Perdagangan Indonesia–Australia: Ketimpangan dan Risiko

langkah balasan setelah eksekusi

Tim Harcourt, pakar perdagangan UNSW, mengingatkan Australia agar tidak mengambil langkah balasan setelah eksekusi Bali Nine. Langkah balasan itu berpotensi merugikan kehidupan masyarakat Indonesia secara luas.

Tim Harcourt dari Sekolah Bisnis UNSW mengatakan hubungan bilateral Indonesia dan Australia bertahan dari krisis sebelumnya. Ia menyebut insiden bom Bali dan ketegangan kapal tidak menghancurkan hubungan kedua negara. Harcourt yakin hubungan akan tetap kuat meski eksekusi menimbulkan dampak. Ia menekankan hubungan harus mereka jaga demi kepentingan rakyat Indonesia. Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai mitra dagang utama bagi Australia. Harcourt meminta kecaman tegas terhadap tindakan eksekusi yang dianggap keji. Namun ia mengingatkan protes tidak boleh merugikan masyarakat Indonesia secara ekonomi. Ia mencatat hubungan diplomatik mungkin memburuk setelah Australia menarik duta besarnya. Penarikan itu menyusul eksekusi Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Harcourt khawatir warga Australia belum memahami risiko terhadap perdagangan dan lapangan kerja. Ia memperingatkan intervensi tidak bijak bisa mengancam stabilitas ekonomi.

Hubungan Dagang

Australia menjalin hubungan dagang yang sangat penting dengan Indonesia, mencakup nilai perdagangan barang sebesar $11,1 miliar dan jasa sebesar $3,3 miliar. Kolaborasi yang kuat juga terlihat di sektor agribisnis, infrastruktur dan konstruksi. Harcourt menambahkan agar tidak melupakan kontribusi jasa profesional di bidang pendidikan serta keterlibatan perusahaan besar seperti ANZ, Comm Bank, Leightons, Orica dan institusi TAFE. Ia menekankan bahwa hubungan ini terlalu berharga untuk diputuskan secara sepihak.

Sebanyak 2.584 perusahaan asal Australia tercatat melakukan ekspor ke Indonesia, jumlah yang relatif stabil selama lima tahun terakhir meskipun sempat terjadi beberapa ketegangan diplomatik. Selain itu, terdapat sekitar 150 perusahaan Australia yang beroperasi di Indonesia, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata antara 4 hingga 6% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Harcourt menegaskan bahwa penghentian bantuan atau penerapan sanksi perdagangan berisiko menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat Indonesia. Ia menyarankan agar setiap langkah yang diambil dipertimbangkan secara cermat. Menurutnya, banyak warga Indonesia yang sebenarnya menolak hukuman mati, sehingga tidak tepat jika seluruh negara dikenai konsekuensi. Ia juga menekankan pentingnya menghindari dampak ekonomi langsung yang dapat merugikan kelompok pekerja berpenghasilan rendah di Indonesia.

Visited 4 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *