Primata cepat memilih lokasi tidurnya, tetapi peneliti belum sepenuhnya memahami alasan spesies monyet memilih pohon tertentu. Dua studi terbaru yang mendalam mengungkapkan bahwa faktor unik lokasi dan spesies memengaruhi pemilihan pohon bermalam. Beberapa monyet memilih pohon tertentu sebagai tempat istirahat, dan pilihan itu kadang memicu konflik dengan manusia.
Fany Brotcorne, peneliti primata, menegaskan bahwa kita harus memahami kebutuhan tidur monyet untuk mengetahui aspek yang perlu mendapat pelestarian. Ia berasal dari University of Liège, Belgia, dan memimpin salah satu tim penelitian tentang primata.
Saat menentukan lokasi untuk bermalam, monyet tidak hanya mengutamakan kenyamanan. Para ilmuwan menduga bahwa berbagai faktor turut memengaruhi pilihannya, seperti perlindungan dari ancaman predator, kedekatan dengan sumber makanan, tingkat interaksi dengan manusia, keberadaan serangga pengganggu dan kompetisi dengan sesama primata.
“Meski primata bisa menghabiskan waktu hingga 12 jam di tempat tidurnya, pengetahuan kita tentang perilakunya saat tidur masih sangat terbatas,” ungkap Adrian Barnett, seorang ahli primatologi dari University of Roehampton, London, yang tidak berpartisipasi dalam studi terbaru ini.
Dua studi independen meneliti perilaku primata di berbagai pulau di Indonesia. Di Taman Nasional Bali Barat, Bali, Fany Brotcorne memimpin tim yang mengamati monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), spesies yang berkembang pesat, selama 56 malam. Sementara itu, di Kalimantan Barat, primatolog Katie Feilen dari University of California, Davis, meneliti kebiasaan tidur bekantan (Nasalis larvatus), spesies yang kini terancam punah, selama 132 malam.
Kedua tim mencatat karakteristik ukuran dan bentuk pohon yang menjadi favorit monyet untuk bermalam. Brotcorne memimpin tim yang menganalisis kedekatan lokasi tidur monyet dengan titik aktivitas manusia, seperti kuil, area wisata, dan jalanan.
Pohon Tinggi
Setiap malam, bekantan memilih untuk kembali ke pohon-pohon tinggi yang terpencil di sekitar aliran sungai. Menurut Feilen, primata ini cenderung berkumpul di cabang-cabang pohon yang menjulur di atas kanopi sebagai strategi untuk menghindari predator dan serangga. Keberadaan cabang yang tidak saling menyentuh membuat predator kesulitan menjangkaunya. Selain itu, posisi bertengger yang tinggi dan terkena angin membantu bekantan menghindari gigitan nyamuk pembawa malaria, yang umumnya menetap di bagian dalam tajuk pohon.
Feilen menegaskan bahwa faktor-faktor seperti ekologi serangga dan penyebaran penyakit lebih signifikan memengaruhi persoalan dalam studi primatologi daripada yang selama ini kita bayangkan.
Monyet-monyet ekor panjang itu memilih berdiam di pepohonan dekat area yang manusia modifikasi. Brotcorne menduga ketersediaan makanan mendorong pilihan monyet-monyet tersebut untuk menetap di lokasi tidur. Selama puncak musim turis, monyet-monyet ini merayap mendekati kuil Hindu dan kawasan wisata yang menyediakan buah, nasi, dan kerupuk. Mereka berpindah tepat ketika mulai musim kemarau dan produksi buah alami menurun. Kedua tim melaporkan temuan mereka secara berdampingan bulan ini di American Journal of Primatology.
Kedua penulis utama menegaskan bahwa berbagai faktor evolusi memengaruhi preferensi pohon tidur primata, bukan satu kekuatan tunggal.
Barnett menyatakan bahwa kedua makalah tersebut memiliki peran krusial dalam menyoroti nilai strategis lokasi tidur dalam studi ekologi primata. Ia menambahkan bahwa para peneliti perlu mengumpulkan data lebih luas untuk merumuskan teori umum tentang pemilihan pohon sebagai tempat bermalam.
Perbedaan lokasi tidur yang dipilih kedua spesies primata membentuk pola interaksi mereka dengan manusia. Feilen menjelaskan bahwa bekantan memilih pohon-pohon tinggi di sepanjang sungai sebagai tempat favorit, tetapi penebangan sering menyasar pohon tersebut sehingga mengancam kelestarian habitatnya. Aktivitas perusahaan pertambangan dan kelapa sawit juga menekan populasi bekantan melalui deforestasi. Lokasi tidur yang tetap dan mudah diprediksi membuat pemburu lokal lebih mudah menemukan primata ini.
Aktivitas Manusia
Di wilayah yang telah lama mengalami perubahan akibat aktivitas manusia, kera dan manusia telah berbagi ruang dan sumber daya selama berabad-abad. Namun, menurut Brotcorne, kedekatan interaksi antara keduanya menimbulkan kekhawatiran karena adanya potensi penularan penyakit secara timbal balik. Ia juga menambahkan bahwa makanan manusia kurang cocok dikonsumsi oleh kera dari segi kesehatan.
Menurut Brotcorne, monyet yang hidup di kawasan wisata sering kali tampak gemuk karena terbiasa menerima makanan dari pengunjung.