Menurut laporan eMarketer terbaru, pengguna smartphone naik dari 55 juta (2015) menjadi 92 juta (2019). Indonesia kini menjadi pasar smartphone terbesar ketiga di Asia Pasifik setelah China dan India. Total pengguna smartphone di kawasan ini telah melampaui satu miliar.
Lee Kang, Wakil Ketua APSI, menyatakan pertumbuhan pengguna smartphone berkisar 30–50% per tahun. Faktor pendorongnya adalah ketersediaan perangkat 4G yang terjangkau dan pengembangan jaringan 4G. Perkembangan kelas menengah meningkatkan penggunaan smartphone untuk e‑commerce, video call dan streaming. Ia memproyeksikan mayoritas populasi akan menjadi pengguna smartphone dalam dua tahun.
Tjandra Lianto, Marketing Manager Advan Mobile, menyatakan bahwa setiap tahun terjual sekitar 4,5 juta smartphone. Ia memperkirakan penjualan akan naik karena percepatan ekonomi dan meningkatnya daya beli. Ia menambahkan bahwa smartphone kini menjadi media penting untuk menyimpan data pribadi dan perusahaan.
Ia mengungkapkan bahwa, daripada negara maju, warga di negara berkembang masih menggunakan smartphone secara terbatas karena mereka belum memahami fitur dan aplikasi ponsel pintar; mereka belum mengintegrasikan aktivitas online ke rutinitas sehari-hari dan masih memakai ponsel untuk panggilan serta pesan teks.
IDC mencatat Samsung (Korea Selatan) memimpin pasar smartphone dengan pangsa 24,8%, menyusul Asus (Taiwan) 15,9%, Smartfren (Indonesia) 10,8%, Advan 9,6%, dan Lenovo (China) 6,5%.
Ekspansi smartphone didorong rencana pemerintah membangun jaringan broadband ke 514 kabupaten/kota lewat proyek Palapa Ring pada 2019. Proyek mencakup pembangunan 11.000 km kabel fiber optik bawah laut yang terbagi menjadi bagian barat, tengah dan timur. Sementara pasar 4G di negara maju seperti AS dan Jepang sudah jenuh, Indonesia masih menjadi pasar baru yang menarik untuk 4G. Setelah India dan China, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang paling banyak belum tersambung internet.