perusahaan tetap menunjukkan keterkaitan kuat. Keduanya tercatat di alamat yang sama di kompleks perkantoran Duta Merlin—menurut data AHU di Kompleks Duta Merlin Blok B No. 22, sedangkan Direktori Perkebunan BPS mencantumkan alamat Kompleks Duta Merlin Blok C No. 56-57, yang juga merupakan alamat salah satu pemegang saham PT Rimbun Sawit Papua, PT Sawit Timur Nusantara. Dalam komunikasi publik seperti iklan lowongan kerja, kedua perusahaan sering menampilkan diri sebagai bagian dari Grup Gunta Samba atau Grup Indo Gunta; misalnya pada Agustus 2015 ada iklan untuk posisi di Kalimantan dan Papua Barat yang menggunakan kop surat PT Gunta Samba. Namun tidak ada entitas yang tercantum sebagai anak perusahaan SIMP yang menjalankan perkebunan di Papua Barat, sehingga kemungkinan besar posisi tersebut ditempatkan di PT Rimbun Sawit Papua atau PT Subur Karunia Raya.

Menuai Kecaman

PT Gunta Samba Jaya menuai kecaman pada 2013 karena membersihkan habitat orangutan di Kalimantan. Ketika Pusat Perlindungan Orangutan menindaklanjuti kasus itu melalui mekanisme RSPO—dengan asumsi PT Gunta Samba Jaya terkait dengan anak perusahaan Indofood Agri dan anggota RSPO PT Gunta Samba—bos Indofood Agri, Mark Wakeford, mengirim email singkat yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki saham di PT Gunta Samba Jaya dan ini bukan bagian dari IndoAgri atau Grup SIMP. Ada laporan bahwa Indofood Agri bertemu konservasionis dan berjanji menghentikan pekerjaan sementara menyusun rencana pengelolaan, namun setahun kemudian anak perusahaan tidak resmi lain dengan konsesi berdekatan juga ditemukan merusak habitat orangutan. Tekanan komersial untuk memperbaiki praktik terkait deforestasi, pengembangan lahan gambut, dan eksploitasi masyarakat membuat citra etis menjadi penting agar perusahaan tidak kehilangan pelanggan dan investor; Dana Pensiun Pemerintah Norwegia Global bahkan mendivestasikan First Pacific, perusahaan payung publik Grup Salim, dengan alasan kerusakan lingkungan yang dilakukan Indo Agri.

Grup Salim tampaknya merespons tantangan ini dengan memilah aset perkebunan yang dimasukkan ke bisnis tercatat dan menempatkan konsesi bermasalah di balik lapisan perusahaan cangkang dan lepas pantai. Di Kalimantan, beberapa perusahaan tersembunyi itu ditemukan melakukan penggusuran habitat orangutan yang terancam punah, tindakan yang sangat merusak reputasi perusahaan. Empat konsesi di Papua, tempat pekerjaan baru dimulai sekarang, juga diperkirakan akan menyebabkan deforestasi besar‑besaran dan potensi konflik dengan masyarakat adat. Indo Agri, First Pacific, dan merek Indofood harus dianggap bertanggung jawab atas masalah apa pun yang mereka ciptakan.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *